Iwan, sahabat jaman sekolah dulu, saya bertemu lagi dengannya beberapa waktu lalu di tempat parkir mobil sebuah pusat perbelanjaan. Ada yang lain dengannya kali ini. Enam tahun lalu saat kali terakhir bertemu dengannya, ia masih berseragam biru sebagai petugas pengisi BBM di pom bensin. Waktu itu saya berniat mengisi BBM untuk motor saya dan Iwan menyapa hangat, “Wah hebat, motor kamu bagus. Kapan ya saya bisa punya motor bagus seperti ini…”
Sungguh, Iwan yang sekarang saya temui setelah enam tahun lalu telah jauh berbeda. Ia mampu melampaui keinginannya untuk sekadar memiliki motor sebagus yang saya miliki saat itu. Kali ini, ia memperlihatkan kepada saya, sebuah mobil miliknya yang belum lama ia miliki, disaat saya masih tetap mengendarai sepeda motor.
Saya akui, bahwa saya benar-benar harus mengatakan, “hebat kamu Wan, dulu cuma ingin punya motor. Hari ini saya bertemu lagi, Iwan bahkan sudah mengendarai mobil, lebih dari sekadar motor”.
Dan yang lebih mengagumkan adalah dimana ia bekerja saat ini, “Saya punya bengkel dan salon motor cukup besar, mampirlah suatu waktu,” ujarnya sambil menyerahkan selembar kartu nama.
Ya, Iwan. Jika dulu ia hanya bermimpi memiliki sebuah sepeda motor, kini ia memiliki sebuah tempat untuk banyak pemiliki motor mendandani motornya. Kalaulah dulu ia terkagum dengan motor yang saya miliki, kini ia boleh berbangga dengan mobil baru miliknya. Semuanya, kata Iwan, adalah hasil kerja kerasnya dan keinginan yang kuat menjadi besar. “Siapa sih yang mau selamanya jadi orang kecil?” semangatnya.
Lain Iwan lain lagi seorang tukang sampah yang saya pernah saya temui di sebuah jalan raya. Belajar dari contoh keberhasilan Iwan, saya yakin sekali bahwa tidak semua tukang sampah yang saya lihat hari ini masih mengais sampah di sepanjang jalan Ibukota, beberapa tahun lagi akan tetap mengaih sampah. Boleh jadi, lima atau sepuluh tahun yang akan datang, si tukang sampah yang kita lihat hari ini memungut sampah yang kita buang ke jalan, akan mengendarai mobil yang sama mewahnya dengan yang kita pakai. Mungkin saja, pekerjaannya saat ini masih di bidang yang sama dengan sepuluh tahun lalu, seputar sampah. Hanya saja, kali ini ia menjadi bos dari puluhan bahkan ratusan tukang sampah di Jakarta.
Hidup itu berputar, dan akan selalu seperti itu. Tak selamanya tukang sampah akan tetap selamanya menjadi tukang sampah. Tidak selamanya pengisi BBM di pom bensin bertahun-tahun melulu sekadar bermimpi memiliki kendaraan sebagus yang selalu ia lihat setiap harinya saat mengisi bensin. Kuncinya adalah keinginan kuat untuk mengubah nasib, kemauan untuk menjadi besar, keengganan untuk tak selamanya menjadi orang kecil. Dan yang terpenting, seperti kata Iwan sahabat saya itu, “Kerja keras dan berdoa,” sebuah rumus yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun.
Satu hal lagi sekadar renungan untuk kita, jangan pernah menilai orang lain dari apa yang kita lihat hari ini. Boleh jadi, suatu saat ia lebih bernilai dari kita. Di saat orang lain berusaha keras mengubah nasibnya, kita masih terlena dan merasa puas dengan apa yang kita nikmati hari ini. Sungguh, orang di luar sana tengah berlari mengejar mimpi, sementara kita masih terus bermimpi dalam tidur panjang sendiri. (Gaw)
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Wednesday, April 11, 2007
Tuesday, April 10, 2007
Persembunyian Terbaik; Terang dan Terbuka
Suatu hari, ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya. “Guru, tunjukkan saya satu tempat sebagai tempat sembunyi paling aman…”
Dengan tenang, sang guru menjawab, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka,”
Mendengar jawaban itu, si murid terheran dan bertanya kembali, “Guru, saya ini sudah lelah terus menerus sembunyi namun tetap saja diketahui orang. Setiap kali saya merasa sudah menemukan tempat terbaik untuk bersembunyi, selalu saja mudah bagi orang lain menemukan saya. Kenapa justru guru menganjurkan saya bersembunyi di tempat terang dan terbuka? Ya sudah pasti akan lebih mudah orang melihat saya…”
Untuk jawaban kedua, Sang guru hanya mengeluarkan kalimat yang hampir sama, “Cobalah, bersembunyilah di tempat yang saya sarankan…”
Merasa tidak puas. Akhirnya si murid pergi meninggalkan gurunya. Namun sepanjang perjalanan ia terus merenungi kalimat gurunya, yang menganjurkannya bersembunyi di tempat terang dan terbuka. Tentu ada maksud tertentu dari sang guru dari anjuran tersebut.
Suatu hari, ia kembali merasa dikejar perasaan bersalah atas perbuatannya tempo dulu. Ia merasa setiap mata terus menerus mencari jejaknya dan akan mengadilinya. Maka ia pun kembali berlari dan mencari tempat sembunyi. Di saat itulah, ia teringat pesan gurunya, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka”
Maka, melengganglah ia dengan tenang di depan khalayak ramai, di pasar, di taman bermain, dan tempat-tempat keramaian lain yang menjadi pusat aktivitas orang banyak. Aneh memang, pada mulanya ia merasa malu pada setiap pasang mata yang menatapnya tajam, pada setiap mulut yang pedas mencibirnya, atau bahkan makian yang membuat hatinya tercabik-cabik. Tetapi beberapa saat setelah itu, hatinya sangat tenang, wajahnya kembali berseri dan ia tak perlu menundukkan kepala setiap melintasi tempat keramaian.
Selama ini, ia selalu merasa cemas dan ketakutan karena merasa semua orang di muka bumi mencarinya. Selama ini, setiap kali menemukan tempat persembunyian yang dianggap paling aman, justru ia merasa tidak aman. Rasa cemas dan takut terus menerus menghantui dirinya selama di tempat persembunyian, dan karena itulah setiap orang teramat mudah menemukan tempat persembunyiannya.
Setelah mengikuti anjuran sang guru untuk bersembunyi di tempat terang dan terbuka, justru ia merasa aman dan nyaman, meski harus didahului dengan perasaan malu dan sakit. Tetapi ia tidak lagi merasa dihantui terus menerus, tidak lagi cemas, dan hatinya sangat tenang.
Maka, ia pun merasa harus mengunjungi gurunya.
“Saya baru mengerti maksud guru tentang tempat terbaik untuk bersembunyi itu. Ternyata yang guru maksud tempat terang dan terbuka itu tidak lain tidak bukan adalah; jujur”
***
Setiap manusia pasti dan pernah melakukan kesalahan. Bersembunyi, atau menyembunyikan kesalahan terus menerus hanya akan membuat hati cemas, gelisah dan takut. Selalu khawatir jika suatu waktu dan pada akhirnya orang lain mengetahui perbuatan salah kita itu. Kejujuran kadang harus dibayar dengan perih dan malu, tetapi sesungguhnya itu akan membawa ketenangan batin selamanya. Jujur dan terbuka, disitulah mata air ketenangan jiwa (Gaw)
Dengan tenang, sang guru menjawab, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka,”
Mendengar jawaban itu, si murid terheran dan bertanya kembali, “Guru, saya ini sudah lelah terus menerus sembunyi namun tetap saja diketahui orang. Setiap kali saya merasa sudah menemukan tempat terbaik untuk bersembunyi, selalu saja mudah bagi orang lain menemukan saya. Kenapa justru guru menganjurkan saya bersembunyi di tempat terang dan terbuka? Ya sudah pasti akan lebih mudah orang melihat saya…”
Untuk jawaban kedua, Sang guru hanya mengeluarkan kalimat yang hampir sama, “Cobalah, bersembunyilah di tempat yang saya sarankan…”
Merasa tidak puas. Akhirnya si murid pergi meninggalkan gurunya. Namun sepanjang perjalanan ia terus merenungi kalimat gurunya, yang menganjurkannya bersembunyi di tempat terang dan terbuka. Tentu ada maksud tertentu dari sang guru dari anjuran tersebut.
Suatu hari, ia kembali merasa dikejar perasaan bersalah atas perbuatannya tempo dulu. Ia merasa setiap mata terus menerus mencari jejaknya dan akan mengadilinya. Maka ia pun kembali berlari dan mencari tempat sembunyi. Di saat itulah, ia teringat pesan gurunya, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka”
Maka, melengganglah ia dengan tenang di depan khalayak ramai, di pasar, di taman bermain, dan tempat-tempat keramaian lain yang menjadi pusat aktivitas orang banyak. Aneh memang, pada mulanya ia merasa malu pada setiap pasang mata yang menatapnya tajam, pada setiap mulut yang pedas mencibirnya, atau bahkan makian yang membuat hatinya tercabik-cabik. Tetapi beberapa saat setelah itu, hatinya sangat tenang, wajahnya kembali berseri dan ia tak perlu menundukkan kepala setiap melintasi tempat keramaian.
Selama ini, ia selalu merasa cemas dan ketakutan karena merasa semua orang di muka bumi mencarinya. Selama ini, setiap kali menemukan tempat persembunyian yang dianggap paling aman, justru ia merasa tidak aman. Rasa cemas dan takut terus menerus menghantui dirinya selama di tempat persembunyian, dan karena itulah setiap orang teramat mudah menemukan tempat persembunyiannya.
Setelah mengikuti anjuran sang guru untuk bersembunyi di tempat terang dan terbuka, justru ia merasa aman dan nyaman, meski harus didahului dengan perasaan malu dan sakit. Tetapi ia tidak lagi merasa dihantui terus menerus, tidak lagi cemas, dan hatinya sangat tenang.
Maka, ia pun merasa harus mengunjungi gurunya.
“Saya baru mengerti maksud guru tentang tempat terbaik untuk bersembunyi itu. Ternyata yang guru maksud tempat terang dan terbuka itu tidak lain tidak bukan adalah; jujur”
***
Setiap manusia pasti dan pernah melakukan kesalahan. Bersembunyi, atau menyembunyikan kesalahan terus menerus hanya akan membuat hati cemas, gelisah dan takut. Selalu khawatir jika suatu waktu dan pada akhirnya orang lain mengetahui perbuatan salah kita itu. Kejujuran kadang harus dibayar dengan perih dan malu, tetapi sesungguhnya itu akan membawa ketenangan batin selamanya. Jujur dan terbuka, disitulah mata air ketenangan jiwa (Gaw)
Tuesday, April 03, 2007
Yang Pas-Pas Aja Deh...
Saya masih ingat betul, pengalaman sepuluh tahun lalu ketika masih menjadi pemandu untuk para pendaki gunung pemula. Anak-anak SMP dan SMA, laki-laki dan perempuan, dari sekolah-sekolah tertentu, sering meminta tenaga kami untuk memandu perjalanan pertama mereka ke gunung tertentu juga. Tidak hanya gunung, kadang kami juga harus memenuhi permintaan pemandu untuk ke gua atau tracking ke kawasan Baduy.
Suatu hari, sekelompok anak sekolah dari Tangerang sudah berkumpul di wilayah Cibodas, Jawa Barat, untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede-Pangrango. Seperti biasa, setiap anggota harus mengecek perlengkapan dan perbekalan yang ada. Segala yang tidak penting dan memberatkan harus disortir dan diminimalisir. Ada-ada saja anak-anak sekolah itu. Ada yang sengaja membawa selimut, radio tape, alat musik, dan bahkan obat nyamuk! Semua itu harus disingkirkan, selain memberatkan tentu saja tidak perlu dan alat musik dilarang.
Rupanya, hampir semua anak -lebih tepatnya orangtuanya- takut kelaparan di gunung. Jadi, hampir setiap anak membawa serta satu tas daypack khusus berisi makanan ringan dan berat. Makanan-makanan ini, mungkin tidak memberatkan. Hanya saja jumlahnya yang overload sehingga dikhawatirkan akan membuat mereka kerepotan sendiri. Kami hanya mengingatkan agar mereka membawa turun kembali semua sampah yang dibawa dari bawah.
Nah, yang menarik adalah pakaian mereka. Beberapa anak lelaki menggunakan baju gamis (pakaian pria muslim). "Saya kan muslim, ini pakaian yang menunjukkan identitas kemusliman saya," alasan mereka mengenakannya.
Ya iyalah...
Inilah yang lebih ingin saya ceritakan. Seperti cerita di atas soal pakaian, saya kenal seorang satpam yang baru saja pulang dari tanah suci. Semenjak menyandang titel "haji", satpam itu senang mengenakan peci putih. Sebenarnya wajar dan sah saja seseorang mengenakan peci putih, apalagi buat orang yang merasa sudah menyandang predikat haji. Hanya saja menjadi tidak pas jika ia mengenakannya juga pada saat bertugas di kantornya.
Suatu hari, pimpinan di kantornya bekerja memanggil satpam haji itu. "Kenapa bapak pakai peci putih saat bertugas?"
"Seperti bapak ketahui, saya kan baru pulang haji," jawabnya.
Kemudian pimpinan tersebut mendekati si satpam dan berkata, "saya juga sudah pernah ke tanah suci dan bahkan beberapa kali. Tapi saya tidak harus mengenakannya ketika sedang bekerja atau menghadapi klien. Saya hanya mengenakannya pada saat-saat yang memang tepat waktu dan tempatnya," terang si pimpinan.
Ya. Sama dengan kasus anak SMA yang memakai baju gamis di gunung. Jelas tidak salah jika ia tetap mengenakannya, pun tidak ada larangan akan hal itu. Tetapi untuk naik gunung ada pakaian yang lebih pas dan lebih fleksibel, seperti T-Shirt atau casual. Pertanyaannya, kalau yang naik gunung itu Kyai atau Santri sebuah pesantren, apakah mereka tetap harus mengenakan kain sarung?
Peci putih milik pak Satpam, tentu saja tetap boleh dikenakan. Mungkin dan waktunya saja yang perlu diatur. Saat sedang bertugas, topi seragam satpam -mirip topi polisi- itu lah yang lebih pas dipakai.
Terlebih, identitas kemusliman seseorang bukanlah tempelan. Bukan sekadar simbol-simbol yang diwakilkan oleh baju gamis, peci haji, atau stiker bertuliskan "I'm Muslim". Siapa pun akan mengenali Anda seorang muslim dari tutur kata, sikap dan kepribadian sehari-hari, meski pun Anda tak sedang memakai baju gamis atau peci putih. Insya Allah. (Gaw)
Suatu hari, sekelompok anak sekolah dari Tangerang sudah berkumpul di wilayah Cibodas, Jawa Barat, untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede-Pangrango. Seperti biasa, setiap anggota harus mengecek perlengkapan dan perbekalan yang ada. Segala yang tidak penting dan memberatkan harus disortir dan diminimalisir. Ada-ada saja anak-anak sekolah itu. Ada yang sengaja membawa selimut, radio tape, alat musik, dan bahkan obat nyamuk! Semua itu harus disingkirkan, selain memberatkan tentu saja tidak perlu dan alat musik dilarang.
Rupanya, hampir semua anak -lebih tepatnya orangtuanya- takut kelaparan di gunung. Jadi, hampir setiap anak membawa serta satu tas daypack khusus berisi makanan ringan dan berat. Makanan-makanan ini, mungkin tidak memberatkan. Hanya saja jumlahnya yang overload sehingga dikhawatirkan akan membuat mereka kerepotan sendiri. Kami hanya mengingatkan agar mereka membawa turun kembali semua sampah yang dibawa dari bawah.
Nah, yang menarik adalah pakaian mereka. Beberapa anak lelaki menggunakan baju gamis (pakaian pria muslim). "Saya kan muslim, ini pakaian yang menunjukkan identitas kemusliman saya," alasan mereka mengenakannya.
Ya iyalah...
Inilah yang lebih ingin saya ceritakan. Seperti cerita di atas soal pakaian, saya kenal seorang satpam yang baru saja pulang dari tanah suci. Semenjak menyandang titel "haji", satpam itu senang mengenakan peci putih. Sebenarnya wajar dan sah saja seseorang mengenakan peci putih, apalagi buat orang yang merasa sudah menyandang predikat haji. Hanya saja menjadi tidak pas jika ia mengenakannya juga pada saat bertugas di kantornya.
Suatu hari, pimpinan di kantornya bekerja memanggil satpam haji itu. "Kenapa bapak pakai peci putih saat bertugas?"
"Seperti bapak ketahui, saya kan baru pulang haji," jawabnya.
Kemudian pimpinan tersebut mendekati si satpam dan berkata, "saya juga sudah pernah ke tanah suci dan bahkan beberapa kali. Tapi saya tidak harus mengenakannya ketika sedang bekerja atau menghadapi klien. Saya hanya mengenakannya pada saat-saat yang memang tepat waktu dan tempatnya," terang si pimpinan.
Ya. Sama dengan kasus anak SMA yang memakai baju gamis di gunung. Jelas tidak salah jika ia tetap mengenakannya, pun tidak ada larangan akan hal itu. Tetapi untuk naik gunung ada pakaian yang lebih pas dan lebih fleksibel, seperti T-Shirt atau casual. Pertanyaannya, kalau yang naik gunung itu Kyai atau Santri sebuah pesantren, apakah mereka tetap harus mengenakan kain sarung?
Peci putih milik pak Satpam, tentu saja tetap boleh dikenakan. Mungkin dan waktunya saja yang perlu diatur. Saat sedang bertugas, topi seragam satpam -mirip topi polisi- itu lah yang lebih pas dipakai.
Terlebih, identitas kemusliman seseorang bukanlah tempelan. Bukan sekadar simbol-simbol yang diwakilkan oleh baju gamis, peci haji, atau stiker bertuliskan "I'm Muslim". Siapa pun akan mengenali Anda seorang muslim dari tutur kata, sikap dan kepribadian sehari-hari, meski pun Anda tak sedang memakai baju gamis atau peci putih. Insya Allah. (Gaw)
Subscribe to:
Posts (Atom)