Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, November 07, 2006

Kulit Buah Pun Jadi Rebutan

Entah untuk keberapa kalinya diri ini mengurut dada. Miris rasanya ketika Sabtu lalu kembali mata ini menangkap pemandangan memilukan. Empat anak-anak berusia rata-rata lima tahun membuat mata ini menitikkan bulir bening seraya berucap, "Ya Allah, benarkah hamba berada di negeri yang kaya?"

Sabtu lalu, anak-anak meminta dibelikan buah segar yang biasa dijual keliling. Seperti diketahui, beberapa buah tersedia seperti semangka, melon, nanas, dan pepaya sudah dipotong panjang-panjang dan dibungkus dalam plastik. Jika ada yang membeli, buah itu dipotong-potong kecil dan dipisahkan dari kulitnya. Segar, dingin, dan manis, tentu saja anak-anak sangat menyukai buah tersebut. Saya yang tak ikut menikmatinya pun seolah bisa ikut merasakan kesegarannya hanya dengan melihat lahapnya anak-anak menyantap buah.

Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, setelah secara tak sengaja mata ini menangkap empat anak kecil berebut kulit buah yang telah dipisahkan, yang buahnya disantap oleh anak-anak saya. Setiap kali ada pembeli, mereka berkerumun di samping penjual buah dengan tangan siaga menangkap kulit buah yang akan dibuang. Berhasil mendapatkan kulit buah, maka mulut dan gigi mereka segera menggerus kulit yang masih menyisakan sisa tipis buah itu. Setelah itu, berganti lidah mereka menjilatinya. "Ya Allah... "

Tasya, Ricky, Ryan dan Erfin. Jangan tertipu dengan nama-nama bagus mereka. Anak-anak berusia lima tahun itu tidak sekolah, pakaian mereka pun lusuh. Entah kapan terakhir mereka makan buah-buahan, atau jangan-jangan hari itu mereka belum sarapan dan makan siang sehingga keempatnya harus berebut kulit buah dan menjilatinya.

Tak tega terus menerus menyaksikan pemandangan seperti itu. Saya minta penjual buah memberikan beberapa buah segar kepada anak-anak tersebut, agar mereka tak hanya menggerogoti kulitnya saja. Nikmat sekali melihat mereka bahagia, walau hanya sepotong buah yang entah sudah berapa lama tak mereka nikmati.

Empat anak-anak berusia lima tahun itu, bukan saya temui di Bangladesh, salah satu negeri paling miskin di dunia. Bukan juga di Ethiopia atau beberapa negara di benua Afrika lainnya yang selama ini terkenal dengan kelaparannya. Tetapi, mereka ada di Serpong, sebuah kota kecil di Provinsi Banten, hanya beberapa puluh kilometer dari pusat pemerintahan negeri ini.

Bayu Gawtama

Friday, November 03, 2006

Tentang School of Life

“Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru”
Orang bijak bilang, sering kali masalah timbul dari diri sendiri. Karenanya, sesungguhnya yang paling mengerti bagaimana menyelesaikannya, adalah si pembuat masalah itu sendiri. Namun, kadang seseorang membutukan orang lainnya untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan untuk meminta tolong, melainkan untuk sama-sama belajar kepada orang lain, mengingat hampir setiap orang memiliki masalah yang sama, hanya waktu, bentuk, tempat, dan tingkatannya saja yang berbeda. Atas dasar itulah, School of Life diselenggarakan. Anda berminat? Bergabunglah bersama kami di sekolah yang menerapkan sistem andragogi plus (pendidikan untuk orang dewasa yang mendewasakan)

Tentang School of Life
School of Life –sekolah kehidupan- adalah sebuah program yang menawarkan ruang bagi masyarakat yang membutuhkannya, ruang untuk berbagi, tempat untuk belajar dari orang lain, dan ruang yang terbuka luas tempat Anda mencurahkan segala yang selama ini terpendam. Jika selama ini Anda tak menemukan satu ruang dan kesempatan untuk didengarkan, School of Life-lah ruang yang kami sediakan untuk Anda.

School of Life menyajikan materi yang sangat luas, tak butuh kurikulum, modul atau pun buku panduan. Karena semuanya sudah disediakan oleh kehidupan ini, kita hanya tinggal memilihnya saja. Sebab itu, tidak ada materi yang baku di setiap chapter, para peserta lah yang menentukan materinya sesuai dengan kebutuhan mereka. Jelas karena kami yakin, para peserta sendiri yang lebih tahu kebutuhan belajar mereka.

School of Life tidak punya ruang belajar dan gedung sekolah. Sesuai dengan motto kami, “Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru”. Jadi, ruang belajar bisa dimana saja, sesuai kesepakatan peserta. Dimana peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, disitu kita jadikan ruang belajar. Dimungkinkan selalu berubah lokasi belajarnya, dan sangat dimungkinkan untuk dibuka di banyak tempat dan daerah, termasuk di luar kota dan dan luar negeri.

• Sekolah yang tidak ada alumninya, sebab belajar tentang kehidupan hanya akan berakhir bersamaan dengan saat kita mengakhiri kehidupan ini
• Semua peserta adalah guru, begitu pun semua peserta adalah muridnya
• Tidak ada gedung sekolah, ruang kelas tetap, seragam, apalagi peraturan.
• Persaratannya hanya satu, yakni: tidak ada persaratan
• Tidak ada kurikulum, modul, kertas kerja, dan buku panduan, karena semuanya sudah tersedia oleh kehidupan ini. Peserta cukup mempersiapkan untuk berbagi (share) kepada sesama tentang pelajaran yang akan dibahas.
• Pelajaran yang didapat dari sekolah ini semuanya tentang kehidupan sehari-hari
• Tujuan dari sekolah ini hanya satu; untuk hidup lebih baik

Metode belajar
• Dynamic Group
• Brainstorming and share story
• Simulation and role play

Kelas School of Life
• Kelas akan terbagi-bagi menjadi 3 kategori; kelas umum (reguler), kelas remaja (SOL for Teens) dan kelas anak-anak (SOL for Children). (sementara baru kelas umum yang terselenggara)
• 20 peserta perkelas, demi terselenggaranya dinamika kelas yang efektif
• 20 peserta berikutnya akan dibuat dalam kelas berikutnya, dan seterusnya
• Dimungkinkan membuka kelas baru di berbagai daerah dan luar kota, termasuk luar negeri. Misalnya, di Denpasar terdapat 40 peminat, maka akan dibuka dua kelas baru.

Pengelola kelas School of Life
1. Bayu Gawtama, penggagas, fasiliator, penulis buku School of Life
2. Bobby Herwibowo, Inspirator
3. Tim Manajemen School of Life (SOL)

School of Life, for better life
"Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru"
info: school.of.life@hotmail.com
0852 190 68581 - 0888 190 2214

Thursday, November 02, 2006

Catatan Lebaran III : Khutbah Id, Diantara Pesan Moral dan Belah Ketupat

Ada yang menarik jika kita mau memperhatikan pelaksanaan sholad Id. Di banyak tempat, seiring dengan bertahun-tahun kita mengikuti sholat Id di berbagai tempat maupun di tempat yang itu-itu saja, cobalah perhatikan satu acara inti dari rangkaian sholat Idul Fitri. Yang dimaksud yakni pada saat khutbah Id, sesaat seusai sholat Id dilaksanakan.

Ketika khatib naik mimbar, seketika itu pula sebagian kecil jamaah meninggalkan lapangan/tempat pelaksanaan sholat. Ada sebagian ibu-ibu beralasan menyiapkan makanan bagi anggota keluarganya, agar jika sepulang mereka dari sholat Id, makanan sudah tersaji. Entah apa pun alasannya, sangat menarik untuk mengkaji hal ini lebih lanjut.

Bisa dibayangkan perasaan semua khatib yang naik mimbar usai sholat Id, itu pun andai mereka memahami. Tapi sebagai seorang yang senantiasa berhadapan dengan khalayak manusia, tentu saja para khatib ini tahu persis semua masalah yang kerap terjadi pada saat pesan moral dan ceramah tengah disampaikan. Salah satunya, ditinggalkan jamaah. Bedanya, jika di moment yang lain jamaah meninggalkan arena tabligh lantaran beberapa sebab, misalnya, penceramahnya tidak bagus, materinya kurang mengena, atau acaranya terlalu malam dan lain sebagainya. Namun semoga bisa disimpulkan, jamaah sholat Id yang meninggalkan lapangan sesaat ketika sang khatib baru saja berucap, “Assalaamu’alaikum…” mungkin karena mereka menganggap khutbah Idul Fitri tak lebih penting dari ketupat dan kue lebaran yang menanti di rumah.

Mari kita bayangkan sejenak. Khatib sholat Id harus berdiri diantara dua hal penting, kepentingan untuk menyampaikan pesan moralnya dan kepentingan para jamaah yang berharap khatib tak berlama-lama menyampaikan ceramahnya, lantaran mereka ingin segera ‘berlebaran’. Singkatnya, khatib berdiri diantara pesan moral dan belah ketupat. Benarkah?

Sesekali –mungkin saat sholat Id tahun depan- jangan terlalu serius dan khusyuk menyimak ceramah khatib. Coba sedikit celingak-celinguk ke kanan, kiri, depan, dan belakang, perhatikan para jamaah lainnya. Ada yang terpejam, namun telinga masih mendengar. Sebagian bahkan sudah tertidur pulas, nampak dari ayunan kepalanya. Sebagian yang tidak tidur terbagi dua, yang serius menyimak ceramah dan satu lagi yang terlihat sedikit gusar berharap tak lebih dari lima menit khatib berdiri di mimbar.

Lima menit ceramah berlangsung, yang terpejam sudah tertidur, yang tertidur sudah bermimpi, yang gusar makin gelisah. Satu persatu perangkat sholat mulai dikemas, peci, mukena, sajadah mulai dilipat. Ada yang berselonjor kaki, menekuk lutut sambil membenamkan wajah diantara kedua lututnya. Beberapa orang nampak mengubah posisi duduknya, miring ke kanan, ke kiri, ada pula yang jomplang ke belakang dengan menjadikan dua lengan sebagai penyanggah tubuh. Lihat lebih jauh ke belakang, ada yang saling ‘berceramah’, tandingan ceramah sang khatib. Ngobrol, membuat topik lain yang dianggap lebih seru ketimbang tema yang disodorkan khatib.

Kasihan sekali nasib khatib di atas mimbar. Berapa persen yang benar-benar menyimak pesan moral yang disampaikannya? Atau jangan-jangan ada khatib yang tidak peduli dengan hal demikian dan terus saja menyelesaikan baca teks ceramah di tangannya. Suka tidak suka, ada yang menyimak atau lebih suka tertidur, yang penting tugas selesai.

Lima belas menit belum juga selesai ceramah sang khatib. Padahal belah ketupat sudah menari-nari di pelupuk mata jamaah. Beberapa tempat sudah lowong, menyisakan koran-koran lusuh yang ditinggalkan begitu saja, sekaligus menjadi pekerjaan tambahan panitia penyelenggara sholat Id untuk membersihkannya. Boleh ditebak, sebagian jamaah yang bertahan mungkin hanya tidak enak meninggalkan tempat sholat. Mungkin karena orang tuanya masih bertahan, suaminya masih serius menyimak, temannya belum beranjak. Sebagian lainnya justru malu jika sendirian melenggang, sambil lirik kanan kiri andai ada jamaah lain yang beranjak pergi dan bisa dijadikan teman menanggung malu. Jamaah lainnya menanti-nanti kalimat, “demikian khutbah yang bisa saya sampaikan…” dari sang khatib.

Ada yang salah dengan pelaksanaan sholat Id kita? Semoga bisa menjadi koreksi tersendiri. Bagi kita para jamaah, juga para khatib yang bertugas menyampaikan pesan moral nan religius. Tentu saja tidak semua khatib mengalami nasib seperti ini, berdiri diantara pesan moral dan belah ketupat. Sama halnya dengan tidak semua jamaah mementingkan belah ketupat tinimbang menyelesaikan seluruh rangkaian sholat Id dengan penuh khidmat dan khusyuk. Wallaahu ‘a’lam.

Bayu Gawtama
Kelas SCHOOL of LIFE sudah dibuka, 90 orang sudah mendaftar. Cari infonya di school.of.life@hotmail.com