Suara tangis bayi melengking dari sebuah kamar, dekapan hangat dada sang ibu tak mampu membuatnya nyaman. Semakin keras tangis itu terdengar, seiring runtuhnya dinding ruang tamu rumah tak berpagar itu. Keras, begitu keras tangis itu terdengar mengalahkan dentuman mortir yang terus menerus menderu jalur terpanas di Timur Tengah itu. Sebuah rumah, tak lagi layak berpredikat rumah. Seluruh kaca hancur, dinding pun runtuh, pintu tak lagi berdaun, jendela pun tak lagi membingkai.
Namun suara itu masih saja terdengar, tangis bayi yang didekap ibunya seolah mengikuti irama desingan peluru serdadu Israel yang terus memberondong rumah-rumah tak bersenjata. Yang dicari adalah para pejuang, yang diberondong justru anak-anak dan wanita. Betapa pengecutnya mereka. Yang diincar adalah para pelembar batu, namun yang terbidik adalah mereka yang tak bersenjata. Sungguh tak bernyali para serdadu itu.
Tangis anak itu, kini tak hanya terdengar dari balik kamar yang sebagian rumahnya sudah hancur itu. Di seberang rumah yang jauh lebih hancur, suara tangis lainnya pun terdengar. Di sudut kiri beberapa blok dari rumah yang lebih hancur itu, tangis lainnya tak kalah kuatnya. Jauh dari rumah-rumah yang hancur oleh bombardir mortir dan peluru pasukan Israel itu, ribuan tangis pun terdengar. Kali ini beragam, tak hanya bayi-bayi, bahkan anak-anak dan tangis wanita pun membelah awan kelabu negeri Palestina.
Hari ini, satu persatu tangis itu mereda. Bukan karena peluru dan mortir Israel berhenti, tak juga lantaran serdadu-serdadu kejam itu tak lagi mengarahkan moncong senjatanya ke rumah-rumah mereka. Bayi-bayi Palestina penerus negeri suci itu kehabisan air mata, tak lagi bertenaga untuk sekadar menangis. Seluruh energi yang dipunya telah habis, seiring dengan habisnya persediaan makanan di rumah itu. Amerika dan Eropa mengembargo negeri para pejuang itu, sehingga tak sedikit pun bantuan makanan dan keuangan bisa masuk ke Palestina. Satu persatu, tangis mereda, satu persatu bocah-bocah kecil tak berdosa itu menggelepar tak berenergi. Satu persatu mereka menyusul Ayah, Paman, Saudara dan Abang-Abang mereka yang bertarung berbekal batu di tangan melawan senjatan mesin. Satu per satu, mereka pun pergi...
Esok, boleh jadi tangis-tangis itu semakin tak terdengar...
Lusa, mungkin tlah hilang...
Tak tergerakkah hati ini menyaksikan episode kelam sebuah bangsa yang kini berada di ujung kehancuran? Masihkah kita berdiam diri tatkala menonton tayangan menyedihkan ini di layar kaca? Sebuah negeri plihan Allah terancam musnah tanpa kita bisa berbuat apa pun, bahkan sekadar melantunkan sebait doa untuk mereka.
Semestinya kita tak diam, seharusnya kita bergerak. Tangan-tangan kita masih mampu berbuat, semampu dan sekuat yang kita bisa. Mungkin kita takkan ikut berperang di negeri itu, tak turut memasang dada untuk menjadi sasaran tembak tentara Israel, tak serta menjadi tameng hidup roket yang meluncur deras ke arah pemukiman muslim. Dengan harta yang kita punya, dengan doa yang terus menerus kita pinta kepada Allah. Agar mereka, saudara-saudara kita di Palestina tetap tersenyum.
Mari bantu Palestina, dan sampaikanlah kalimat ini untuk mereka, "Tetaplah tersenyum Palestina, karena kami membantumu" (Bayu Gawtama)
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam saling mencintai, menyayangi dan bertolong-tolongan di kalangan mereka, umpama satu tubuh, apabila sakit satu anggota tubuhnya akan terasa pula anggota yang lain sehingga tidak dapat tidur malam dan demam” HR. Bukhari dan Muslim
---
ACT-Aksi Cepat Tanggap, sebuah lembaga kemanusiaan yang Insya Allah amanah dalam penanganan bencana di Indonesia dan internasional. Melalui Program SOS (Simpaty of Solidarity) Palestina, ACT menggalang dana bantuan kemanusiaan bagi rakyat dan negeri Palestina. ACT menganggap embargo Amerika dan Eropa terhadap negeri Palestina adalah bencana kemanusiaan.
Bantuan kemanusiaan Anda bisa disalurkan melalui rekening: Bank BNI Syariah No. Rek. 96110239, Bank Syariah Mandiri No. Rek. 0040119999, Bank Mandiri No. Rek. 1280004555808, Bank Muamalat Indonesia No. Rek. 3040022915, Bank Central Asia No. Rek. 6760303133 (kode: SOS)
Informasi:
Bayu Gawtama
Public Relation ACT-Aksi Cepat Tanggap
021-7414482 ext 117
0852 190 68581 - 0888 190 2214
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Thursday, May 11, 2006
Saturday, May 06, 2006
Kesabaran Made In Jogya
Alon-alon waton kelakon, nampaknya ungkapan ini masih melekat dalam kehidupan sehari-hari orang Jogyakarta. Setidaknya hal itu tercermin dalam sikap orang-orang yang berkendara di jalan raya, terutama para pengguna mobil. Sepekan berada di Jogyakarta, ternyata orang Jakarta harus banyak belajar bersabar di jalan raya. Betapa tidak, nyaris semua pengendara mobil di Kota Pelajar ini lumayan tertib dengan kecepatan laju yang tak lebih dari 80 km/jam. Tak hanya itu, bisa dibilang hampir tak ada kendaraan saling salip di jalan raya, termasuk angkutan umum.
Sungguh, ini seperti di dalam mimpi saja. Kemana pun kami pergi hampir selalu menemui masalah di jalan raya yang berkenaan dengan persoalan ugal-ugalan, hingar bingar klakson dan aksi sok jagoan saling salip antar pengemudi. Sehingga kenyataan itu sempat menciptakan sebuah gumam, "Kota mana di Indonesia yang tak dihiasi aksi ugal-ugalan?"
Ternyata masih ada. Jawaban itu pun menyeruak sudah di Jogyakarta. Bayangkan, kami yang terbiasa membawa kendaraan di atas kecepatan rata-rata 150 km/jam harus menunggu kendaraan di depan yang berjalan santai seolah jalan miliknya sendiri. Awalnya lumayan kesal dibuat menunggu karena jalan sepanjang Kaliurang tak terlalu lebar untuk menyalip. Sekali berniat menyalip, kendaraan dari arah berlawanan langsung menghidupnya lampu dim tanda mereka tak mengizinkan. Ah, setelah dua hari di Kaliurang barulah kami sadar, "ini Jogyakarta bung, punya aturan main sendiri". Dan sebagai pendatang, sudah semestinya mengikuti roll of play yang berlaku.
Nyatanya, nikmat juga bersabar dalam berkendara. Lebih rileks, lebih santai, tidak stress dan meminimalisir kecelakaan. Kalau pun ada kecelakaan di sepanjang jalan Kaliurang, itu pun lebih banyak dialami oleh pengguna motor. Bisa dimaklumi, lantara kebanyakan pengguna motor adalah mahasiswa dan berlatar belakang berbagai daerah. Boleh jadi, mahasiswa yang asal Kota lain selain Jogyakarta, masih menyimpan kebiasaan lamanya berkebut di jalan. Meski sudah di wilayah "orang sabar" pun tetap saja ngebut-ngebutan.
Satu lagi. Jangan aneh kalau model 'kesabaran' made in Jogyakarta ini pun jadi pegangan para sopir angkot. Kalau Anda ingin merasakan nikmatnya berangkot, tanpa berhenti sembarangan, tanpa ugal-ugalan, saling salip dan kebut, boleh jadi di Jogyakarta lah Anda bisa mendapatkannya. Seringkali bisa didapat pemandangan yang tak pernah Anda dapatkan di Jakarta, dua hingga tiga angkot berjalan beriringan dan tak ada yang saling menyusul. Kecuali angkot di depan mendapatkan penumpang. Ooh, sungguh seperti sedang berada di sebuah negeri di awan.
Jadi, jangan heran kalau di tengah ancaman meletusnya Gunung Merapi pun sebagian besar warga tetap sabar dan tenang. "Sepertinya yang mau meletus itu kepalanya orang-orang di bawah," ujar Mbah Marijan sewaktu kami mengunjunginya Sabtu (29/4). Seperti halnya Mbah Marijan, warga lainnya pun nampak tenang dan tak tegang menghadapi bencana yang menjelang. "Yang penting sekarang banyak berdzikir, menyebut asma Allah dan meminta keselamatan kepada-Nya," pesan Mbah Marijan lagi.
Sempurna sudah. Ternyata, tak hanya Malioboro, Dagadu, Bakpia Pathuk dan Lumpia yang asli Jogyakarta. Kesabaran made in Kota Pelajar ini pun teramat indah untuk dinikmati bahkan dijadikan oleh-oleh pulang ke Jakarta. Pasti nikmat. Semoga.
Bayu Gawtama
0852 190 68581 - 0888 190 2214
www.aksicepattanggap.com
Sungguh, ini seperti di dalam mimpi saja. Kemana pun kami pergi hampir selalu menemui masalah di jalan raya yang berkenaan dengan persoalan ugal-ugalan, hingar bingar klakson dan aksi sok jagoan saling salip antar pengemudi. Sehingga kenyataan itu sempat menciptakan sebuah gumam, "Kota mana di Indonesia yang tak dihiasi aksi ugal-ugalan?"
Ternyata masih ada. Jawaban itu pun menyeruak sudah di Jogyakarta. Bayangkan, kami yang terbiasa membawa kendaraan di atas kecepatan rata-rata 150 km/jam harus menunggu kendaraan di depan yang berjalan santai seolah jalan miliknya sendiri. Awalnya lumayan kesal dibuat menunggu karena jalan sepanjang Kaliurang tak terlalu lebar untuk menyalip. Sekali berniat menyalip, kendaraan dari arah berlawanan langsung menghidupnya lampu dim tanda mereka tak mengizinkan. Ah, setelah dua hari di Kaliurang barulah kami sadar, "ini Jogyakarta bung, punya aturan main sendiri". Dan sebagai pendatang, sudah semestinya mengikuti roll of play yang berlaku.
Nyatanya, nikmat juga bersabar dalam berkendara. Lebih rileks, lebih santai, tidak stress dan meminimalisir kecelakaan. Kalau pun ada kecelakaan di sepanjang jalan Kaliurang, itu pun lebih banyak dialami oleh pengguna motor. Bisa dimaklumi, lantara kebanyakan pengguna motor adalah mahasiswa dan berlatar belakang berbagai daerah. Boleh jadi, mahasiswa yang asal Kota lain selain Jogyakarta, masih menyimpan kebiasaan lamanya berkebut di jalan. Meski sudah di wilayah "orang sabar" pun tetap saja ngebut-ngebutan.
Satu lagi. Jangan aneh kalau model 'kesabaran' made in Jogyakarta ini pun jadi pegangan para sopir angkot. Kalau Anda ingin merasakan nikmatnya berangkot, tanpa berhenti sembarangan, tanpa ugal-ugalan, saling salip dan kebut, boleh jadi di Jogyakarta lah Anda bisa mendapatkannya. Seringkali bisa didapat pemandangan yang tak pernah Anda dapatkan di Jakarta, dua hingga tiga angkot berjalan beriringan dan tak ada yang saling menyusul. Kecuali angkot di depan mendapatkan penumpang. Ooh, sungguh seperti sedang berada di sebuah negeri di awan.
Jadi, jangan heran kalau di tengah ancaman meletusnya Gunung Merapi pun sebagian besar warga tetap sabar dan tenang. "Sepertinya yang mau meletus itu kepalanya orang-orang di bawah," ujar Mbah Marijan sewaktu kami mengunjunginya Sabtu (29/4). Seperti halnya Mbah Marijan, warga lainnya pun nampak tenang dan tak tegang menghadapi bencana yang menjelang. "Yang penting sekarang banyak berdzikir, menyebut asma Allah dan meminta keselamatan kepada-Nya," pesan Mbah Marijan lagi.
Sempurna sudah. Ternyata, tak hanya Malioboro, Dagadu, Bakpia Pathuk dan Lumpia yang asli Jogyakarta. Kesabaran made in Kota Pelajar ini pun teramat indah untuk dinikmati bahkan dijadikan oleh-oleh pulang ke Jakarta. Pasti nikmat. Semoga.
Bayu Gawtama
0852 190 68581 - 0888 190 2214
www.aksicepattanggap.com
Friday, May 05, 2006
Para Pejuang Kehidupan dari Lereng Merapi
Siapa pun kita akan selalu bertanya, "kenapa orang-orang di lereng Merapi tak mau mengungsi, padahal gejala letusan Merapi semakin terlihat," atau "Apa mereka sudah bosan hidup?" Lainnya, "Kenapa ahrus mati bersama mbah Marijan? biarkan saja kuncen itu mati terkena lahar bersama keyakinannya. Tidak perlu mengajak warga lainnya".
Apa yang kami dapatkan saat mengunjungi para warga di lereng-lereng Merapi sepakan terakhir, pertanyaan-pertanyaan itu terjawab sudah. Tak sedikit pun terbersit di pikiran mereka untuk berani menantang lava yang panasnya mencapai 6000 derajat celcius. Tak satu pun dari warga yang sok jagoan mau melawan gerusan awan panas -mereka menyebutnya Wedus Gembel- yang mencapai titik panas 300 derajat celcius. Mereka sudah pernah melihat keluarga, sahabat, rekan dan tetangga mereka yang pernah terkena wedus gembel, sungguh mengerikan. Batok kepala pecah, perut meletus, kulit hangus terbakar dan sudah pasti para korban itu mati meregang nyawa dalam kepanasan yang luar biasa.
Bukan. Bukan itu alasan mereka tetap bertahan di rumah-rumah mereka di lereng Merapi. Adalah harta kekayaan -yang tak layak disebut kekayaan- dan hewan peliharaan yang tak rela ditinggalkan begitu saja. Bertahun-tahun mereka membanting tulang, memeras keringat, menggantang matahari dan menadah hujan dengan kepala dan tubuh mereka demi sesuap nasi dan seperak tabungan yang mereka kumpulkan setiap hari. Hari demi hari, waktu yang terus berjalan, tiap keping itu pun berbuah menjadi seekor kambing. Kambing yang beranak pinak, melahirkan seekor sapi. Lama kelamaan, tak hanya seekor, bahkan empat hingga lima ekor sapi kini menghuni halaman samping rumah mereka. Tak hanya hewan, warga yang dulu tidur di rumah berdinding bilik bambu dan beratap jerami, telah mampu hidup lebih nyaman di rumah yang telah berdinding batako dan beratap genteng terbuat dari tanah. Semua itu hasil dari perjalanan panjang melelahkan, pengorbanan yang tak terukur, serta tetes peluh dan darah yang tak terbilang. Siapakah yang rela meninggalkan itu semua?
"Kami hidup di sini, mati pun akan di sini" kalimat itu bukan kalimat menantang gagahnya Merapi, terlebih sebagai jawaban untuk menjemput kematian. Bukan, sungguh bukan itu. Mereka telah lama bersahabat dengan Merapi, mereka tahu Merapi tak pernah jahat kepada sahabatnya. Justru ketika Merapi pernah mengambil sebagian saudara dan kerabat mereka, itulah bagian dari pengorbanan sebuah persahabatan. Bukankah persahabatan harus dibingkai oleh cinta dan pengorbanan? Bukankah persahabatan semestinya diwarnai dengan saling memberi?
Ya. Merapi telah banyak memberi kepada warga di lereng Merapi. Alam dan sekitarnya telah memberi mereka kehidupan sepanjang hayat. Bertahun-tahun warga di lereng Merapi hidup dari pemberian Allah di alam sekitarnya, termasuk Merapi. Keberadaan Merapi di tengah-tengah mereka adalah sumber kehidupan. Dan selama bertahun-tahun itu pula mereka bisa mendapatkan segala apa yang mereka mampu kumpulkan saat ini. Isteri, anak-anak, kerabat, rumah, dan hewan ternak. Semuanya hasil jerih payah bersahabat dengan Merapi. Akankah mereka rela meninggalkan itu semua?
Bayangkan bila Anda yang menjadi mereka. Atau tak perlu jauh-jauh menjadi seperti mereka. Siapa pun, termasuk kita akan mempertahankan harta kekayaan kita ketika ada yang hendak mengambilnya. Karena kita tahu betapa berharganya harta itu, bukan karena harganya, melainkan jalan panjang berliku serta pengorbanan yang pernah kita lakukan untuk mendapatkan semua harta miliki kita. Sebuah proses panjang yang tak terbayar oleh apapun, sehingga sekian banyak orang rela mati demi mempertahankan hartanya. Padahal, banyak orang berpikir, lepaskan saja dan biarkan rampok mengambil harta kita dari pada harus mati. Toh, harta bisa dicari lagi. Mudah bicara bagi yang tidak mengalaminya langsung, tapi tidak bagi mereka yang berhadapan dengan kondisi itu.
Seperti halnya mereka yang tetap bersikeras menetap di lereng Merapi. Bahkan ratusan pengungsi pun berani kembali ke dusun-dusun mereka yang berada di kawasan rawan bahaya (KRB) Merapi. "Siapa yang mengurus hewan ternak kami pak," ujar Mbah Wigyo, salah seorang pengungsi yang kembali ke Dusun Jambu, Kepuharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Hidup adalah pengorbanan. Siapa pun akan berkorban untuk menjalani dan mempertahankan kehidupan. Tetapi terkadang tidak sedikit orang yang rela mengorbankan kehidupan untuk sesuatu yang sangat berharga yang dimilikinya. Mempertahankan harta benda yang dimilikinya dari hasil memeras keringat selama puluhan tahun, akan dilakukannya meski harus dibayar dengan kematian.
Jadi, sungguh. Mereka tak sedang menentang maut. Yang mereka lakukan adalah mempertahankan hak mereka, yang tak kan terbayarkan oleh apa pun. Mereka rela menebusnya dengan kematian. Semangat ini yang tak banyak dimiliki oleh orang-orang kaya dan berlimpah harta, yang bisa membayar siapa pun untuk menjaga harta mereka asalkan tidak dengan kehidupannya. Warga di lereng Merapi, adalah potret pejuang kehidupan. Apa yang mereka lakukan bukanlah aksi heroik menentang maut, tetapi sebuah jihad mempertahankan hak mereka. Salahkah mereka melakukan itu? Wallaahu 'a'lam
Bayu Gawtama
Public Relation
ACT-Aksi Cepat Tanggap
Apa yang kami dapatkan saat mengunjungi para warga di lereng-lereng Merapi sepakan terakhir, pertanyaan-pertanyaan itu terjawab sudah. Tak sedikit pun terbersit di pikiran mereka untuk berani menantang lava yang panasnya mencapai 6000 derajat celcius. Tak satu pun dari warga yang sok jagoan mau melawan gerusan awan panas -mereka menyebutnya Wedus Gembel- yang mencapai titik panas 300 derajat celcius. Mereka sudah pernah melihat keluarga, sahabat, rekan dan tetangga mereka yang pernah terkena wedus gembel, sungguh mengerikan. Batok kepala pecah, perut meletus, kulit hangus terbakar dan sudah pasti para korban itu mati meregang nyawa dalam kepanasan yang luar biasa.
Bukan. Bukan itu alasan mereka tetap bertahan di rumah-rumah mereka di lereng Merapi. Adalah harta kekayaan -yang tak layak disebut kekayaan- dan hewan peliharaan yang tak rela ditinggalkan begitu saja. Bertahun-tahun mereka membanting tulang, memeras keringat, menggantang matahari dan menadah hujan dengan kepala dan tubuh mereka demi sesuap nasi dan seperak tabungan yang mereka kumpulkan setiap hari. Hari demi hari, waktu yang terus berjalan, tiap keping itu pun berbuah menjadi seekor kambing. Kambing yang beranak pinak, melahirkan seekor sapi. Lama kelamaan, tak hanya seekor, bahkan empat hingga lima ekor sapi kini menghuni halaman samping rumah mereka. Tak hanya hewan, warga yang dulu tidur di rumah berdinding bilik bambu dan beratap jerami, telah mampu hidup lebih nyaman di rumah yang telah berdinding batako dan beratap genteng terbuat dari tanah. Semua itu hasil dari perjalanan panjang melelahkan, pengorbanan yang tak terukur, serta tetes peluh dan darah yang tak terbilang. Siapakah yang rela meninggalkan itu semua?
"Kami hidup di sini, mati pun akan di sini" kalimat itu bukan kalimat menantang gagahnya Merapi, terlebih sebagai jawaban untuk menjemput kematian. Bukan, sungguh bukan itu. Mereka telah lama bersahabat dengan Merapi, mereka tahu Merapi tak pernah jahat kepada sahabatnya. Justru ketika Merapi pernah mengambil sebagian saudara dan kerabat mereka, itulah bagian dari pengorbanan sebuah persahabatan. Bukankah persahabatan harus dibingkai oleh cinta dan pengorbanan? Bukankah persahabatan semestinya diwarnai dengan saling memberi?
Ya. Merapi telah banyak memberi kepada warga di lereng Merapi. Alam dan sekitarnya telah memberi mereka kehidupan sepanjang hayat. Bertahun-tahun warga di lereng Merapi hidup dari pemberian Allah di alam sekitarnya, termasuk Merapi. Keberadaan Merapi di tengah-tengah mereka adalah sumber kehidupan. Dan selama bertahun-tahun itu pula mereka bisa mendapatkan segala apa yang mereka mampu kumpulkan saat ini. Isteri, anak-anak, kerabat, rumah, dan hewan ternak. Semuanya hasil jerih payah bersahabat dengan Merapi. Akankah mereka rela meninggalkan itu semua?
Bayangkan bila Anda yang menjadi mereka. Atau tak perlu jauh-jauh menjadi seperti mereka. Siapa pun, termasuk kita akan mempertahankan harta kekayaan kita ketika ada yang hendak mengambilnya. Karena kita tahu betapa berharganya harta itu, bukan karena harganya, melainkan jalan panjang berliku serta pengorbanan yang pernah kita lakukan untuk mendapatkan semua harta miliki kita. Sebuah proses panjang yang tak terbayar oleh apapun, sehingga sekian banyak orang rela mati demi mempertahankan hartanya. Padahal, banyak orang berpikir, lepaskan saja dan biarkan rampok mengambil harta kita dari pada harus mati. Toh, harta bisa dicari lagi. Mudah bicara bagi yang tidak mengalaminya langsung, tapi tidak bagi mereka yang berhadapan dengan kondisi itu.
Seperti halnya mereka yang tetap bersikeras menetap di lereng Merapi. Bahkan ratusan pengungsi pun berani kembali ke dusun-dusun mereka yang berada di kawasan rawan bahaya (KRB) Merapi. "Siapa yang mengurus hewan ternak kami pak," ujar Mbah Wigyo, salah seorang pengungsi yang kembali ke Dusun Jambu, Kepuharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Hidup adalah pengorbanan. Siapa pun akan berkorban untuk menjalani dan mempertahankan kehidupan. Tetapi terkadang tidak sedikit orang yang rela mengorbankan kehidupan untuk sesuatu yang sangat berharga yang dimilikinya. Mempertahankan harta benda yang dimilikinya dari hasil memeras keringat selama puluhan tahun, akan dilakukannya meski harus dibayar dengan kematian.
Jadi, sungguh. Mereka tak sedang menentang maut. Yang mereka lakukan adalah mempertahankan hak mereka, yang tak kan terbayarkan oleh apa pun. Mereka rela menebusnya dengan kematian. Semangat ini yang tak banyak dimiliki oleh orang-orang kaya dan berlimpah harta, yang bisa membayar siapa pun untuk menjaga harta mereka asalkan tidak dengan kehidupannya. Warga di lereng Merapi, adalah potret pejuang kehidupan. Apa yang mereka lakukan bukanlah aksi heroik menentang maut, tetapi sebuah jihad mempertahankan hak mereka. Salahkah mereka melakukan itu? Wallaahu 'a'lam
Bayu Gawtama
Public Relation
ACT-Aksi Cepat Tanggap
Subscribe to:
Posts (Atom)