http://warnaislam.com
Nggak ada yang salah dengan aktivitas ke Mall membeli baju baru untuk lebaran nanti, baik baju untuk kita sendiri maupun untuk anak-anak. Ini bagian dari cara kita merayakan hari kemenangan, ceria bersama keluarga menikmati indahnya hari raya.
Tetapi kalau boleh sekadar titip pesan, saat memilih pakaian untuk anak-anak, pilihkan barang satu potong saja pakaian untuk anak-anak yatim. Mereka tidak punya uang sepeserpun untuk membelinya, tidak ada orang tua yang akan membelikan mereka pakaian. Entah sudah berapa lebaran mereka tak merasakan indahnya hari raya.
Bagus-bagus saja kalau beberapa hari menjelang lebaran, para ibu sudah menyiapkan aneka kue lebaran. Beragam rasa dan aroma sirup pun sudah disiapkan untuk mereguk kesegaran hari raya bersama seluruh anggota keluarga.
Tapi, kalau ada lebihnya barang satu toples, sisakan untuk anak-anak yatim di panti asuhan. Di panti, tidak ada kue lebaran dan sirup seperti halnya di kebanyak rumah pada saat hari raya. Coba ingat deh, tahun lalu berapa banyak makanan yang akhirnya terbuang karena sudah kadaluarsa dan berjamur? Kalau sekiranya keluarga kita tak sanggup menghabisinya sendiri, bagilah kepada anak-anak yatim yang memerlukan.
Saya tahu, sahabat-sahabat tak ingin melewatkan nikmatnya makan ketupat dan daging usai sholat Ied bersama seluruh anggota keluarga, ayah, ibu, isteri, anak-anak, adik, kakak, keponakan, sepupu dan keluarga besar lainnya.
Tetapi izinkan saya mengajak sahabat, di lebaran kali ini untuk membawa beberapa belah ketupat dan sedikit daging, kemudian kita makan bersama anak-anak yatim di panti asuhan. Jangan lupa, ajak teman-teman juga untuk menikmati lebaran spesial tahun ini.
Saya tahu, saudara-saudara rindu kampung halaman, rindu ayah dan ibu serta keluarga nun jauh disana. Memang mungkin saudara hanya punya sekali kesempatan dalam setahun mengunjungi orang tua. Andai tak memberatkan, bolehkah saya mengajukan tawaran menarik kepada saudara? Di panti asuhan banyak anak-anak yang selalu merindui kehadiran sosok ayah dan ibu dalam hidup mereka, namun sosok yang dirindui itu takkan pernah bisa mereka temui, bahkan setahun sekalipun.
Jika saudara berkenan merelakan lebaran tahun ini tak pulang kampung, kemudian kita pergi bersama-sama ke panti asuhan untuk mengobati rindu anak-anak yatim untuk bisa mencium punggung tangan “orang tua” yang selama ini mereka rindui. Mereka ingin sekali mendapat kasih sayang seperti yang selalu diterima anak-anak kita.
Saya pun mengerti, jika setiap lebaran kita ingin membahagiakan anak-anak serta keponakan dengan membagi-bagi angpaw lebaran di hari yang penuh kebahagiaan, sebagai bagian dari rasa syukur kita. Tetapi, izinkan saya melukiskan sekelumit kebahagiaan yang terpancar dari binar mata dan air muka anak-anak yatim saat mereka menerima sedikit rezeki dari kita. Mereka, penuh rasa syukur menerimanya, rasa mereka tentu lebih bahagia dari anak-anak kita yang memang sudah terbiasa menerima uang. Mereka memang tidak pernah meminta, tapi jika ada yang memberi, senyum mereka punya akan abadi hingga kembali bertemu hari raya di tahun yang akan datang.
Oya, satu lagi. Sepekan setelah lebaran, jika masih tersisa sedikit rezeki, ajak mereka yuk ke tempat rekreasi, seperti yang selalu kita hadiahkan untuk anak atau keponakan kita sendiri. Kapan terakhir mereka ke tempat rekreasi ya? Jangan-jangan mereka tak pernah tahu seperti apa pantai Ancol, Tugu Monas, Dunia Fantasi, Taman Ria, Kebun Binatang, yang buat anak-anak kita justru tidak mau lagi ke tempat itu karena sudah bosan.
Ini sekadar ajakan sederhana, sebagai bagian dari rasa syukur kita yang masih diberikan nikmat dari Allah SWT. Membuat anak-anak yatim tersenyum bahagia, mudah-mudahan Allah pun membahagiakan kita di dunia dan akhirat, bahkan membuat kita tersenyum di akhirat nanti. Yuk, lebaran bersama anak yatim!
Gaw
087 87 877 1961
0852 190 68581
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Sunday, September 14, 2008
Monday, September 08, 2008
Terima Kasih Telah Menendang Saya!
Iblis berkata;
“Saya punya anak yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkhutbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya”
Jum’at itu, saya berkesempatan sholat jum’at di Masjid Baitul Hikmah, PT. Elnusa, di Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Khatib baru saja naik mimbar dan saya mendengarkan ceramahnya. Entah kenapa, beberapa menit kemudian mata ini tanpa sadar terpejam, kira-kira 2-3 menit.
Saya mengambil posisi duduk di pojok dekat tangga karena tidak banyak pilihan tempat tersisa. Beberapa orang selalu lewat untuk naik ke lantai dua masjid dan saat mata terpejam itulah, sesosok tubuh besar melintas di depan saya, melangkahi kaki saya. Namun kaki kanannya tak sengaja menendang kaki saya, mengagetkan sekaligus membangunkan saya yang tengah tertidur.
Refleks saya berucap, “Astaghfirullah…”
Mungkin karena terlalu keras istighfar saya, orang yang ‘menendang’ saya itu kaget dan merasa bersalah. Ia lantas meminta maaf dan mengaku benar-benar tak sengaja.
Saya tak ingin berbicara, lantaran khutbah masih berlangsung. Saya hanya berikan senyum kepadanya, senyum setulus-tulusnya agar ia mengerti bahwa saya sama sekali tak marah. Bahkan seharusnya saya berterima kasih, ia telah membangunkan saya yang sempat tertidur saat mendengarkan khutbah.
Terima kasih telah menendang saya, setidaknya itu saya ucapkan dalam hati. Sebab, jika tidak iblis akan merasa menang karena telah berhasil mengusap celak mata saya agar tertidur diwaktu mendengarkan khutbah. Selain itu, jika tertidur saya sama sekali tak mendapatkan pelajaran apapun di majelis jum’atan kali itu.
Jadi, jangankan menendang, kalau perlu tamparlah saya jika Anda melihat saya tertidur dalam majelis ilmu, pengajian atau khutbah jum’at. Sebab yang ditampar sesungguhnya bukan saya, melainkan Si Kuhyal anak iblis itu. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab. (gaw)
artikel ini juga dimuat di: http://warnaislam.com
“Saya punya anak yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkhutbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya”
Jum’at itu, saya berkesempatan sholat jum’at di Masjid Baitul Hikmah, PT. Elnusa, di Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Khatib baru saja naik mimbar dan saya mendengarkan ceramahnya. Entah kenapa, beberapa menit kemudian mata ini tanpa sadar terpejam, kira-kira 2-3 menit.
Saya mengambil posisi duduk di pojok dekat tangga karena tidak banyak pilihan tempat tersisa. Beberapa orang selalu lewat untuk naik ke lantai dua masjid dan saat mata terpejam itulah, sesosok tubuh besar melintas di depan saya, melangkahi kaki saya. Namun kaki kanannya tak sengaja menendang kaki saya, mengagetkan sekaligus membangunkan saya yang tengah tertidur.
Refleks saya berucap, “Astaghfirullah…”
Mungkin karena terlalu keras istighfar saya, orang yang ‘menendang’ saya itu kaget dan merasa bersalah. Ia lantas meminta maaf dan mengaku benar-benar tak sengaja.
Saya tak ingin berbicara, lantaran khutbah masih berlangsung. Saya hanya berikan senyum kepadanya, senyum setulus-tulusnya agar ia mengerti bahwa saya sama sekali tak marah. Bahkan seharusnya saya berterima kasih, ia telah membangunkan saya yang sempat tertidur saat mendengarkan khutbah.
Terima kasih telah menendang saya, setidaknya itu saya ucapkan dalam hati. Sebab, jika tidak iblis akan merasa menang karena telah berhasil mengusap celak mata saya agar tertidur diwaktu mendengarkan khutbah. Selain itu, jika tertidur saya sama sekali tak mendapatkan pelajaran apapun di majelis jum’atan kali itu.
Jadi, jangankan menendang, kalau perlu tamparlah saya jika Anda melihat saya tertidur dalam majelis ilmu, pengajian atau khutbah jum’at. Sebab yang ditampar sesungguhnya bukan saya, melainkan Si Kuhyal anak iblis itu. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab. (gaw)
artikel ini juga dimuat di: http://warnaislam.com
Monday, September 01, 2008
Mereka Malu Kalau Anda ...
Suatu pagi, sebuah stasiun tv menayangkan berita penangkapan seorang pengedar narkoba di rumahnya. Penangkapan dilakukan aparat kepolisian di depan anak dan isteri si pelaku. Histeria pun terjadi, dua anaknya menangis berteriak-teriak berharap ayahnya tak ditangkap. Sedangkan isterinya terlihat shock, tak bisa berkata-kata.
Masih di program acara yang sama, juga di stasiun tv yang sama, seorang wanita paruh baya digelandang ke kantor polisi dengan tuduhan menipu sekitar ratusan orang dengan modus arisan. Ratusan orang yang merasa tertipu dan mengalami kerugian masing-masing satu hingga puluhan juta itu tak merasa iba dan bahkan berharap polisi segera menjebloskannya ke dalam sel. Sedangkan suami wanita itu, menutupi wajahnya lantaran malu. Empat anaknya yang sudah besar-besar pun menghindari kamera tv dan memilih tak berkomentar.
Nyaris setiap hari bisa kita saksikan berita semacam itu, kekeliruan yang dilakukan salah satu anggota keluarga, boleh jadi si Ayah, ibu, atau anak-anak, tidak hanya berdampak resiko buat si pelaku saja, melainkan keluarga mereka. Contoh pengedar narkoba tadi, awalnya anak-anak menangis karena tak ingin berpisah dengan ayahnya. Tetapi, hari-hari berikutnya tangis itu masih berlanjut bukan karena kehilangan figur teladan, melainkan kekecewaan yang teramat mendalam terhadap sosok yang selama ini selalu terlihat baik itu.
Tangis pun terus berlanjut, ketika di sekolah mereka pun dicemooh teman-temannya yang melihat wajah Ayah yang dicintainya berkali-kali ditayangkan di berbagai stasiun tv atau terpampang di koran. Mereka malu, kecewa, dan marah kepada Ayahnya. Begitu pun dengan isterinya, ia akan malu keluar rumah, tak tahan dengan ratusan pasang mata yang terus memandanginya. Sesekali telinganya menangkap bisikan, “itu lho… suaminya kan kemarin ditangkap polisi karena jadi pengedar”.
Tak berbeda kondisi yang terjadi dengan keluarga ibu yang dituduh menipu ratusan orang itu. Suaminya tak pernah menyangka apa yang dilakukan isterinya, begitupun anak-anaknya. Sebuah keputusan pun harus diambil, mau tak mau keluarga itu harus pindah rumah setelah sekian puluh tahun mengukir kenangan bersama rumah itu.
Sungguh, kita tak pernah sendiri melangkah. Ada kaki isteri, suami, anak-anak dan ratusan anggota keluarga lainnya yang mengiringi langkah ini. Ada harapan yang menyertai setiap ayunan langkah, yang kesemuanya berupa kebaikan. Lurus dan baik langkah ini, tersenyumlah mereka. Namun sebaliknya, tangis kecewa pun tak terbendung saat diri salah melangkah.
***
Satu pagi, saat kedua puteri saya meminta saya mengantarnya ke sekolah, saya sedang tak berpakaian dan hanya bercelana pendek. “Ayo Abi antar, begini saja ya…” ujar saya berseloroh.
Serempak mereka berteriak, “Nggaaaaaaaaaaaaaaakk…”
“Memangnya kenapa?” tanya saya.
“Malu tau… memangnya Abi nggak malu? Teteh sama dede sih malu dan mendingan nggak diantar Abi ke sekolah…”
Hmm… saya semakin yakin, bahwa orang-orang tercinta di lingkungan keluarga senantiasa berharap yang terbaik dari kita dan tak ingin kecewa atau malu. Doa pun terpanjat, semoga Allah senantiasa menyertai langkah ini agar tak salah arah.
Gaw
“ya Allah, jangan biarkan hamba kembali berbuat salah”
Masih di program acara yang sama, juga di stasiun tv yang sama, seorang wanita paruh baya digelandang ke kantor polisi dengan tuduhan menipu sekitar ratusan orang dengan modus arisan. Ratusan orang yang merasa tertipu dan mengalami kerugian masing-masing satu hingga puluhan juta itu tak merasa iba dan bahkan berharap polisi segera menjebloskannya ke dalam sel. Sedangkan suami wanita itu, menutupi wajahnya lantaran malu. Empat anaknya yang sudah besar-besar pun menghindari kamera tv dan memilih tak berkomentar.
Nyaris setiap hari bisa kita saksikan berita semacam itu, kekeliruan yang dilakukan salah satu anggota keluarga, boleh jadi si Ayah, ibu, atau anak-anak, tidak hanya berdampak resiko buat si pelaku saja, melainkan keluarga mereka. Contoh pengedar narkoba tadi, awalnya anak-anak menangis karena tak ingin berpisah dengan ayahnya. Tetapi, hari-hari berikutnya tangis itu masih berlanjut bukan karena kehilangan figur teladan, melainkan kekecewaan yang teramat mendalam terhadap sosok yang selama ini selalu terlihat baik itu.
Tangis pun terus berlanjut, ketika di sekolah mereka pun dicemooh teman-temannya yang melihat wajah Ayah yang dicintainya berkali-kali ditayangkan di berbagai stasiun tv atau terpampang di koran. Mereka malu, kecewa, dan marah kepada Ayahnya. Begitu pun dengan isterinya, ia akan malu keluar rumah, tak tahan dengan ratusan pasang mata yang terus memandanginya. Sesekali telinganya menangkap bisikan, “itu lho… suaminya kan kemarin ditangkap polisi karena jadi pengedar”.
Tak berbeda kondisi yang terjadi dengan keluarga ibu yang dituduh menipu ratusan orang itu. Suaminya tak pernah menyangka apa yang dilakukan isterinya, begitupun anak-anaknya. Sebuah keputusan pun harus diambil, mau tak mau keluarga itu harus pindah rumah setelah sekian puluh tahun mengukir kenangan bersama rumah itu.
Sungguh, kita tak pernah sendiri melangkah. Ada kaki isteri, suami, anak-anak dan ratusan anggota keluarga lainnya yang mengiringi langkah ini. Ada harapan yang menyertai setiap ayunan langkah, yang kesemuanya berupa kebaikan. Lurus dan baik langkah ini, tersenyumlah mereka. Namun sebaliknya, tangis kecewa pun tak terbendung saat diri salah melangkah.
***
Satu pagi, saat kedua puteri saya meminta saya mengantarnya ke sekolah, saya sedang tak berpakaian dan hanya bercelana pendek. “Ayo Abi antar, begini saja ya…” ujar saya berseloroh.
Serempak mereka berteriak, “Nggaaaaaaaaaaaaaaakk…”
“Memangnya kenapa?” tanya saya.
“Malu tau… memangnya Abi nggak malu? Teteh sama dede sih malu dan mendingan nggak diantar Abi ke sekolah…”
Hmm… saya semakin yakin, bahwa orang-orang tercinta di lingkungan keluarga senantiasa berharap yang terbaik dari kita dan tak ingin kecewa atau malu. Doa pun terpanjat, semoga Allah senantiasa menyertai langkah ini agar tak salah arah.
Gaw
“ya Allah, jangan biarkan hamba kembali berbuat salah”
Subscribe to:
Posts (Atom)