Putri sulung saya bilang, “teman teteh mengaku gerah kalau lihat teteh pakai jilbab terus. Katanya, pasti dia nggak tahan kalau pakai jilbab”. Kemudian saya tanya, “teteh merasa gerah nggak?” jawabnya, “Ya nggak lah, aneh ya, teteh yang pakai jilbab kok teman yang gerah”.
Kemarin, saat berada di Jogja Islamic Book Fair, banyak pengunjung pameran yang mengenakan cadar (penutup wajah). Seorang teman sempat bertanya, “repot nggak ya kalau mau makan?” “bagaimana kita tahu kalau dia tersenyum atau tidak?”. Ini soal keyakinan, adapun soal repot atau tidak, bukan urusan kita. Buktinya mereka masih bertahan dengan cadarnya itu.
Lain lagi dengan para lelaki yang senang mengenakan celana ngatung alias celana yang menggantung, ujung celananya hanya sampai kira-kira sepuluh centimeter di atas mata kaki. Teman yang lain berkomentar, “betah ya mereka pakai celana begitu, kan nggak semua tempat pantas dikunjungi dengan celana model seperti itu”.
Sebenarnya, orang yang mengenakan celana ngatung itu terlihat nyaman dan santai-santai saja. Problemnya justru ada di teman yang berkomentar itu, orang lain yang pakai celana ngatung, kenapa dia yang merasa tidak nyaman. “Nggak betah melihatnya,” komentar tambahannya.
Di tempat lain, sering terlihat orang-orang yang di jalan raya sambil menenteng tas besar berisi beragam produk. Berjalan kaki sambil dipayungi terik matahari, mengenakan kemeja lengan panjang plus dasi! Ada lagi yang berkomentar, “Keren nggak, gerah iya. Panas-panas di jalan raya masih pakai dasi…”
Jalan raya dan tempat-tempat umum lain, layaknya catwalk. Di kantor, di rumah sakit, sekolah, kampus, jalan raya, bis kota, ruang pameran dan tempat lainnya terdapat jutaan peraga busana dengan aneka ragam model penampilan. Kita sering berperan sebagai tim penilai, padahal kita sendiri tengah dinilai.
Kadang, tanpa disadari mulut ini sering usil dan dengan mudahnya mengomentari penampilan orang lain. Apa saja yang terasa ganjil di mata selalu menjadi sasaran mulut jahil ini untuk berkomentar, memberi penilaian layaknya juri lomba fashion. Orang lain yang pakai jilbab, kita yang gerah. Melihat orang pakai baju bolong-bolong, kita yang malu. Ada yang jenggotnya panjang, kita yang geli, dan orang lain yang senang pakai dasi justru kita yang pusing.
Memang tidak sedikit orang yang belum memahami soal estetika dalam berpenampilan. Dalam pemilihan model, baik model pakaian maupun aksesoris yang menempel di tubuh, termasuk rambut. Ada yang ingin jadi trendsetter ada pula yang follower, tidak peduli pantas atau tidak. Begitu pula soal pilihan warna, sering sekali berseliweran orang dengan warna pakaian yang tidak cocok dengan warna kulitnya.
Tapi kalau mau jujur, yang aneh itu sebenarnya bukan orang-orang yang sering dianggap salah kostum –saltum- itu. Sesungguhnya yang aneh adalah orang yang banyak komentar soal penampilan orang lain, seolah tidak ada hal lain yang lebih layak untuk dipikirkan atau dikomentari. Sayang sekali energi dihabiskan untuk menilai orang lain sementara yang bersangkutan tidak peduli dan tetap percaya diri dengan penampilannya.
Lebih aneh lagi, karena pada saat yang sama, kita sering lupa menilai penampilan diri sendiri, apakah sudah cukup pantas, rapih, dan enak dipandang. Saking sibuknya menilai penampilan orang lain, padahal orang lain pun sebenarnya tengah menilai penampilan kita yang juga tak sedap dipandang. Jadilah orang aneh menilai orang aneh.
Memilih dan menentukan penampilan biasanya orang memertimbangkan dua hal, kepercayaan diri dan selera orang. Di dalamnya termasuk soal estetika, kepantasan, trend dan mode, dan lain sebagainya. Namun seringkali hanya satu dari dua hal tadi yang dijadikan dasar, ada yang mengandalkan rasa percaya diri, tidak peduli orang suka atau tidak. Ada pula yang menuruti selera orang, masa bodoh pantas atau tidak di tubuh sendiri.
Jadi yang lebih baik bagaimana? Percaya diri boleh, juga jangan terlalu menuruti selera orang. Masukan dari orang lain diseimbangkan dengan proporsi tubuh dan yang pasti daya beli. Hormati saja penampilan orang lain, toh belum ada yang mengusik penampilan Anda kan? Yang lebih penting dari itu, sebelum banyak komentar soal penampilan orang, lihat dulu diri sendiri. (gaw)
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Thursday, November 13, 2008
Miskin Syukur
taken from http://warnaislam.com
Pagi hari masih bisa beli nasi uduk, lengkap dengan bihun, tempe goreng atau semur jengkol sebenarnya sudah bagus. Tetapi kerap mulut berbicara lain, “Nasi uduk melulu, nggak ada makanan lain?” Akhirnya sampai sore sepiring nasi uduk itu tak disentuh sama sekali.
Sudah sepuluh tahun bekerja dan punya penghasilan tetap saja mengeluh, “Kerja begini-begini saja, nggak ada perubahan, gaji sebulan habis seminggu…” Belum lagi ‘nyanyian’ isteri di rumah, “cari kerja tambahan dong pak, biar hidup kita nggak susah terus”
Dikaruniai isteri yang shaleh dan baik masih menggerutu, “baik sih, rajin sholat, tapi kurang cantik…” Tidak beda dengan seorang perempuan yang menikah dengan pria bertampang pas-pasan, “Sudah miskin nggak ganteng pula. Masih untung saya mau nikah sama dia…”
Punya kesempatan memiliki rumah meski hanya type kecil dan rumah sangat sederhana tentu lebih baik dari sekian orang yang baru bisa mimpi punya rumah sendiri. Disaat yang lain masih ngontrak dan nomaden, mulut ini berceloteh, “Ya rumah sempit, gerah, sesak. Sebenarnya sih nggak betah, tapi mau dimana lagi?”
Sudah bagus suaminya tidak naik angkot atau bis kota berkali-kali karena memiliki sepeda motor walau keluaran tahun lama. Eh, bisa-bisanya sang isteri berkomentar, “Jual saja pak, saya malu kalau diboncengin pakai motor butut itu”.
Ada lagi yang dikaruniai anak, sudah bagus anaknya terlahir normal, tidak cacat fisik maupun mental. Gara-gara anaknya kurang cantik atau tidak tampan, ia mencari kambing hitam, “Bapak salah milih ibu nih, jadinya wajah kamu nggak karuan begini”. Padahal di waktu yang berbeda, ibunya pun berkata yang hampir mirip, “Maaf ya nak, waktu itu ibu terpaksa menikahi bapakmu. Habis, kasihan dia nggak ada yang naksir”.
Kita, termasuk saya, tanpa disadari sudah menjadi orang-orang miskin. Bukan karena kita tidak memiliki apa-apa, justru sebaliknya kita tengah berlimpah harta dan memiliki sesuatu yang orang lain belum berkesempatan memilikinya. Kita benar-benar miskin meski dalam keadaan kaya raya, karena kita tak pernah bersyukur dengan apa yang dianugerahkan Allah saat ini. Ya, kita ini miskin rasa syukur.
Punya sedikit ingin banyak, boleh. Dapat satu, ingin dua, tidak dilarang. Merasa kurang dan mau lebih, silahkan. Tidak masalah kok kalau merasa kurang, sebab memang demikian sifat manusia, tidak pernah merasa puas. Pertanyaannya, yang sedikit, yang satu, yang kurang itu sudah disyukuri kah?
Pada rasa syukur itulah letak kekayaan sebenarnya. Berangkat dari rasa syukur pula kita merasa kaya, sehingga melahirkan keinginan membagi apa yang dipunya kepada orang lain. Kita miskin karena tidak pernah mensyukuri apa yang ada. Meski dunia berada di genggaman namun kalau tak sedikit pun rasa syukur terukir di hati dan terucap di lisan, selamanya kita miskin.
Coba hitung, duduk di teras rumah sambil sarapan pagi, ditambah secangkir kopi panas yang disediakan isteri shalihah. Sesaat sebelum berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor, lambaian tangan si kecil seraya mendoakan, “hati-hati Ayah…”. Subhanallah, ternyata Anda kaya raya! (gaw)
Pagi hari masih bisa beli nasi uduk, lengkap dengan bihun, tempe goreng atau semur jengkol sebenarnya sudah bagus. Tetapi kerap mulut berbicara lain, “Nasi uduk melulu, nggak ada makanan lain?” Akhirnya sampai sore sepiring nasi uduk itu tak disentuh sama sekali.
Sudah sepuluh tahun bekerja dan punya penghasilan tetap saja mengeluh, “Kerja begini-begini saja, nggak ada perubahan, gaji sebulan habis seminggu…” Belum lagi ‘nyanyian’ isteri di rumah, “cari kerja tambahan dong pak, biar hidup kita nggak susah terus”
Dikaruniai isteri yang shaleh dan baik masih menggerutu, “baik sih, rajin sholat, tapi kurang cantik…” Tidak beda dengan seorang perempuan yang menikah dengan pria bertampang pas-pasan, “Sudah miskin nggak ganteng pula. Masih untung saya mau nikah sama dia…”
Punya kesempatan memiliki rumah meski hanya type kecil dan rumah sangat sederhana tentu lebih baik dari sekian orang yang baru bisa mimpi punya rumah sendiri. Disaat yang lain masih ngontrak dan nomaden, mulut ini berceloteh, “Ya rumah sempit, gerah, sesak. Sebenarnya sih nggak betah, tapi mau dimana lagi?”
Sudah bagus suaminya tidak naik angkot atau bis kota berkali-kali karena memiliki sepeda motor walau keluaran tahun lama. Eh, bisa-bisanya sang isteri berkomentar, “Jual saja pak, saya malu kalau diboncengin pakai motor butut itu”.
Ada lagi yang dikaruniai anak, sudah bagus anaknya terlahir normal, tidak cacat fisik maupun mental. Gara-gara anaknya kurang cantik atau tidak tampan, ia mencari kambing hitam, “Bapak salah milih ibu nih, jadinya wajah kamu nggak karuan begini”. Padahal di waktu yang berbeda, ibunya pun berkata yang hampir mirip, “Maaf ya nak, waktu itu ibu terpaksa menikahi bapakmu. Habis, kasihan dia nggak ada yang naksir”.
Kita, termasuk saya, tanpa disadari sudah menjadi orang-orang miskin. Bukan karena kita tidak memiliki apa-apa, justru sebaliknya kita tengah berlimpah harta dan memiliki sesuatu yang orang lain belum berkesempatan memilikinya. Kita benar-benar miskin meski dalam keadaan kaya raya, karena kita tak pernah bersyukur dengan apa yang dianugerahkan Allah saat ini. Ya, kita ini miskin rasa syukur.
Punya sedikit ingin banyak, boleh. Dapat satu, ingin dua, tidak dilarang. Merasa kurang dan mau lebih, silahkan. Tidak masalah kok kalau merasa kurang, sebab memang demikian sifat manusia, tidak pernah merasa puas. Pertanyaannya, yang sedikit, yang satu, yang kurang itu sudah disyukuri kah?
Pada rasa syukur itulah letak kekayaan sebenarnya. Berangkat dari rasa syukur pula kita merasa kaya, sehingga melahirkan keinginan membagi apa yang dipunya kepada orang lain. Kita miskin karena tidak pernah mensyukuri apa yang ada. Meski dunia berada di genggaman namun kalau tak sedikit pun rasa syukur terukir di hati dan terucap di lisan, selamanya kita miskin.
Coba hitung, duduk di teras rumah sambil sarapan pagi, ditambah secangkir kopi panas yang disediakan isteri shalihah. Sesaat sebelum berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor, lambaian tangan si kecil seraya mendoakan, “hati-hati Ayah…”. Subhanallah, ternyata Anda kaya raya! (gaw)
Monday, November 03, 2008
Senior Selalu Benar?
Saya pernah menabrak sebuah angkutan kota atau biasa disebut ‘angkot’. Motor saya hancur, begitu juga kaca bagian belakang angkot tersebut. Nahasnya, saat itu saya tak sadarkan diri setelah terbang beberapa meter dan terjerembab di selokan pinggir jalan raya. Hasilnya, pergelangan kiri saya patah dan terdapat banyak memar di sekujur tubuh.
Bukan soal lukanya yang menarik untuk diceritakan, melainkan komentar teman saya beberapa hari usai kecelakaan tersebut. “Yang salah kamu, kenapa naik motor di belakang angkot?” Saya tidak terima, “Jelas-jelas angkot itu ngerem mendadak lantaran mau ambil penumpang tapi tidak menepi terlebih dulu…”
Lalu teman saya berujar, “Bukankah dari jaman Belanda menjajah negeri ini kelakuan sopir angkot sudah seperti itu? Makanya belajar sejarah…” Saya hanya bisa geleng-geleng kepala pertanda tak setuju.
Intinya, menurut teman saya itu, kalau mobil kita diserempet angkot yang salah tetaplah bukan angkot, “siapa suruh dekat-dekat angkot?” kilahnya. Terus, kalau sering dibuat kesal harus ngerem mendadak gara-gara angkot yang kerap berhenti seenaknya, lagi-lagi yang salah bukan angkot, melainkan orang yang berkendara di belakang angkot.
Begitu pula ketika sebuah angkot yang ‘ngetem’ bikin macet sepanjang ratusan meter, tiba-tiba seorang pengendara mobil yang melintasi angkot tersebut berteriak, “Sopir g****k! Minggir dong…”. Sudah tahu kan jawaban sopir angkot? “Kalau pintar, saya nggak jadi sopir angkot”
Kisah lain tentang seorang Kyai di sebuah Pesantren di Subang, Jawa Barat. Suatu hari saya dan beberapa teman menumpang sholat maghrib di pesantren tersebut. Saat itu, Kyai yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan pesantren yang memimpin sholat melakukan kekhilafan, sholat maghrib hanya dilakukan dua rakaat. Serempak, saya dan beberapa teman mengucap “Subhanallah” saat Pak Kyai mengucap salam sebagai tanda akhir sholat, padahal baru rakaat kedua. Berkali-kali kami mengucap “Subhanallah” untuk mengingatkan, dan anehnya Kyai tenang saja dan tidak merasa ada yang kurang.
Yang lebih aneh lagi, selain kami, tidak ada satupun jamaah yang turut mengingatkan kurangnya rakaat itu kepada Pak Kyai, termasuk para ustadz dan santrinya. Bahkan usai kami menyelesaikan rakaat ketiga, seorang ustadz menghampiri dan berbisik, “Kalau Kyai salah tidak perlu diingatkan, kami beranggapan kalau Kyai khilaf itu berarti Allah memang berkehendak demikian”.
Masya Allah, jadi sebenarnya para ustadz dan santri itu menyadari kekeliruan Pak Kyai. Hanya saja selain mereka sungkan lantaran menilai Kyai itu memiliki kelebihan ilmu dan kemuliaan, kekeliruan Pak Kyai pun dianggap satu kehendak Allah.
Masih berkenaan dengan kesalahan atau kekeliruan, kita tentu pernah mendengar kalimat seperti ini, “Pasal satu; senior selalu benar. Pasal dua; jika senior melakukan kesalahan, lihat pasal satu”.
Konon, mulanya dua pasal kramat itu berlaku di lingkungan militer. Soal kebenarannya, saya tidak berani memastikan. Tetapi pasal ini sangat terkenal dan bukan hanya berlaku di lingkungan militer. Ketika saya mengikuti masa orientasi dan pengenalan kampus awal tahun 1990-an silam, pasal ini pun berlaku hebat. Sehingga para senior saya bebas melakukan tindakan sewenang-wenang dan sesukanya kepada para junior.
Aksi balas dendam pun menjadi turun temurun diwariskan dalam lingkungan yang menerapkan dua pasal ini. Baik di lingkungan militer, kampus semi militer, sampai kampus dan sekolah menengah umum yang tidak ada hubungannya dengan militer. Saya tidak tahu apakah pasal sakti ini masih dipakai di lingkungan militer, kampus atau sekolah?
Dari tiga kasus di atas, bisa diambil pelajaran yang menarik untuk dikupas secara singkat. Tiga jenis orang yang melakukan kesalahan, pertama; orang yang sudah biasa melakukan kesalahan, sehingga kesalahan demi kesalahan dianggap wajar dan biasa oleh orang lain yang melihatnya. Bila ia melakukan kesalahan dan merugikan orang lain, maka yang dirugikanlah yang diminta berdiam diri dan tak perlu melawan atau menasihati yang salah.
Kedua; lantaran dianggap berilmu dan memiliki kemuliaan, kekeliruan dan kesalahan seolah menjadi sesuatu yang muskil dilakukan orang ini. Menasihati atau mengingatkan kesalahan orang ini adalah hal tabu dan menghinakan. Siapapun yang melihat orang ini melakukan kesalahan, harus menutup mulut dan memandangnya secara wajar.
Ketiga, jabatan dan pangkat kerap mempengaruhi nilai-nilai kebenaran. Seringkali seorang bawahan sungkan menegur atau mengingatkan atasannya demi menyelamatkan karirnya, “daripada saya dipecat” alasannya. Tindakan cari selamat pun jadi budaya di berbagai tempat dan lingkungan.
Haruskah dipertahankan kekeliruan seperti ini? Atau justru kita menjadi bagian yang terus menerus membudayakan tradisi ini? Tidak! Sudah waktunya mengungkap kebenaran itu menjadi tradisi, bukan sebaliknya. Sudah saatnya orang yang benar itu lebih berani dari mereka yang melakukan kesalahan. Dan bukan waktunya lagi kita malu menegur orang yang keliru, karena semestinya mereka lah yang malu karena sering berbuat salah. Semoga (gaw)
Bukan soal lukanya yang menarik untuk diceritakan, melainkan komentar teman saya beberapa hari usai kecelakaan tersebut. “Yang salah kamu, kenapa naik motor di belakang angkot?” Saya tidak terima, “Jelas-jelas angkot itu ngerem mendadak lantaran mau ambil penumpang tapi tidak menepi terlebih dulu…”
Lalu teman saya berujar, “Bukankah dari jaman Belanda menjajah negeri ini kelakuan sopir angkot sudah seperti itu? Makanya belajar sejarah…” Saya hanya bisa geleng-geleng kepala pertanda tak setuju.
Intinya, menurut teman saya itu, kalau mobil kita diserempet angkot yang salah tetaplah bukan angkot, “siapa suruh dekat-dekat angkot?” kilahnya. Terus, kalau sering dibuat kesal harus ngerem mendadak gara-gara angkot yang kerap berhenti seenaknya, lagi-lagi yang salah bukan angkot, melainkan orang yang berkendara di belakang angkot.
Begitu pula ketika sebuah angkot yang ‘ngetem’ bikin macet sepanjang ratusan meter, tiba-tiba seorang pengendara mobil yang melintasi angkot tersebut berteriak, “Sopir g****k! Minggir dong…”. Sudah tahu kan jawaban sopir angkot? “Kalau pintar, saya nggak jadi sopir angkot”
Kisah lain tentang seorang Kyai di sebuah Pesantren di Subang, Jawa Barat. Suatu hari saya dan beberapa teman menumpang sholat maghrib di pesantren tersebut. Saat itu, Kyai yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan pesantren yang memimpin sholat melakukan kekhilafan, sholat maghrib hanya dilakukan dua rakaat. Serempak, saya dan beberapa teman mengucap “Subhanallah” saat Pak Kyai mengucap salam sebagai tanda akhir sholat, padahal baru rakaat kedua. Berkali-kali kami mengucap “Subhanallah” untuk mengingatkan, dan anehnya Kyai tenang saja dan tidak merasa ada yang kurang.
Yang lebih aneh lagi, selain kami, tidak ada satupun jamaah yang turut mengingatkan kurangnya rakaat itu kepada Pak Kyai, termasuk para ustadz dan santrinya. Bahkan usai kami menyelesaikan rakaat ketiga, seorang ustadz menghampiri dan berbisik, “Kalau Kyai salah tidak perlu diingatkan, kami beranggapan kalau Kyai khilaf itu berarti Allah memang berkehendak demikian”.
Masya Allah, jadi sebenarnya para ustadz dan santri itu menyadari kekeliruan Pak Kyai. Hanya saja selain mereka sungkan lantaran menilai Kyai itu memiliki kelebihan ilmu dan kemuliaan, kekeliruan Pak Kyai pun dianggap satu kehendak Allah.
Masih berkenaan dengan kesalahan atau kekeliruan, kita tentu pernah mendengar kalimat seperti ini, “Pasal satu; senior selalu benar. Pasal dua; jika senior melakukan kesalahan, lihat pasal satu”.
Konon, mulanya dua pasal kramat itu berlaku di lingkungan militer. Soal kebenarannya, saya tidak berani memastikan. Tetapi pasal ini sangat terkenal dan bukan hanya berlaku di lingkungan militer. Ketika saya mengikuti masa orientasi dan pengenalan kampus awal tahun 1990-an silam, pasal ini pun berlaku hebat. Sehingga para senior saya bebas melakukan tindakan sewenang-wenang dan sesukanya kepada para junior.
Aksi balas dendam pun menjadi turun temurun diwariskan dalam lingkungan yang menerapkan dua pasal ini. Baik di lingkungan militer, kampus semi militer, sampai kampus dan sekolah menengah umum yang tidak ada hubungannya dengan militer. Saya tidak tahu apakah pasal sakti ini masih dipakai di lingkungan militer, kampus atau sekolah?
Dari tiga kasus di atas, bisa diambil pelajaran yang menarik untuk dikupas secara singkat. Tiga jenis orang yang melakukan kesalahan, pertama; orang yang sudah biasa melakukan kesalahan, sehingga kesalahan demi kesalahan dianggap wajar dan biasa oleh orang lain yang melihatnya. Bila ia melakukan kesalahan dan merugikan orang lain, maka yang dirugikanlah yang diminta berdiam diri dan tak perlu melawan atau menasihati yang salah.
Kedua; lantaran dianggap berilmu dan memiliki kemuliaan, kekeliruan dan kesalahan seolah menjadi sesuatu yang muskil dilakukan orang ini. Menasihati atau mengingatkan kesalahan orang ini adalah hal tabu dan menghinakan. Siapapun yang melihat orang ini melakukan kesalahan, harus menutup mulut dan memandangnya secara wajar.
Ketiga, jabatan dan pangkat kerap mempengaruhi nilai-nilai kebenaran. Seringkali seorang bawahan sungkan menegur atau mengingatkan atasannya demi menyelamatkan karirnya, “daripada saya dipecat” alasannya. Tindakan cari selamat pun jadi budaya di berbagai tempat dan lingkungan.
Haruskah dipertahankan kekeliruan seperti ini? Atau justru kita menjadi bagian yang terus menerus membudayakan tradisi ini? Tidak! Sudah waktunya mengungkap kebenaran itu menjadi tradisi, bukan sebaliknya. Sudah saatnya orang yang benar itu lebih berani dari mereka yang melakukan kesalahan. Dan bukan waktunya lagi kita malu menegur orang yang keliru, karena semestinya mereka lah yang malu karena sering berbuat salah. Semoga (gaw)
Subscribe to:
Posts (Atom)