Tiba di Abu Dhabi Airport pukul 23.45 waktu setempat atau sekitar pukul 02.45 WIB, yang langsung menarik perhatian saya adalah sebuah televisi besar di ruang tunggu dalam airport, di depannya puluhan orang tengah asik menyaksikan pertandingan piala dunia 2010, Jerman versus spanyol. Saya tidak tahu persis sudah berlangsung berapa lama pertandingan itu, tapi setahu saya sudah di menit-menit terakhir. dan seingat saya juga, kedudukan masih nol-nol bagi kedua kesebelasan.
Gumam saya, "ini baru nonbar -nonton bareng- piala dunia yang sebenarnya", bukan cuma soal jumlahnya yang lumayan banyak, namun penontonnya dari berbagai ras dan bangsa. Ada yang khas timur tengah dengan gamis dan kafiyahnya, ada yang bule-bule entah dari negara mana mereka, ada pula yang dari ras kuning, juga afrika.
Entah kenapa, yang saya perhatikan nyaris semua penonton mendukung tim spanyol, itu terlihat dari teriakan-teriakan mereka ketika pemain-pemain spanyol melakukan serangan, dan sebaliknya mereka kompak teriak "no no no..." saat pemain jerman yang balik menyerang. Mungkin tidak semua mendukung spanyol, mungkin saja pendukung jerman lebih memilih diam. dan ketika Puyol menyarangkan gol ke gawang jerman, serentak mereka lompat dan teriak gembira bersama-sama.
Sungguh, saya tidak ingin membahas lebih jauh soal sepak bola dan hiruk pikuk piala dunia. hanya saja, pemandangan di airport ini memberi saya inspirasi soal misi kemanusiaan. Bukankah Mavi Marmara juga dihuni oleh ratusan orang dari berbagai negara? ya, persoalan kemanusiaan adalah persoalan bersama. Perlu didukung bersama, tidak peduli apa agamanya, dari mana asalnya, apa warna kulitnya. Yang penting, ketika kezaliman terjadi, kejahatan kemanusiaan berlangsung, harus dilawan bersama.
Misi ACT ke Palestina adalah misi kemanusiaan yang oleh karena itu, perlu didukung bersama. Aliansi bersama Masyarakat Indonesia untuk Palestina sudah digagas, tinggal kita perlu beri dukungan lebih maksimal. Israel melakukan kejahatan kemanusiaan, dan sudah saatnya kita bersama-sama mendukung mereka yang dizalimi.
Ah, semoga apapun yang ada di sekitar kita selalu bisa memberi inspirasi kebaikan, termasuk piala dunia 2010. (gaw, dari abu dhabi)
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Sunday, July 11, 2010
ACT Road to Palestine; Pelepasan yang Mengharukan (bag 1)
Ada gemuruh di dada di Rabu siang itu, usai sholat dzuhur berjamaah, Presiden ACT, Ahyudin, memanggil semua karyawan dan relawan untuk berkumpul di ruang meeting lantai 3, Gedung ACT, di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Satu persatu wajah-wajah yang sangat bersahaja itu berdatangan, rasanya semakin keras gemuruh di dada ini. Saat pelepasan pun tiba, suasana sangat mengharukan, ketika kembali saya memandangi setiap wajah di ruangan itu, gemuruhnya bertambah keras. ACT Indonesia Humanitarian Team for Palestina 2010, segera siap diberangkatkan dari kantor menuju bandara Soekarno Hatta. Wajar, bila kemudian ada airmata yang tak tertahankan tumpah di ruangan itu, tugas kemanusiaan ke Palestina, meski bukan kali pertama bagi lembaga ini, tetap saja menghadirkan nuansa penuh emosional. Siapapun yang berangkat, meski berat untuk melepaskannya, namun tugas tetap harus ditunaikan.
Emosi membuncah, tumpah dan meledak, teriak takbir membahana di seisi kantor dan menggetarkan empat lantai Gedung ACT. Imam Akbari, Vice President Program dan Bayu Gawtama, Direktur Program ACT, siap menuju Palestina hari ini, Rabu, 7 Juli 2010. Jelas penuh emosi di hari itu, bukan hanya dirasakan dua orang terpilih yang akan berangkat, melainkan semua yang hadir dan membersamai perjalanan ACT selama ini. "Siapa yang tidak mau ke Palestina?" tidak satupun orang di ACT yang akan mengacungkan jarinya jika mendapat pertanyaan seperti ini. Artinya, semua orang di lembaga ini, karyawan maupun relawan, laki-laki atau perempuan, sangat ingin mendapatkan tugas mulia ini. Meskipun mereka sadar, tugas ke Palestina akan sangat berbeda resikonya dari berbagai tugas kemanusiaan yang sudah biasa dijalani di lokasi-lokasi bencana seperti gempa, banjir bandang, gunung meletus dan lain sebagainya. "Jelas kami tahu, justru semakin kami tahu semakin ingin kami berangkat ke Palestina..." begitu kira-kira suara yang mewakili hampir seluruh personil di ACT.
Satu jam berselang, sekitar pukul 14.30 WIB, tim pun bersiap menuju bandara. sekitar enam kendaraan roda empat mengiringi perjalanan tim ke bandara. Ini adalah sebuah tim besar, meski yang berangkat hanya dua orang, namun yang bekerja untuk program kemanusiaan mulia ini adalah seluruh anggota tim di lembaga ini, termasuk ribuan relawan yang tergabung di MRI - Masyarakat Relawan Indonesia di berbagai wilayah dan daerah. Dan yang tak kalah pentingnya, misi tim ini juga membawa dukungan dari segenap masyarakat Indonesia di dalam dan luar negeri yang mendukung penuh program kemanusiaan untuk Palestina. ACT mengusung kepedulian untuk anak-anak dan pendidikan, ini fokus program yang kami pilih karena anak-anak adalah komunitas paling rentan dari setiap kejadian bencana ataupun konflik. Selain itu, anak-anak adalah penerus dari sebuah bangsa, generasi harapan yang akan menjadi pemimpin bangsa. Menyelamatkan anak-anak adalah juga menyelamatkan bangsa tersebut, menjamin keberlangsungan bangsa itu untuk terus bertahan.
Tiba di Bandara, tim disambut beberapa media. Meski penting kehadiran sebuah media dalam mendukung sosialiasi program ACT, namun fokus kami, terutama yang akan berangkat hari itu adalah meyakinkan semua persiapan tidak ada masalah, sehingga perjalanan lancar dan mudah. Keharuan kembali membuncah, emosi kembali meledak, bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi di kantor siang tadi. Usai mengurus check-in dan bagasi yang sempat rumit karena kelebihan muatan sehingga harus mengurangi muatan dan repackage, pukul 17.00 siap berangkat.
Waktunya berpisah, terutama dengan keluarga yang ikut mengantar ke bandara. Raissa, putri ketiga Gaw, tidak mau lepas dari gendongan dan menolak dialihkan ke Umminya. Begitu juga putra putri dari mas Imam. Berat memang meninggalkan mereka, tetapi inilah ujiannya. Setiap orang yang bekerja di lembaga kemanusiaan seperti ACT, mau tidak mau senantiasa melibatkan kesiapan keluarga dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Yang bersangkutan boleh siap, tetapi kalau keluarga tidak siap, maka akan semakin berat langkahnya. Beruntung, keluarga Imam dan Gaw, merupakan keluarga yang selalu siap dan memang sudah terbiasa juga ditinggal kepala keluarganya menjalankan tugas kemanusiaan.
Panggilan untuk para penumpang Etihad sayup-sayup terdengar, pukul 18.40 WIB waktu take off, boarding pun sudah dibuka. Airmata lagi-lagi tak tertahankan, boleh jadi ini pertemuan terakhir dengan keluarga dan sahabat-sahabat di ACT. Mungkin akan kembali, mungkin juga tidak. "Gaza itu unpredictable, tugas ke sana harus siap segalanya, termasuk siap tidak kembali..." begitu ucap seorang teman yang pernah ke Gaza.
Langkah tegap harus diambil, tak boleh menunduk, tetap tersenyum dengan langkah meyakinkan. Ini tugas mulia, semua pasti mendukung, anak-anak hanya belum mengerti kenapa Ayah mereka selalu pergi, insya Allah suatu saat mereka akan mengerti kemuliaan tugas sang Ayah. Lambaian tangan tak boleh menyurutkan langkah, tangisan keluarga tak sedikitpun membuat mundur, peluk cium para sahabat justru menguatkan perjalanan ini, bahwa tim ini dilepas dengan cinta.
Terima kasih dukungan dari semua pihak, babak baru perjalanan ke Palestina dimulai lagi. Kami akan sampaikan salam Indonesia untuk Palestina, salam anak-anak Indonesia untuk anak Palestina melalui ribuan lembar kartu pos yang telah tertulis pesan semangat dan juga cinta.
Bersambung ... di tulisan kedua nanti ya (tunggu sabar ya...)
Gaw, dari bandara Abu Dhabi, UAE
Emosi membuncah, tumpah dan meledak, teriak takbir membahana di seisi kantor dan menggetarkan empat lantai Gedung ACT. Imam Akbari, Vice President Program dan Bayu Gawtama, Direktur Program ACT, siap menuju Palestina hari ini, Rabu, 7 Juli 2010. Jelas penuh emosi di hari itu, bukan hanya dirasakan dua orang terpilih yang akan berangkat, melainkan semua yang hadir dan membersamai perjalanan ACT selama ini. "Siapa yang tidak mau ke Palestina?" tidak satupun orang di ACT yang akan mengacungkan jarinya jika mendapat pertanyaan seperti ini. Artinya, semua orang di lembaga ini, karyawan maupun relawan, laki-laki atau perempuan, sangat ingin mendapatkan tugas mulia ini. Meskipun mereka sadar, tugas ke Palestina akan sangat berbeda resikonya dari berbagai tugas kemanusiaan yang sudah biasa dijalani di lokasi-lokasi bencana seperti gempa, banjir bandang, gunung meletus dan lain sebagainya. "Jelas kami tahu, justru semakin kami tahu semakin ingin kami berangkat ke Palestina..." begitu kira-kira suara yang mewakili hampir seluruh personil di ACT.
Satu jam berselang, sekitar pukul 14.30 WIB, tim pun bersiap menuju bandara. sekitar enam kendaraan roda empat mengiringi perjalanan tim ke bandara. Ini adalah sebuah tim besar, meski yang berangkat hanya dua orang, namun yang bekerja untuk program kemanusiaan mulia ini adalah seluruh anggota tim di lembaga ini, termasuk ribuan relawan yang tergabung di MRI - Masyarakat Relawan Indonesia di berbagai wilayah dan daerah. Dan yang tak kalah pentingnya, misi tim ini juga membawa dukungan dari segenap masyarakat Indonesia di dalam dan luar negeri yang mendukung penuh program kemanusiaan untuk Palestina. ACT mengusung kepedulian untuk anak-anak dan pendidikan, ini fokus program yang kami pilih karena anak-anak adalah komunitas paling rentan dari setiap kejadian bencana ataupun konflik. Selain itu, anak-anak adalah penerus dari sebuah bangsa, generasi harapan yang akan menjadi pemimpin bangsa. Menyelamatkan anak-anak adalah juga menyelamatkan bangsa tersebut, menjamin keberlangsungan bangsa itu untuk terus bertahan.
Tiba di Bandara, tim disambut beberapa media. Meski penting kehadiran sebuah media dalam mendukung sosialiasi program ACT, namun fokus kami, terutama yang akan berangkat hari itu adalah meyakinkan semua persiapan tidak ada masalah, sehingga perjalanan lancar dan mudah. Keharuan kembali membuncah, emosi kembali meledak, bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi di kantor siang tadi. Usai mengurus check-in dan bagasi yang sempat rumit karena kelebihan muatan sehingga harus mengurangi muatan dan repackage, pukul 17.00 siap berangkat.
Waktunya berpisah, terutama dengan keluarga yang ikut mengantar ke bandara. Raissa, putri ketiga Gaw, tidak mau lepas dari gendongan dan menolak dialihkan ke Umminya. Begitu juga putra putri dari mas Imam. Berat memang meninggalkan mereka, tetapi inilah ujiannya. Setiap orang yang bekerja di lembaga kemanusiaan seperti ACT, mau tidak mau senantiasa melibatkan kesiapan keluarga dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Yang bersangkutan boleh siap, tetapi kalau keluarga tidak siap, maka akan semakin berat langkahnya. Beruntung, keluarga Imam dan Gaw, merupakan keluarga yang selalu siap dan memang sudah terbiasa juga ditinggal kepala keluarganya menjalankan tugas kemanusiaan.
Panggilan untuk para penumpang Etihad sayup-sayup terdengar, pukul 18.40 WIB waktu take off, boarding pun sudah dibuka. Airmata lagi-lagi tak tertahankan, boleh jadi ini pertemuan terakhir dengan keluarga dan sahabat-sahabat di ACT. Mungkin akan kembali, mungkin juga tidak. "Gaza itu unpredictable, tugas ke sana harus siap segalanya, termasuk siap tidak kembali..." begitu ucap seorang teman yang pernah ke Gaza.
Langkah tegap harus diambil, tak boleh menunduk, tetap tersenyum dengan langkah meyakinkan. Ini tugas mulia, semua pasti mendukung, anak-anak hanya belum mengerti kenapa Ayah mereka selalu pergi, insya Allah suatu saat mereka akan mengerti kemuliaan tugas sang Ayah. Lambaian tangan tak boleh menyurutkan langkah, tangisan keluarga tak sedikitpun membuat mundur, peluk cium para sahabat justru menguatkan perjalanan ini, bahwa tim ini dilepas dengan cinta.
Terima kasih dukungan dari semua pihak, babak baru perjalanan ke Palestina dimulai lagi. Kami akan sampaikan salam Indonesia untuk Palestina, salam anak-anak Indonesia untuk anak Palestina melalui ribuan lembar kartu pos yang telah tertulis pesan semangat dan juga cinta.
Bersambung ... di tulisan kedua nanti ya (tunggu sabar ya...)
Gaw, dari bandara Abu Dhabi, UAE
Inilah Jalan Kita!
Sayup suara adzan terdengar memanggil di tengah hiruk pikuk aktivitas orang di siang hari. Suara panggilan itu menyeruak masuk ke ruang kerja di berbagai perkantoran, menyelinap ke semua sudut ruangan, mulai dari pantri tempat para office boy berkumpul, hingga ruang kerja eksklusif para direktur. Ada yang langsung bergegas menuju masjid untuk mengadakan perjumpaan dengan Sang Khaliq, ada yang berjalan santai menyambut seruan itu, namun tidak sedikit juga ingga habis suara muadzin berkumandang, masih tetap berkutat dengan pekerjaannya.
Di kampung dan di kota, panggilan itu juga mengetuk setiap rumah tak terkecuali. Rumah reot pintu triplek tanpa kaca jendela, sampai rumah berpagar tinggi tetap disambangi suara panggilan itu. Ada yang bergegas dari bali kamarnya, ada yang tengah asik dengan urusan dapurnya, ada pula yang tetap mengunci rapat-rapat pagar rumahnya. Ada yang tetap berkemul dengan selimutnya, ada yang terus dibuat tanggung dengan masakannya yang hampir selesai atau cuciannya yang menggunung, meski ada pula yang bersiap bermunajat kepada Rabb-nya.
Adzan bukanlah seruan biasa, itu panggilan Allah bagi siapa saja tanpa terkecuali. Siapapun diseru, siapa saja dipanggil, beriman atau tidak, tipis atau tebal kadar imannya, tetap diseru untuk bertemu dengan Allah. Yang Memanggil sesungguhnya bukan berarti yang membutuhkan yang dipanggil, panggilan itu berlaku buat siapa saja yang membutuhkan kasih sayang Yang Memanggil. Siapa yang menyambut panggilan itulah sesungguhnya yang merasa perlu dan penting untuk menghadap-Nya. Yang Memanggil bukan berarti pula merasa penting dengan sesiapa saja yang dipanggil-Nya, justru sebaliknya yang dipanggil itulah yang sebenarnya merasa penting untuk segera menyambut panggilan itu.
Sesungguhnya bukan Allah yang membutuhkan kita, meskipun Dia memanggil semua hamba untuk bersujud kepada-Nya. Jika yang dipanggil tahu nikmat cinta dan kasih sayang yang Allah janjikan bagi siapa yang menyambut panggilan-Nya, niscaya tak satupun yang enggan bermalasan menuju seruan itu. Mereka yang bergegas memenuhi panggila itu, tentu tahu bahwa kehidupan ini Allah lah yang mengaturnya, bahwa semua kebutuhan kita dalam hidup Allah juga yang menentukan. Adakah yang bisa hidup tanpa nikmat dan kasih sayang Allah?
Adapun mereka yang tidak segera menyambut seruan Allah, mereka benar-benar tidak menyadari bahwa hidup mereka ada diujung kuku dari kekuasaan Allah yang Maha Besar. Mudah bagi Allah untuk menghentikan kehidupan yang tengah kita jalani ini tanpa peduli kita tengah berada di puncak kebahagiaan dunia, berada di atas tahta kekuasaan dunia atau dibalut harta kekayaan tiada ternilai sekalipun. Ringan saja, sangat ringan dan lebih ringan dari kapas yang terhempas angin bagi Allah untuk membalikkan keadaan kita saat ini. Dari senang menjadi susah, dari bahagia menjadi sengsara, dari memiliki banyak sesuatu hingga tak satupun dimiliki, dari tertawa menjadi menangis tak terperi, dan dari hidup menjadi mati!
Jadi, siapa yang sesungguhnya membutuhkan? Tentu saja kita yang butuh Allah. Bukan semata karena sholat dan ibadah kita lainnya yang membuat kita masuk surga-Nya, melainkan karena kemurahan hati dan kasih sayang Allah lah surga dengan bebas bisa kita masuki. Kita hanya bisa berharap, ibadah kita di dunia ini membuat Allah tersenyum sehingga memberikan kasih sayang-Nya di akhirat nanti. Itupun masih belum pasti kita mencium harumnya surga, sehingga tak sedetik pun jiwa ini alpa berharap agar kaki ini diizinkan melangkah melewati salah satu pintu surga yang disediakan.
Kini, ada panggilan dari Gaza di tanah suci Palestina untuk membela agama Allah. Seperti halnya seruan adzan untuk sholat, ada yang tersenyum dan bertakbir menyambut panggilan dari Gaza ini. Ada pula yang bersikap biasa-biasa saja seolah tak mendengar, bahkan tidak sedikit yang mencemooh panggilan ini dan berkilah, “urusan kita masih banyak, kenapa membela urusan negara lain?”
Panggilan dari Gaza adalah panggilan dari Allah, bagi yang ingin berniaga dengan Allah yang hendak menukar harta dan jiwanya dengan surga Allah. Hanya yang benar-benar yakin bahwa inilah jalan terang ke surga yang akan menyambut seruan ini, dan bagi mereka yang tertutup mata dan hatinya hanya akan menganggap panggilan ini dan orang-orang yang menyembut panggilan ini hanyalah sesuatu yang berlebihan. Gaza memanggil semua tanpa terkecuali untuk membela agama Allah, mereka yang terpanggillah yang benar-benar merasa butuh dengan panggilan ini, yang sungguh-sungguh merasa butuh dengan kesempatan emas dari Allah ini.
Kita selalu menunggu panggilan seperti ini, termasuk dari Gaza. Panggilan untuk semakin dekat dengan surga-Nya. Dan kini panggilan itu berkumandang lagi dengan keras, Ayo saudaraku, inilah saatnya kita menyambut hiruk pikuk panggilan ini. Karena telah lama kita menunggu, jangan sia-siakan kesempatan ini sebab orang-orang beriman dari penjuru dunia lainpun bergegas menyambut panggilan ini. Sungguh, kitalah yang butuh untuk mendekat kepada Allah, dan inilah jalan kita. (gaw)
Refleksi Mavi Marmara road to Gaza, 2010
Di kampung dan di kota, panggilan itu juga mengetuk setiap rumah tak terkecuali. Rumah reot pintu triplek tanpa kaca jendela, sampai rumah berpagar tinggi tetap disambangi suara panggilan itu. Ada yang bergegas dari bali kamarnya, ada yang tengah asik dengan urusan dapurnya, ada pula yang tetap mengunci rapat-rapat pagar rumahnya. Ada yang tetap berkemul dengan selimutnya, ada yang terus dibuat tanggung dengan masakannya yang hampir selesai atau cuciannya yang menggunung, meski ada pula yang bersiap bermunajat kepada Rabb-nya.
Adzan bukanlah seruan biasa, itu panggilan Allah bagi siapa saja tanpa terkecuali. Siapapun diseru, siapa saja dipanggil, beriman atau tidak, tipis atau tebal kadar imannya, tetap diseru untuk bertemu dengan Allah. Yang Memanggil sesungguhnya bukan berarti yang membutuhkan yang dipanggil, panggilan itu berlaku buat siapa saja yang membutuhkan kasih sayang Yang Memanggil. Siapa yang menyambut panggilan itulah sesungguhnya yang merasa perlu dan penting untuk menghadap-Nya. Yang Memanggil bukan berarti pula merasa penting dengan sesiapa saja yang dipanggil-Nya, justru sebaliknya yang dipanggil itulah yang sebenarnya merasa penting untuk segera menyambut panggilan itu.
Sesungguhnya bukan Allah yang membutuhkan kita, meskipun Dia memanggil semua hamba untuk bersujud kepada-Nya. Jika yang dipanggil tahu nikmat cinta dan kasih sayang yang Allah janjikan bagi siapa yang menyambut panggilan-Nya, niscaya tak satupun yang enggan bermalasan menuju seruan itu. Mereka yang bergegas memenuhi panggila itu, tentu tahu bahwa kehidupan ini Allah lah yang mengaturnya, bahwa semua kebutuhan kita dalam hidup Allah juga yang menentukan. Adakah yang bisa hidup tanpa nikmat dan kasih sayang Allah?
Adapun mereka yang tidak segera menyambut seruan Allah, mereka benar-benar tidak menyadari bahwa hidup mereka ada diujung kuku dari kekuasaan Allah yang Maha Besar. Mudah bagi Allah untuk menghentikan kehidupan yang tengah kita jalani ini tanpa peduli kita tengah berada di puncak kebahagiaan dunia, berada di atas tahta kekuasaan dunia atau dibalut harta kekayaan tiada ternilai sekalipun. Ringan saja, sangat ringan dan lebih ringan dari kapas yang terhempas angin bagi Allah untuk membalikkan keadaan kita saat ini. Dari senang menjadi susah, dari bahagia menjadi sengsara, dari memiliki banyak sesuatu hingga tak satupun dimiliki, dari tertawa menjadi menangis tak terperi, dan dari hidup menjadi mati!
Jadi, siapa yang sesungguhnya membutuhkan? Tentu saja kita yang butuh Allah. Bukan semata karena sholat dan ibadah kita lainnya yang membuat kita masuk surga-Nya, melainkan karena kemurahan hati dan kasih sayang Allah lah surga dengan bebas bisa kita masuki. Kita hanya bisa berharap, ibadah kita di dunia ini membuat Allah tersenyum sehingga memberikan kasih sayang-Nya di akhirat nanti. Itupun masih belum pasti kita mencium harumnya surga, sehingga tak sedetik pun jiwa ini alpa berharap agar kaki ini diizinkan melangkah melewati salah satu pintu surga yang disediakan.
Kini, ada panggilan dari Gaza di tanah suci Palestina untuk membela agama Allah. Seperti halnya seruan adzan untuk sholat, ada yang tersenyum dan bertakbir menyambut panggilan dari Gaza ini. Ada pula yang bersikap biasa-biasa saja seolah tak mendengar, bahkan tidak sedikit yang mencemooh panggilan ini dan berkilah, “urusan kita masih banyak, kenapa membela urusan negara lain?”
Panggilan dari Gaza adalah panggilan dari Allah, bagi yang ingin berniaga dengan Allah yang hendak menukar harta dan jiwanya dengan surga Allah. Hanya yang benar-benar yakin bahwa inilah jalan terang ke surga yang akan menyambut seruan ini, dan bagi mereka yang tertutup mata dan hatinya hanya akan menganggap panggilan ini dan orang-orang yang menyembut panggilan ini hanyalah sesuatu yang berlebihan. Gaza memanggil semua tanpa terkecuali untuk membela agama Allah, mereka yang terpanggillah yang benar-benar merasa butuh dengan panggilan ini, yang sungguh-sungguh merasa butuh dengan kesempatan emas dari Allah ini.
Kita selalu menunggu panggilan seperti ini, termasuk dari Gaza. Panggilan untuk semakin dekat dengan surga-Nya. Dan kini panggilan itu berkumandang lagi dengan keras, Ayo saudaraku, inilah saatnya kita menyambut hiruk pikuk panggilan ini. Karena telah lama kita menunggu, jangan sia-siakan kesempatan ini sebab orang-orang beriman dari penjuru dunia lainpun bergegas menyambut panggilan ini. Sungguh, kitalah yang butuh untuk mendekat kepada Allah, dan inilah jalan kita. (gaw)
Refleksi Mavi Marmara road to Gaza, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)