Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, October 17, 2007

Seorang Pengungsi Melahirkan di Tenda Kebakaran Cilincing


Rabu, 17 Oktober 2007, Posko ACT Medis sudah bersiap untuk ditutup sementara, karena pasien terakhir sudah selesai diperiksa dan tengah menunggu obat. Tiba-tiba sekitar pukul 15.33 WIB, seorang lelaki mendatangi posko medis dengan wajah panik, “Dokter, tolong segera ke tenda kami. Ada pengungsi yang mau melahirkan,” ujar lelaki itu tergopoh-gopoh.

Dr. Eddy Tarigan, ketua tim ACT Medis mengaku sudah biasa menangani pasien melahirkan. Dokter ahli penyakit dalam itu pun menyanggupi untuk segera ke tenda pasien, “Kalau ada bidan, sebaiknya ditangani bidan. Tapi kalau tidak ada, Insya Allah saya siap. Ayo kita berangkat,” serunya sambil membenahi peralatan medisnya.

Sesaat menunggu kabar tentang bidan setempat, namun dr. Eddy tidak mau menunggu lama dan langsung berlari menuju tenda pengungsi di seberang lokasi kebakaran Jl. Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Tidak lebih dari lima menit, tim sudah tiba di pengungsian. Jalan sempat terganggu oleh kerumunan pengungsi yang memadati masjid di sebelah tenda pengungsian. Di masjid tersebut, bantuan presiden baru saja tiba dan tengah dilakukan seremoni penyerahan bantuan untuk para pengungsi.

Sesampainya di tenda, ramai orang sudah memenuhi tenda tersebut. Dan ternyata, si bayi sudah keluar tanpa bantuan bidan maupun dokter. Suami korban sangat panik, sementara seorang ibu berteriak, “cepat panggil bidan, bayinya sudah keluar”.

“Permisi, kami tim dokter,” kami meminta jalan. Dr. Eddy langsung menangani bayi yang masih merah itu untuk memutus tali pusar. Alhamdulillah, dalam waktu beberapa menit, baik ibu maupun bayinya dapat diselamatkan. Sebuah mobil ambulance pun datang untuk membawa ibu dan bayi itu ke rumah sakit.

Seorang relawan ACT yang ikut menyaksikan proses persalinan itu, sempat berujar, “bayinya dikasih nama Abu Bakar saja. Karena lahir di lokasi kebakaran dan banyak abu di sekitarnya,” pengungsi yang lain pun tertawa. Suasana haru menyelimuti sekitar tenda pengungsian di Rabu sore itu. Subhanallah (gaw)

Catatan Lebaran 5: Tentang Peran Lembaga Zakat


Sehari sebelum hari raya Idul Fitri 1428 H, sebuah stasiun televisi swasta nasional menayangkan sebuah berita yang boleh diyakini membuat miris hati siapapun yang melihatnya. Digambarkan di sebuah wilayah di Riau, ribuan kaum fakir miskin berdesakan, saling sikut, saling tarik untuk berebut zakat dan sembako yang dibagikan oleh salah seorang dermawan di propinsi tersebut.

Tidak disebutkan secara persis jumlah fakir miskin yang melakukan aksi saling berdesakan itu, namun sangat jelas disebutkan –bahkan berulang-ulang- nilai uang yang membuat mereka memaksakan diri sikut kanan kiri bahkan rela terinjak-injak orang lain; yakni uang lima ribu rupiah dan paket sembako –tidak disebutkan jenis barangnya- senilai sepuluh ribu rupiah. Untuk seharga itu, tercatat ratusan orang, utamanya para lansia jatuh pingsan kehabisan nafas dan terinjak-injak.

Adegan kedua, masih ditayangkan di televisi swasta lainnya, Gubernur DKI Jakarta yang baru, Fauzi Bowo, membagi-bagikan ‘angpaw’ kepada sekitar 1500 warga Jakarta pada hari raya Idul Fitri. Warga berduyun-duyun mendatangi kediaman Bang Foke –panggilan akrab orang nomor satu di Jakarta itu untuk menerima amplop berisi selembar uang limapuluh ribu rupiah.

Yang menarik, belum selesai uang itu dibagi-bagikan kepada para warga yang sudah membentuk antrian panjang, tiba-tiba dihentikan dan antrian dibubarkan lantaran Wapres Jusuf Kalla datang bersilaturahim ke kediaman Foke. Alhasil, ribuan warga menggerutu, memaki-maki dan menyobek-nyobek kupon yang sudah dibagikan sebelumnya. Dalam berita itu, tidak dijelaskan apakah Foke melanjutkan pembagian amplop kepada warga Jakarta setelah Wapres pulang atau memang benar-benar tidak diteruskan.

Dari dua adegan tersebut, menarik untuk ditilik kembali peran berbagai lembaga zakat yang ada di Indonesia. Ini tidak bermaksud mengukur kinerja lembaga zakat, namun jika melihat apa yang terjadi dari dua tayangan di televisi tersebut bolehlah melayangkan satu pertanyaan; kenapa si dermawan tidak mempercayakan saja dana zakatnya kepada beberapa lembaga zakat, agar tidak perlu repot-repot membagi-bagikannya sendiri. Atau kenapa Bang Foke tidak menyerahkan dana ‘zakat maal’nya yang sekitar tujuh puluh lima juta rupiah itu untuk dikelola sebuah lembaga zakat, dan biarkan lembaga zakat itu yang bekerja.

Beragam alasan tentu saja melatarbelakangi dua kejadian itu. Mungkin saja ini bukan lantaran ketidakpercayaan si dermawan atau Bang Foke terhadap berbagai lembaga zakat. Boleh jadi ada faktor lain yang mendominasi aksi bagi-bagi zakat dan ‘angpaw’ itu. Bisa karena alasan politik atau alasan yang lebih bagus, ingin merasakan bersentuhan langsung dengan kaum dhuafa.

Lebih-lebih, di hari-hari akhir ramadhan dan di hari raya Idul Fitri, yang merupakan saat-saat setiap orang memiliki jiwa berbagi yang tinggi selain faktor kewajiban mengeluarkan sebagian harta yang dimilikinya melalui mekanisme zakat maupun infak, teramat banyak orang-orang yang tiba-tiba menjadi dhuafa, sekonyong-konyong terlihat layaknya kaum fakir yang memanfaatkan moment meningginya semangat berbagi itu.

Berkenaan dengan peran lembaga zakat, jelas tugas yang diemban sudah sedemikian berat –bukan saja mulia. Jadi tak perlu merasa direpotkan dengan sikap beberapa pihak yang lebih senang membagi-bagikan sendiri zakat dan kepeduliannya. Toh, masih jauh lebih banyak para muzakki yang menitipkan zakatnya kepada para lembaga zakat ini. Bagaimana pun, dua adegan diatas hanyalah bagian dari dinamika menuju pengelolaan dan pemanfaatan zakat agar lebih baik lagi di masa yang akan datang. Insya Allah (gaw)

Kembali dari Kampung, Rumah Ludes Terbakar

Kebakaran yang melanda kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (15/10) lalu, menyisakan lautan kesedihan bagi para korban. Terutama mereka yang saat kejadian tengah berada di kampung halamannya untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga. Kesedihan sangat nampak di wajah mereka yang hanya bisa menatap nanar rumah dan harta benda yang tak lagi tersisa.

Sriatun misalnya, ia dan keluarganya tengah berada di Indramayu untuk berlebaran ketika api melalap tidak kurang dari 500 rumah di Cilincing, termasuk rumahnya. Sri dan keluarganya mendapat kabar dari para tetangganya melalui telepon, "waktu ditelepon, katanya rumah kebakaran, saya langsung lemas dan tidak bisa berkata apa-apa," ujar Sri yang langsung mengajak suami dan anak-anaknya ke Jakarta untuk melihat rumahnya.

Selasa pagi (16/10), ia tiba di Cilincing dan mendapati rumahnya sudah hangus terbakar, bahkan rata dengan tanah. "Tidak satupun yang tersisa mas, ludes semua apa yang kami miliki," lirihnya sambil mengumpulkan beberapa mangkuk dan piring yang meski masih utuh namun sudah hangus terbakar.

Lain halnya dengan Karnadi (51), pedagang ayam potong ini ketika kebakaran terjadi tidak pulang kampung. Hanya saja ia dan isterinya ditinggal pulang kampung oleh kelima anaknya ke Tegal. Sehingga hanya ia dan isterinya saja yang berjuang menyelamatkan barang-barang dan hartanya. "harta saya yang paling berharga cuma freezer untuk menyimpan ayam potong ikut terbakar, tidak sempat kami selamatkan," kata Karnadi sambil terduduk lemah.

Teramat banyak kisah memilukan di antara puing-puing dan aroma hangus serta beberapa titik asap yang menyeruak. Kisah pilu yang takkan pernah selesai jika hanya disikapi dengan air mata dan empati. Mari, bantu mereka... (gaw)