Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, June 07, 2005

Ini Pundakku, Mana Bebanmu...

Kemarin sore bus patas reguler jurusan Blok M-Tangerang yang saya tumpangi mendadak mogok. Sudah dicoba berkali-kali, namun sopir tetap gagal menghidupkan mesin bus yang sudah sarat penumpang itu. Sebagian besar penumpang berkesah, peluh pun menjadi hiasan seragam semua penumpang. Sepuluh menit sudah kendaraan itu mogok, hingga akhirnya kondektur berteriak minta tolong kepada penumpang laki-laki untuk membantu mendorong bus besar itu.

Dan, tidak lebih dari lima orang yang turun. Saya salah satunya. Kami pun mendorong sekuat tenaga, namun bus hanya bergerak sedikit. Sopir pun mulai keluar suaranya untuk minta tolong penumpang laki-laki yang lain agar membantu mendorong, kemudian beberapa orang lagi turun. Lagi, dengan sekuat tenaga perlahan bus pun bergerak namun mesinnya masih belum hidup. Harus didorong sekali lagi, padahal sudah tiga kali kami mendorongnya. Tenaga pun sudah lah terkuras, saya melihat ke dalam bus masih banyak laki-laki sehat dan bugar berdiri dan duduk tenang.

Ya sudahlah, komando dari kondektur menggerakkan tangan-tangan kami untuk kembali mendorong, dan berhasil. Tidak sia-sia nafas tersengal dan peluh membasahi pakaian, yang penting bus bisa jalan. Ada kepuasan tersendiri saat bus itu melaju kembali sambil berdoa agar tidak lagi mogok, sungguh, tenaga ini sudah habis. Saya yakin orang-orang yang tadi bersama saya mendorong pun merasakan kepuasan yang sama, melebihi kepuasan orang-orang yang hanya duduk dan berdiri tenang di dalam bis selama mogok tadi.

Rasanya, saya ingin sekali merasa egois saat bus itu mogok dengan tetap di dalam dan tak perlu turun untuk membantu mendorong, tapi kalau saja saya menyaksikan orang-orang berpeluh mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan saya diam saja, pasti jiwa saya sedang kacau. Bus yang mogok itu memang bukan urusan saya, tapi akan menjadi urusan saya jika saya berada di dalamnya. Jika tidak ada orang-orang yang turun untuk membantu mendorong, apakah bus akan sampai di tujuan?

Saya juga ingin sekali menumpahkan kekesalan saya, tapi apakah dengan marah-marah saja tanpa turun tangan membantu mendorong bisa menghidupkan mesin bus? Seharusnya saya tetap diam karena sudah membayar ongkos bus dan soal mesin yang mati itu bukan tugas saya. Saya bisa saja turun dan menunggu bus berikutnya yang akan membawa saya ke Tangerang. Tapi seandainya saya melakukan itu, pastilah ada bagian otak saya yang sedang terganggu.

***

Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang berani berkata, "Ini pundakku, mana bebanmu". Dan bukan mereka yang menjadi beban bagi orang lain. Andai pun ia tak mampu membantu orang lain meringankan bebannya, bantu lah diri sendiri untuk tidak membebani orang lain. Seperti halnya bus yang mogok kemarin, jika tidak mau atau tak mampu membantu mendorong, turunlah dari bus agar Anda tidak menambah berat beban bagi yang mendorong.

Sebuah pelajaran di sore hari

Bayu Gawtama

Thursday, June 02, 2005

Amal Unggulan

Kami bersahabat bertiga sejak kecil, dan tetap bersahabat hingga hari ini. Sepanjang perjalanan persahabatan itu ada satu kejadian yang saya takkan pernah lupa, yakni saat pengumuman UMPTN. Dua sahabat saya lulus, satu di FISIP UI, dan satunya di Kedokteran UI, sementara saya harus menangis sedih karena tidak lulus. Kejadian itu begitu menyesakkan, terlebih ketika saya tahu doa kami saat menghadapi soal-soal ujian itu kurang lebih sama persis. "Ya Allah, selama ini kami aktif berdakwah di kalangan remaja. Jika Engkau ridha atas apa yang kami lakukan, maka izinkanlah kami mampu melewati semua ini".

Kami ingat sebuah kisah di zaman Nabi, ada tiga orang yang terjebak ke dalam gua. Untuk bisa keluar dari dalam gua itu masing-masing mempertaruhkan amal unggulannya. Kemudian mereka pun berdoa agar Allah membukakan pintu gua seraya menyebutkan amal unggulan masing-masing. Atas izin Allah, terbukalah gua tersebut dan mereka pun keluar dari kesulitan.

Atas dasar cerita itu lah saya berdoa demikian, berharap Allah ridha atas dakwah yang saya lakukan dan menjadikannya sebagai amal unggulan saya. Tak disangka, dua sahabat yang kebetulan berlainan sekolah dengan saya itu mengucapkan doa yang tidak berbeda, dengan mempertaruhkan aktivitas dakwah yang sejak dua tahun terakhir kami lakukan bersama-sama di organisasi pelajar Islam.

Saya tidak mengerti apakah otak saya yang kalah encer dibanding dua sahabat saya itu, ataukah memang Allah tak menganggap amal yang saya pertaruhkan itu sebagai amal unggulan? Atau mungkin selama ini saya melakukan aktivitas itu tidak dengan hati yang ikhlas sehingga persembahan itu memang belum pantas dihadiahkan kepada Allah?

***

Kejadian itu terus teringat sampai hari ini. Disaat saya mengalami beberapa kesulitan, saya mencoba menjadikan apa-apa yang menurut saya suatu kebaikan sebagai hadiah yang pantas untuk dipertaruhkan dalam doa saya. Saya berharap Allah ridha dengan kebaikan yang pernah saya perbuat. Tapi kenapa saya juga masih terus diberi cobaan dengan kesulitan yang sama? Jangan-jangan saya memang belum banyak melakukan apapun, dan semua yang saya kira sebagai kebaikan itu ternyata belum bernilai apa pun di mata Allah. Atau adakah setitik riya' (ingin dipuji) mengotori setiap gerak kebaikan yang saya kerjakan?

Ya Tuhan, mungkin memang saya benar-benar belum memiliki amal unggulan yang pantas dipersembahkan dalam doa saya, sehingga Allah belum berkenan mengeluarkan saya dari kesulitan saat ini. Ya Allah, ampunilah saya yang terlalu sombong mengira telah banyak berbuat kebaikan, padahal sedikit, teramat sedikit sekali nilainya. Amat tak pantas hamba mempersembahkannya di hadapan-Mu.

Duhai Rabb, malu rasanya hamba saat ini. Semoga saya punya amal unggulan bila mendapati kesulitan di akhirat kelak.

Bayu Gawtama

Wednesday, June 01, 2005

Iqna, Tiga Tahun Tanpa Tanda Seru

Image hosted by Photobucket.com

Semalam saya bertahan menahan kantuk hanya untuk menunggu detik pertama di tanggal 1 Juni 2005. Dan, persis pukul 00.01 saya mencium pipi anak kedua saya, Iqna Haya Adzakya, yang hari ini genap berusia tiga tahun. "Selamat ulang tahun bidadari kecilku," lirih suara saya melihat wajah polosnya. Tak terasa ada bening air yang meleleh dan kuusap dengan rambut anakku.

Iqna, adik Hufha yang awal kehadirannya tidak terdeteksi dan tidak diperkirakan. Bayangkan, isteri saya baru sadar kalau ia hamil lagi justru saat usia kandungannya sudah masuk bulan ketiga. Walhasil, kagetlah kami, berhubung usia Hufha saat itu baru beberapa bulan saja. Ah, dia masih terlalu kecil untuk punya adik, pikir saya.

Tapi, apapun, inilah amanah Allah yang mesti saya sambut dengan penuh cinta. Dan, 1 Juni 2002 hadirlah ke dunia seorang bidadari kecil yang akan menambah semaraknya keluarga cinta kami. Kemudian ia kami beri nama, Iqna Haya Adzakya, yang artinya kurang lebih, "yang merasa cukup apa adanya, menjaga rasa malunya, lagi cerdas"

Ada yang menarik dari proses kelahiran Inonk, panggilan sayang saya kepada Iqna. Saat terjadi kontraksi, saya masih berada di kantor di Jakarta, sementara saat itu kami masih tinggal di Bogor. Begitu mendapat telepon bahwa isteri saya mengalami kontraksi, saya langsung ngacir menuju Bogor. Dada ini terus berdegup sepanjang perjalanan berharap masih bisa menyaksikan dan menemani proses persalinan. Karena waktu Hufha lahir pun, saya mendampingi isteri tanpa berkedip. Dan itu, ternyata memberikan energi yang luar biasa bagi isteri saya menghadapi masa-masa persalinan.

Sampai di Bogor, isteri sudah pergi ke dokter tempat biasa memeriksakan kandungan. Saya pun bergegas mengejarnya, bersyukur saya mendapatkannya masih terbaring sambil meringis menahan sakit. Satu jam menunggu dokter ternyata belum juga datang dari Rumah Sakit tempatnya praktek. Akhirnya saya melarikan isteri saya ke bidan tak jauh dari situ. Nahas, sampai di tempat praktek sebelum turun dari mobil isteri saya berteriak lirih, "tahan sebentar, rasanya mau keluar nih..." Oohh, tambah panik lah saya.

Saya bopong isteri saya -aneh, entah tenaga dari mana- menuju tempat persalinan. Nahasnya lagi, sang bidan pun tidak ada di tempat. Saya pun lemas, padahal si bayi sudah mau keluar. Dan benar saja, tiga menit kemudian saya pun berubah profesi menjadi bidan. Saya lah bidan itu, saya yang membantu isteri menjalani proses persalinan, saya yang menarik si bayi dari rahim ibunya... hingga bidadari cantik itu hadir dan mata kami pun saling menatap. Tak percaya, tapi ini benar-benar terjadi dan saya takkan pernah bisa melupakan peristiwa bersejarah ini. Takut, haru, waswas, cemas, seru, merinding dan sejuta perasaan berkecamuk saat itu.

Tidak kurang dari dua menit setelah bayi keluar, bidan yang ditunggu pun hadir. Ia hanya meneruskan tugas selanjutnya, memotong tali pusar si bayi. Subhanallah, saya bersyukur bisa melakukan ini. Sungguh, ini peristiwa seru yang tidak pernah ingin saya ulangi...

Hari ini, tiga tahun usianya, tidak ada hal seru yang akan terjadi pada Iqna. Seperti ultah kakaknya Maret lalu, kami memang tidak akan pernah merayakan ulang tahun untuk anak-anak. Sekadar hadiah ulang tahun, itu pasti. Tapi tetap tanpa hingat bingar nyanyian ultah, tanpa tiup lilin, balon dan pita. Doa, itu lebih dari segalanya.

Selamat ulang tahun Iqna, jadilah bidadari cantik Abi dan Ummi.

Bayu Gawtama dan Ida Aryani