Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, February 14, 2006

Separuh Bibirnya Habis Akibat Kelaparan

Ariya, 20 bulan, semestinya balita seusianya masih harus mendapatkan asupan gizi yang cukup. Namun penghasilan ayahnya sebagai buruh kecil dan ibunya yang menjadi pembantu rumah tangga membuatnya terpaksa tak menikmati gizi yang memadai. Janganlah bicara gizi, untuk makanan sehari-hari pun bocah kecil kurus itu hampir jarang menikmati.

Kedua orangtuanya harus pasrah membiarkan anaknya sering kelaparan, karena mereka pun mengalami nasib yang tak berbeda, perut mereka lebih sering kosong. Dalam sepekan, bisa jadi empat hari perutnya kosong. Akibat kelaparan yang diderita Ariya dan keluarganya, kini Ariya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Bulukumba, Sulawesi Selatan, karena mengalami gizi buruk. Tak hanya itu, yang lebih menyedihkan, separuh bibir Ariya tampak habis, layaknya buah jambu yang digerogoti kelelawar. Ternyata, akibat sering menahan lapar Ariya sering menggigiti bibirnya sendiri sampai bolong.

Masih di daerah yang sama, Bulukumba, Dimas, usianya sedikit lebih tua dari Ariya, 2 tahun. Tapi berat badannya sama dengan berat badan bayi 3 bulan. Tulang-tulang di dadanya sangat menonjol, hanya kulit tipis yang menutupi tulang-tulang itu. Sedangkan kedua tangan dan kakinya lebih mirip akar yang kehabisan air. Dimas juga mengalami gizi buruk lantaran orangtuanya tak mampu memberinya makanan bergizi. Setiap hari, sejak usianya 6 bulan, hanya makanan orang dewasa yang didapat Dimas. Tak ada susu formula, dan makanan bergizi lainnya.

Jika Ariya dan Dimas hanyalah dua dari jutaaan anak yang mengalami gizi buruk lantaran sulit mendapatkan makanan, tidak berbeda dengan kelompok-kelompok warga lainnya di berbagai tempat. Kampung Bungbulang, Garut, mungkin tidak banyak orang yang pernah mendengarnya. Sebuah kampung terpencil di Jawa Barat itu baru-baru ini menggemparkan karena nyaris seluruh warganya mengalami kelaparan. Memang sudah ada LSM dan dokter yang menangani warga di kampung tersebut, namun bagaimana pun kejadian ini sungguh memilukan. Hingga hari ini, warga Kampung Bungbulang masih harus terus mendapatkan bantuan. Lebih penting dari itu, mereka juga harus mendapatkan penyuluhan kesehatan dan pola makan sehat.

Tak hanya di Garut. Ratusan warga di beberapa daerah di Brebes, Jawa Tengah terpaksa kembali makan tiwul, penganan yang terbuat dari singkong. Beralihnya makanan dari beras ke singkong lantaran semakin tingginya harga beras yang tak terjangkau oleh penghasilan mereka yang minim. Masih di Brebes, 80 kepala keluarga terancam kelaparan usai banjir yang melanda kampung mereka tiga pekan yang lalu. Banjir tak hanya menenggelamkan rumah warga, melainkan juga menggenangi ratusan hektar sawah milik mereka selama berhari-hari. Akibatnya, seluruh padi yang siap dipanen pun puso. Selain panen yang gagal, persediaan beras dan makanan warga pun musnah terbawa banjir. Karena tak lagi memiliki beras untuk dimakan, ratusan jiwa itu pun kini hanya bisa makan nasi aking, yakni nasi sisa/bekas yang dikeringkan kemudian dimasak kembali.

Di tempat lainnya, Bellu, Nusa Tenggara Timur, ancaman kelaparan sudah menimpa warga lantaran sarana transportasi yang sempat terputus akibat banjir bandang. Bantuan bahan makanan memang dikirim ke wilayah tersebut, namun jumlahnya sangat terbatas dan belum mencukupi. Sedangkan banjir telah lebih dulu menghancurkan ladang-ladang mereka, akibatnya ratusan warga korban banjir terpaksa memakan batang pohon yang dihaluskan.

Sejumlah daerah lainnya yang pekan lalu terkena banjir dan longsor, seperti Sumbawa, Lombok Timur, beberapa daerah di Jawa Tengah, bahkan termasuk Kabupaten Purwakarta pun tak luput dari ancaman kelaparan. Pekan lalu, Lurah Desa Panyindangan, Kabupaten Purwakarta, H. Adang Permana melaporkan, akibat bencana longsor, kini wilayahnya bisa dibilang paceklik beras. Pasalnya, meski longsor hanya menghancurkan belasan rumah warganya, namun ratusan hektar sawah milik warga kini dipenuhi bebatuan besar. Butuh waktu berbulan-bulan bagi para pemilik sawah itu untuk menyingkirkan batu-batu besar yang bertebaran di sawah mereka. Sementara itu, bantuan yang datang pun tak seberapa. “Jujur saja, saat ini warga masih punya persediaan beras. Tapi dua bulan ke depan, kami tidak tahu harus mendapatkan beras dari mana,” ujar Lurah Adang.

Bila kondisi ini tak segera mendapat perhatian dari pemerintah khususnya, dan dari masyarakat di tempat lain yang tidak terkena ancaman kelaparan, bisa jadi akan ada puluhan juta Dimas dan Ariya yang harus dirawat di rumah sakit akibat gizi buruk dan busung lapar. Bahkan mungkin, banyak anak-anak yang tidak terselamatkan dan mati kelaparan. Atau mungkin ada fenomena baru seperti Ariya, dimana anak-anak tak lagi menggigiti bibir, bisa saja jari-jari, tangan atau anggota tubuh lainnya menjadi alternatif makanan.

Ancaman kelaparan ini bukan saja berakibat pada kematian, tapi lebih daripada itu, haruskah kita kehilangan generasi-generasi penerus bangsa ini? Atau relakah kita jika kelak bangsa ini dipimpin oleh generasi yang tumbuh dan berkembang dalam predikat gizi buruk? Sungguh ini juga merupakan bencana, bencana yang merenggut jiwa anak-anak bangsa secara perlahan, dan semakin lama akan habislah generasi masa datang.

Bayu Gawtama

Wednesday, February 08, 2006

Terminal Kenangan

Hampir setiap orang pernah bepergian jauh, entah dengan menggunakan jasa angkutan darat, laut atau udara. Misalkan kita menumpang sebuah bis. Sebelum sampai ke tujuan, biasanya bis yang kita tumpangi itu berhenti di beberapa tempat, bisa jadi itu sebuah terminal. Saat singgah di terminal pemberhentian, teramat banyak yang dilakukan orang-orang dalam satu bis. Ada yang turun untuk mengisi perut, ada yang sebaliknya justru memanfaatkan waktu berhenti itu untuk membuang isi perut. Sebagian memilih tetap berada di atas bis, sambil melihat aneka dagangan yang ditawarkan dari luar bis.

Tidak demikian dengan saya. Saya termasuk orang yang senang bepergian dengan kendaraan umum. Selain lebih ekonomis, banyak pelajaran yang bisa didapat selama perjalanan. Amatlah rugi rasanya jika tak memanfaatkan waktu yang sedemikian panjang hanya dengan tidur atau melamun. Padahal, setiap jengkal jalan yang kita tempuh itu pasti mengandung –setidaknya- satu hikmah. Berapa jengkal yang kita lewati dalam perjalan itu? berapa banyak perjalanan yang sudah kita lewati? Dan berapa banyak waktu yang terbuang percuma tanpa ada pelajaran yang bisa dipetik?

Di sebuah terminal, saat bis berhenti sekurangnya lima belas menit. Saya akan mengingat-ingat kembali jalan yang sudah terlewati. Berapa kota sudah terlintasi, berapa anak sungai terlalui, berapa ribu rumah dan berapa juta orang yang terlihat. Kadang mata ini dibuat terbelalak dengan pemandangan aneh, atau seketika saya tertawa kecil melihat kelucuan di tepi jalan. Sesekali mulut ini ternganga terperangah oleh hal-hal baru yang saya dapatkan. Semua itu, akan menjadi catatan-catatan tersendiri yang kemudian terangkai dengan rapih dalam coretan di buku kecil saya.

Catatan-catatan perjalanan itulah yang kemudian tersusun rapi dalam sebuah catatan sederhana. Sungguh, ini hanyalah catatan kecil dari berbagai perjalanan yang telah saya lalui di berbagai tempat. Mungkin, bisa jadi hanya coretan tak penting dari perjalanan pendek di sekitar rumah, atau ketika melintas pasar, sekolah, masjid seberang rumah, dan jalan-jalan lainnya yang menurut kebanyakan orang hanya berupa tempat biasa. Tetapi cobalah membuka mata lebih lebar, memasang telinga lebih luas, teramat banyak hikmah yang kita peroleh dari tempat-tempat yang kita anggap biasa. Ya, contohnya di jalan yang setiap hari kita lewati itu, pasti menyimpan banyak pelajaran penting. Masalahnya, maukah kita mengambil hikmah-hikmah yang bertebaran itu?

Sekarang, duduklah dengan sedikit bersandar. Hampiri kembali terminal-terminal kenangan kita yang telah lama terlupakan. Bangkitkan kenangan-kenangan tersebut dalam semangat memperbaiki diri. Ingat, kita tak diperkenankan menengok ke belakang, kecuali untuk mengambil pelajaran di masa lalu. Kalau pun saat ini kita bermenung sejenak, pastikan untuk berusaha lebih baik di masa yang akan datang. Jadikan setiap masa berlalu sarat makna. Ciptakan terminal-terminal kenangan kita sendiri, maka yakinlah bahwa jalan terbentang di depan akan dapat dilalui dengan penuh kepercayaan. Padahal, kita hanya punya satu keyakinan, yang itu didapat dari menengok ke masa lalu.

Hidup adalah perjalanan panjang. Buatlah beberapa terminal, untuk berhenti sejenak dan berkaca pada masa lalu. Agar tak ada yang perlu disesali karena kesalahan yang terjadi berulang kali. Semoga

Bayu Gawtama
Catatan khusus jelang ulang tahun ke...
Coretan ini sekaligus menjadi kata pengantar buku ketiga saya, "Lelaki Sebelas Amanah; Menelusuri Jejak Hikmah" yang insya Allah akan terbit bulan Maret 2006

Friday, February 03, 2006

"Atep Mau Sekolah..."

"Atep mau sekolah... Atep juga mau seperti teman-teman bisa sholat di masjid. Tapi teman-teman nggak mau Atep ada di masjid..."

Kalimat tersebut polos diucapkan Muhammad Yunus alias Atep (10 tahun), anak keenam Sarbini (49) dan alm. Yuyun. Keluarga Sarbini adalah keluarga tak mampu dari Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Rumahnya hanya beberapa puluh meter dari Perkebunan teh Goalpara, kaki gunung Gede. Pekerjaan Sarbini hanyalah buruh angkut sayuran dengan pendapatan maksimal Rp. 10.000/hari. "Itu pun kalau sedang ada yang minta antar sayur. Kalau nggak ada, ya nggak dapat uang," ujar Sarbini.

Namun, bukan cuma lantaran faktor ekonomi itu yang membuat Atep tidak bisa sekolah. Apalagi sekadar ke masjid, karena untuk sholat jamaah ke masjid tentu tak memakan biaya. Yang membuat Atep malu ke sekolah dan masjid adalah penyakit yang diderita bocah kecil itu. Atep menderita Atresiani, alias kelainan anatomis berupa lahir tanpa anus. Sudah hampir 10 tahun, sejak usianya satu minggu Atep tak memiliki lubang anus, sehingga selama 10 tahun itu pula Atep harus membuang feces (kotoran) melalui lubang yang dibuat persis di perutnya.

Atresiani, nama yang terdengar indah, tetapi tidak bagi Atep. Sebab lantaran penyakit tersebut, Atep merasa terkucilkan dari lingkungan dan teman-teman mainnya. Teman-temannya tak tahan terhadap bau kotoran yang bisa sewaktu-waktu keluar dari lubang di perut Atep. Sistem pembuangan yang dimiliki Atep saat ini, tidak seperti yang dimiliki kebanyak orang. Atep tidak mampu menahan keluarnya kotoran, bahkan saat ia sedang makan sekalipun. Karena itu, Atep selalu minder terhadap teman-temannya. Hal inilah yang membuat Atep tidak mau sekolah, padahal ia sangat ingin berpakaian seragam merah putih layaknya anak-anak lain sebayanya. "Atep ingin sholat dan ngaji di masjid. Tapi Atep malu sama teman-teman," keluhnya.

Karena tidak sekolah, hari-hari Atep diisi dengan menonton televisi. Ia sangat betah berjam-jam menonton televisi, kadang hingga pukul 12 malam. Menurut Dede (24), kakak Atep, adiknya itu malu keluar rumah. Lubang di perutnya itulah yang membuat ia malu bertemu teman-temannya. "Kalau makan, sepuluh menit kemudian langsung keluar dari lubang itu, bau sekali. Mungkin karena itu teman-teman Atep menjauhinya," tambah Dede. Bau kotoran itu pula yang dikhawatirkan mengganggu teman-teman Atep kalau Atep sekolah atau ke masjid.

Menurut Bidan Lilis, bidan yang menangani kelahiran Atep. Kelahiran Atep berlangsung normal. Namun karena mendapati kelainan berupa atresiani, bidan Lilis langsung membawa bayi malang itu ke Rumah Sakit Syamsudin, Sukabumi. "Lubang itu dibuat seminggu setelah Atep lahir," jelas Bidan Lilis. Bidan Lilis pula yang membawa Atep kecil pulang pergi ke rumah sakit untuk membuat lubang di perutnya.

Yuyun, ibu kandung Atep, tak kuasa menahan tangis saat mengetahui adanya kelainan pada diri Atep. Sejak itu, Yuyun sering sakit-sakitan dan akhirnya meninggal saat usia Atep belum genap 2 tahun. Pada usia tujuh tahun, Atep sempat dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk diperiksakan. Namun dokter menyatakan kondisi Atep belum siap untuk dioperasi.

Dari hasil pemeriksaan, didapati kondisi Atep memang sangat tidak siap untuk dilakukan operasi. Atep bukan hanya menderita atresiani, tapi karena kondisi perekonomian keluarga yang minim, Atep pun menderita gizi buruk sejak bayi. "Gizinya kurang, kesehatan dan staminanya pun tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Atep harus mendapatkan asupan gizi yang baik, setelah normal baru diperiksa kembali," terang Bidan Lilis.

Bahkan menurut Bidan Lilis, Atep pun menderita hepatitis. Kondisi ini pun membuat Atep semakin sulit untuk dilakukan operasi dengan cepat. Padahal untuk operasi pembuatan anus perlu kondisi tubuh yang benar-benar sehat. Selain itu, biaya yang dibutuhkan tergolong mahal untuk keluarga Sarbini. Paling sedikit Rp. 30 juta, perkiraan Bidan Lilis. "Bisa lebih mahal, karena operasi atresiani harus beberapa tahap. Itu pun belum termasuk ongkos bolak-balik ke rumah sakit di Bandung atau Jakarta". Inilah yang akhirnya membuat Sarbini harus mengurut dada, menatap sedih anaknya yang malang.

Sarbini, buruh kecil dari keluarga tak mampu di kaki Gunung Gede itu sempat putus harapan untuk bisa menyembuhkan Atep. Hingga kemudian, Delta FM Peduli, Yayasan Indera Hati bekerja sama dengan ACT-Aksi Cepat Tanggap mendatangi rumah Atep.

Rabu, 1 Februari 2006, Atep dibawa Tim ACT ke RSCM untuk mulai menjalani berbagai pemeriksaan. Ditemani Ayah, dua kakaknya dan Bidan Lilis, hari itu Atep baru melakukan tahap pertama dari rencana operasinya. Tahap pertama akan dilalui Atep dengan pemeriksaan oleh dokter bedah anak, kemudian pengambilan contoh darah. Butuh waktu berhari-hari, sedikitnya satu pekan hingga dokter memutuskan jadwal operasi. Operasi pun tidak akan berlangsung sekali, paling sedikit akan menjalani tiga kali operasi. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk Atep.

Dana yang tersedia dari Delta Peduli, Yayasan Indera Hati dan ACT dianggap belum mencukupi. Untuk itu, Atep, bocah kecil penderita atresiani dari Sukabumi, mengetuk kepedulian Anda. Tidak banyak yang diimpikan Atep, ia hanya ingin sekolah dan sholat jamaah di masjid. Perjalanannya masih panjang, Anda bisa membantunya agar proses penyembuhannya tak tersandung di tengah jalan.

Bayu Gawtama

Salurkan bantuan Anda melalui rekening kemanusiaan ACT
BCA 676 0 30 31 33
Mandiri 128 0004593 338
Syariah Mandiri 101 0001 114
Muamalat 304 0023 015
BNI Syariah 009 611 0239