Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, June 14, 2006

"Bawa Foto Dede, ya..."

Sungguh saya tak pernah berani bertanya, keberatankah mereka jika saya terlalu sering pergi ke lokasi bencana beberapa pekan. Tak ada sedikit pun ingin saya berpikir, rindukah anak-anak jika lelaki satu-satunya di rumah ini harus pergi berminggu-minggu meninggalkan mereka? Atau bahkan berpikir pun saya tak mampu untuk sekadar membayangkan betapa sepinya hari-hari mereka tanpa saya.

Setiap malam menjelang tidur, adalah waktu bagi seorang Ayah seperti saya mentransfer nilai-nilai kehidupan melalui dongeng. Setelah sebelumnya berlelah-peluh meramaikan malam di rumah kami dengan canda dan bermain bersama. Cukup padat waktu sepanjang malam selepas sholat maghrib berjamaah, yang kemudian berlanjut dengan mempelajari ayat-ayat Allah atau memperlancar bacaan si kecil yang agak sedikit malas belajar. "Kalau nggak belajar, nggak ada dongeng" kalimat ini menjadi senjata pamungkas setiap kali rasa malas menyerang mereka.

Akan ada banyak malam mereka lewatkan tanpa dongeng, ada banyak waktu sholat mereka tanpa imam laki-laki, dan entah berapa menit waktu sepi mereka tanpa kehadiran lelaki penghibur ini. Entah kemana mereka berlari untuk mengadu sedih saat berselisih-soal atau berebut mainan, kepada siapa mereka menabrakkan kepalanya seraya mencucurkan air mata dan berkata, "Ummi nakal..." bahasa yang mereka pakai ketika tak sependapat dengan umminya.

Ingin hati bertanya, pernahkah terbersit oleh mereka bahwa saya pun amat tersiksa menjalani hari-hari tanpa tawa ceria mereka. Bahwa tak ada yang mampu menserikan hidup ini kecuali menikmati suara-suara kecil lucu mereka, melihat gelak canda dan tingkah polos mereka. Tahukah mereka bahwa saya teramat menantikan hari-hari untuk selalu bersama, sehingga ketika berada di tempat lain, anak-anak seusia mereka lah yang senantiasa saya dekati untuk diajak bermain dan mendongeng seraya membayangkan keduanya berada di tengah-tengah kerumunan anak-anak itu. Sementara, itu cukup untuk mengobati rindu. Semoga pula mereka tahu di hati ini selalu tersedia cinta yang siap ditumpahkan setiap saat. Walau sedetik, semakin tertunda pertemuan dengan mereka semakin membuncahlah cinta yang menyesaki dada ini.

Cukup sudah saya mempunyai gambaran betapa mereka tak ingin lelaki ini berlama-lama pergi. "Tujuh hari, nggak boleh lebih. Janji?" tak mampu saya mengiyakan pertanyaan itu kecuali dengan pertanyaan, "Kalau lebih?" Mereka hanya menjawab dengan senyum. Saya mengartikannya 'boleh' entah bagi mereka.

Ingin sekali saya bertanya, keberatan kah mereka setiap kali saya pergi keluar kota untuk beberapa hari? Saya harus bertanya karena hampir setiap bulan harus meninggalkan mereka, karena akan ada malam-malam mereka tanpa dongeng, akan ada ribuan detik milik mereka yang terlewatkan tanpa bermain bersama lelaki ini.

Belum sempat saya bertanya, semuanya sudah terjawab pagi ini sebelum berangkat ke kantor. "Bi, bawa foto dede ya, simpan ya di kantong..." ujar si kecil. Ooh...

Bayu Gawtama

Monday, June 12, 2006

Tunggu Tanggal Terbitnya!!!

Image hosted by Photobucket.com

Spesifikasi Buku
Judul Buku : School of Life

Sub Judul : Menggali Kebijaksanaan dari Perjalanan Kehidupan

Penulis : Bayu Gawtama

Ukuran : 11,5 x 17

Tebal : 232 halaman (punggung 1 cm)

No. ISBN :

Cover Depan:

SCHOOL OF LIFE
Menggali Kebijaksanaan dari Perjalanan Kehidupan
Bayu Gawtama

Penulis Bestseller, Berhenti Sejenak

Pengantar: Ust. Yusuf Mansur,

Pengasuh Wisata Hati

“…Mengharukan. Apa yang ditulis Bayu dalam buku ini menyentuh relung jiwa.”

Ineke Koesherawati, Selebritis

Cover Belakang
“Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru"
Kehidupan mengajarkan kita banyak hal. Namun seringkali kita tidak mempedulikannya. Dengan gaya tutur yang khas Bayu Gawtama melalui buku ini kembali mengajak kita untuk memikirkan segala hal yang telah kita lakukan. Bayu memberi kita contoh bagaimana kita mengevaluasi diri. Boleh jadi apa yang dikisahkan Bayu, pernah kita rasakan. Atau kita memiliki kisah yang lain. Tapi satu yang pasti, dari kisah-kisah itu kita bisa mengambil pelajaran. Kita tidak akan pernah berhenti belajar.

“Menggugah...”

Yusuf Mansur, Pengasuh Wisata Hati

“Mas Bayu Gawtama sangat pandai merangkai kata, menyusun kalimat. Kejadian keseharian mampu dihadirkan dengan kedalaman makna. Kita pun bisa memetik makna darinya,”

Zazkia Mecca, pemeran Sarah dalam sinetron Kiamat Sudah Dekat

“Belajar tidak harus di selalu di ruang kelas. Kehidupan pun mengajarkan kita. Buku ini menjadi buktinya,”

Sahrul Gunawan, Artis Sinetron

Bayu Gawtama memiliki segudang aktivitas yang memungkinkannya bertemu dengan banyak orang dari berbagai lapisan. Interaksi inilah yang menjadi sumber inspirasi tulisan-tulisannya. Meskipun menurut pengakuannya, istri dan anak-anaknya-lah sebagi inspirasi tertinggi dalam karier menulisnya. Untuk kontak sehari-hari, Gaw bisa dihubungi di bayugautama@yahoo.com juga di blog pribadinya http://gawtama.blogspot.com

Inneke pun Memasak di Tenda Pengungsi

Pernah melihat Inneke Koesherawati memasak? mungkin pernah atau bahkan sering. Tapi kalau memasaknya di dapur umum tenda pengungsian korban gempa Jogyakarta, ini tentu berbeda. Dalam kunjungannya selaku Duta Kemanusiaan ACT-Aksi Cepat Tanggap, Kamis (8/6), Inneke Koesherawati tiba-tiba mengambil alih posisi seorang tentara yang sedang menggoreng tahu. Cukup lihai tangan artis itu mengayunkan sodet besar di atas penggorengan besar. Tungku api besar, penggorengan besar dengan penuh minyak panasnya tak membuat ngeri pemain sinetron itu. "Saya sudah biasa masak lho di rumah," ujar Inneke.

Inneke yang datang ke lokasi pengungsi bersama tim ACT ditemani dua rekannya sesama artis, Astri Ivo dan Ozzy Syahputra. Ketiga artis tersebut nampak tak mampu menyembunyikan kesedihannya menyaksikan langsung kerusakan akibat gempa berkekuatan 5,6 SR yang terjadi pada Sabtu pagi (27/5). "Sungguh menyedihkan, saya tak kuasa dan berkali-kali menangis melihatnya, juga para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat," ujar Inneke.

Inneke, Astri dan Ozzy langsung berbaur dengan pengungsi di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Pengungsi terlihat sangat terhibur dengan kehadiran ketiga artis tersebut, satu persatu mereka menyalami artis yang selama ini hanya bisa mereka saksikan di layar kaca. Tangan lembut Duta Kemanusiaan ACT itu pun tak canggung menyambut para pengungsi yang menyalaminya, dari anak-anak hingga orang tua. Bincang-bincang pun tak terelakkan, jelas sekali Inneke tengah menjalankan salah satu perannya sebagai Duta Kemanusiaan, yakni membantu meringankan penderitaan para korban gempa dengan menyediakan telinganya untuk mendengar berbagai keluhan. "Rumah kami hancur mbak, kami sudah tidak punya tempat tinggal," "Terima kasih mbak mau peduli terhadap nasib kami," "Duuh, mbak cantik gini kok mau ya datangi tenda pengungsi," "sering-sering ya mbak mampir ke sini," antara lain suara para pengungsi kepada Inneke.

Tak lupa, Inneke, Astri dan Ozzy memberi semangat kepada para relawan yang bekerja tak kenal lelah di lokasi pengungsian. Bahkan, ia tak segan-segan menggantikan seorang tentara untuk menggoreng tahu di penggorengan besar. Kedatangan Inneke, semoga menambah semangat para relawan itu. Selepas itu, Inneke menghampiri seorang ibu yang sedang mengulek bumbu dapur, dan tangan lembut itu pun beraksi. "Waaah, ternyata mbak Inneke bisa ngulek juga," ujar salah seorang relawan di dapur umum Kecamatan Pundong.

Sebelumnya, ketiga artis itu pun sempat mengunjungi lokasi pengungsian di Desa Kedaton Kidul, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Di lokasi tersebut, Inneke diajak berkeliling melihat proses pembangunan rumah tahan gempa yang sedang digarap ACTJogya Recovery (AJR). Inneke mengaku setuju dengan apa yang digagas ACT untuk membangun kembali rumah-rumah warga korban gempa secara cepat. "Mereka tak seharusnya berlama-lama tinggal di tenda, semoga banyak pihak akan mendukung program ini," tambah Inneke.