Ketika masih di bangku kelas enam sekolah dasar, saya dan beberapa teman belajar mengaji di rumah seorang ustadz di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Seperti kebanyakan pengajian anak-anak di kampung pada saat itu, seorang ustadz sudah dianggap sebagai Ayah sendiri, isterinya pun sudah seperti ibu bagi anak-anak yang belajar, bahkan rumah ustadz yang dipakai untuk tempat belajar mengaji dianggap rumah sendiri sehingga sudah lazim setiap sebelum mulai pengajian ada anak-anak yang bergantian tugas membersihkan rumah.
Pernah suatu hari, saya tak mengerjakan kewajiban saya membersihkan lantai dan lebih memilih bermain di halaman depan seraya membiarkan anak lain yang membersihkan. Saat pengajian dimulai, pak Ustadz memanggil saya dan meminta saya berdiri di sudut ruangan sebagai hukumannya. Saya kesal, marah, dan merasa harus berbuat sesuatu untuk membalasnya. Akhirnya, sepulang mengaji saya sengaja menyembunyikan sandal jepit milik pak Ustadz.
Saya tahu, sandal itu yang selalu dipakainya saat mengantarkan anak-anak pulang sampai ke pintu gerbang. Sandal itu juga yang sering dipakainya pagi hari untuk jalan-jalan sekitar kampung. Hingga kini saya tak pernah lagi tahu apakah pak Ustadz merasa kelimpungan malam itu, atau paginya, mencari-cari sandal jepitnya. Karena ketika keesokan sorenya saya kembali untuk mengaji, sepasang sandal jepit baru terlihat di samping pintu rumah. Milik pak Ustadz, duga saya.
Hingga hari ini saya tak pernah bisa menghilangkan ingatan saya akan peristiwa hampir dua puluh tahun silam. Seperti halnya saya tak pernah bisa lupa akan wajah teduh dan sabar pak Ustadz mendidik puluhan anak yang sebagian besar justeru bertipikal seperti saya, susah diatur dan nakal. Namun yang terus menerus membuat saya lelah adalah betapa saya senantiasa dihantui rasa bersalah karena menyembunyikan sandal jepit pak Ustadz. Sungguh, sampai hari ini saya masih mampu dengan jelas mengingat warna dan bentuk sandal jepitnya dan dimana saya menyembunyikannya.
Itu cuma soal sandal jepit. Bagaimana dengan dosa dan kesalahan saya yang lain? Lelah, sungguh saya teramat lelah karena mata ini bagaikan sebuah rekaman yang terus menerus diputar ulang untuk mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah saya lakukan. Kalau lah soal sandal jepit pak Ustadz saja sudah sedemikian membuat saya lelah karena terus menerus merasa dihantui perasaan bersalah dan juga ketakutan seandainya pak Ustadz tidak pernah ridha terhadap anak yang menyembunyikannya, bagaimana dengan ratusan, bahkan ribuan orang lain yang juga pernah bersinggungan dengan saya, pernah merasa sakit hati oleh lidah saya, pernah terhina oleh tatapan saya, pernah terpukul oleh sikap saya?
Tuhan, bantu hamba-Mu agar senantiasa kuat dan menjadikan semua rekaman peristiwa masa lalu itu sebagai pelajaran berharga. Agar diri yang lemah ini tak terus menerus berbuat salah, padahal mengingat yang sudah berlalu pun sungguh teramat melelahkan.
Semoga saja pak Ustadz ridha dan memaafkan saya, meski mungkin ia tak pernah tahu persis anak yang menyembunyikan sandal jepitnya.
Bayu Gawtama
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Monday, May 16, 2005
Thursday, May 12, 2005
Mengukir Sejarah
Kekaguman saya terhadap sosok Ayah memaksa saya berujar singkat di depannya, "Saya ingin menjadi seperti Ayah". Ayah hanya tersenyum dan menarikku ke pangkuannya, lalu sebaris kalimat mengalir teduh dari mulutnya, "Jadilah diri sendiri, dan tulislah sejarahmu sendiri". Hingga kini, kalimat singkat itu masih terus menari-nari di benak saya, akankah saya mampu menjadi diri saya sebenarnya dan menuliskan sejarah untuk diri saya sendiri?
Entah sudah jumlah ke berapa manusia yang pernah hidup di dunia ini, dan sudah berapa banyak pula manusia-manusia yang mengukir sejarah mereka di lembaran kehidupannya, meski juga jauh lebih banyak manusia yang tak mampu melukiskan namanya secara baik hingga akhir masanya. Semenjak Nabi Adam, kemudian Rasullullah Muhammad SAW hingga orang tua kita telah menorehkan nama mereka dalam lembar sejarah kehidupan, setidaknya yang dekat dan menyentuh kehidupan pribadi kita sendiri.
Ada orang-orang yang menjalani hidupnya secara biasa sehingga ketika mati pun ia tetap sebagai orang biasa. Sementara ada sebagian orang yang berupaya melakukan hal luar biasa di dalam hidupnya, meski semasa hidup ia hanya orang biasa, banyak orang yang kan senantiasa mengenangnya sebagai orang yang luar biasa.
Ada manusia-manusia yang membiarkan tangan, kaki dan seluruh anggota dirinya berbuat merugikan, baik bagi dirinya maupun orang lain. Maka kemudian ia pun kelak terus menerus menjadi contoh buruk bagi manusia yang hidup sesudahnya. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang menjadikan hidupnya tidak hanya untuk dirinya tetapi membaikkan bagi orang lain. Hidup yang dijalaninya berpengaruh positif kepada kehidupan orang lain. Setiap kata yang terucap, langkah yang tercipta menjadi teladan bagi manusia-manusia yang hidup sesudahnya.
Manusia-manusia yang pernah hidup sebelum kita, telah pernah menuliskan sejarah mereka sendiri. Apakah kemudian orang sesudahnya mengenalnya sebagai sejarah buruk atau baik, itu sangat tergantung pada apa yang sudah dilakukannya semasa hidup. Menjadi apa dia, dan apa yang dilakukannya pada masa hidupnya, adalah catatan yang takkan pernah hilang di masa yang akan datang. Orang lain akan mengingatnya sebagai pelajaran berharga, mengikuti teladannya atau menjauhinya.
Maka, berhati-hatilah saya saat ini. Karena apa yang saya ucapkan, setiap coretan yang tertuang dari tangan saya, sejauh langkah yang pernah saya tapaki, semua itu dalam rangka mengukir sejarah saya sendiri. Apakah orang lain akan melihat lukisan sejarah saya sebagai sesuatu yang baik untuk dicontoh? Ah, semoga saja demikian.
Bayu Gautama
Semoga anak-anak saya bangga memiliki Ayah seperti saya
Entah sudah jumlah ke berapa manusia yang pernah hidup di dunia ini, dan sudah berapa banyak pula manusia-manusia yang mengukir sejarah mereka di lembaran kehidupannya, meski juga jauh lebih banyak manusia yang tak mampu melukiskan namanya secara baik hingga akhir masanya. Semenjak Nabi Adam, kemudian Rasullullah Muhammad SAW hingga orang tua kita telah menorehkan nama mereka dalam lembar sejarah kehidupan, setidaknya yang dekat dan menyentuh kehidupan pribadi kita sendiri.
Ada orang-orang yang menjalani hidupnya secara biasa sehingga ketika mati pun ia tetap sebagai orang biasa. Sementara ada sebagian orang yang berupaya melakukan hal luar biasa di dalam hidupnya, meski semasa hidup ia hanya orang biasa, banyak orang yang kan senantiasa mengenangnya sebagai orang yang luar biasa.
Ada manusia-manusia yang membiarkan tangan, kaki dan seluruh anggota dirinya berbuat merugikan, baik bagi dirinya maupun orang lain. Maka kemudian ia pun kelak terus menerus menjadi contoh buruk bagi manusia yang hidup sesudahnya. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang menjadikan hidupnya tidak hanya untuk dirinya tetapi membaikkan bagi orang lain. Hidup yang dijalaninya berpengaruh positif kepada kehidupan orang lain. Setiap kata yang terucap, langkah yang tercipta menjadi teladan bagi manusia-manusia yang hidup sesudahnya.
Manusia-manusia yang pernah hidup sebelum kita, telah pernah menuliskan sejarah mereka sendiri. Apakah kemudian orang sesudahnya mengenalnya sebagai sejarah buruk atau baik, itu sangat tergantung pada apa yang sudah dilakukannya semasa hidup. Menjadi apa dia, dan apa yang dilakukannya pada masa hidupnya, adalah catatan yang takkan pernah hilang di masa yang akan datang. Orang lain akan mengingatnya sebagai pelajaran berharga, mengikuti teladannya atau menjauhinya.
Maka, berhati-hatilah saya saat ini. Karena apa yang saya ucapkan, setiap coretan yang tertuang dari tangan saya, sejauh langkah yang pernah saya tapaki, semua itu dalam rangka mengukir sejarah saya sendiri. Apakah orang lain akan melihat lukisan sejarah saya sebagai sesuatu yang baik untuk dicontoh? Ah, semoga saja demikian.
Bayu Gautama
Semoga anak-anak saya bangga memiliki Ayah seperti saya
Tuesday, May 10, 2005
Menutup Mata dengan Senyuman
Tahun 1983, saya masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Paman saya datang menjemput ke sekolah dan langsung membawa saya beserta abang dan adik-adik ke Jakarta. Sampai di rumah kakek, lautan manusia menyesaki halaman rumah hingga ke dalam. Bendera kuning terpasang di depan rumah, kakek menghadap Allah hari itu.
Ibu, dan semua anak-anak kakek menangis. Namun nampak terlihat jelas seulas senyum manis dan wajah bersih berseri seolah tampak cahaya yang memancar dari wajah sosok yang ditangisi ratusan orang yang datang hari itu. Tidak ketinggalan anak-anak yatim yang selama ini mendapat santunan dari kakek pun meneteskan air matanya. Bagi mereka kakek adalah Ayah yang selama ini menggantikan peran Ayah mereka yang sejak lama meninggalkan mereka.
Kenangan dua puluh dua tahun yang lalu itu masih sangat jelas terekam di ingatan saya. Betapa saya yang saat itu juga ikut menangis, meski mungkin saya hanya merasa kehilangan seseorang yang takkan lagi mengajak saya makan roti tawar di minggu pagi, atau membelah-belah tahu cina kesukaan kakek dan kemudian ia menyuapi cucunya satu persatu, memandangi senyumnya dengan binar bahagia. Masih jelas hingga detik ini senyum indah kakek, bahkan teramat detil hingga seandainya saya mampu melukis mungkin saya akan melukiskannya dengan sangat baik.
Tahun 1992, kakek saya dari Ayah meninggal dunia. Ia adalah tokoh masyarakat yang sangat disegani, ia sangat ramah dan akrab dengan warga, dan seperti namanya, Abdul Karim, ia dianggap sebagai bapak yang mulia bagi sebagian warga. Benar, karena hampir seluruh warga mengenalnya sebagai orang baik, dermawan. Hingga kini, peninggalannya berupa wakaf tanah untuk masjid masih menjadi ingatan yang jelas akan amal baiknya. Masjidnya pun diberi nama masjid Al Karim. Seperti juga kakek saya sebelumnya, ia menutup matanya dengan indahnya senyuman.
Dari nasihat yang pernah saya dengar, Allah kerap menunjukkan kekuasaan-Nya kepada makhluk yang masih hidup melalui orang-orang yang meninggal. Apakah kebaikan yang diperlihatkan ataukah sisa-sisa perbuatan buruk seseorang yang nampak pada saat sakaratul maut dan sesudahnya. Seperti cerita Al Qomah yang sulit meninggal karena perlakuannya terhadap ibunya, mungkin akan jadi pelajaran bagi orang-orang yang melihatnya. Dan senyuman yang menghiasi orang-orang yang meninggal, juga merupakan kekuasaan Allah yang hendak memperlihatkan akhir dari orang-orang yang senantiasa menjaga dirinya dengan amal shalih.
Sungguh, saat ini saya sering menangis jika menghitung-hitung betapa miskinnya diri ini akan amal shalih. Selaut air mata siap tumpah tatkala mengingat segunung khilaf dan dosa yang kerap tercipta bahkan hingga detik ini. Jika demikian, adakah kemungkinan diri ini mengakhiri perjalanan ini dengan senyuman? Mungkinkah saya menutup mata dengan indah? Adakah orang-orang kan membincangkan kebaikan atau keburukan saya sepeninggal saya?
Ya Allah, izinkan hamba menutup mata dengan senyuman.
Bayu Gautama
Ibu, dan semua anak-anak kakek menangis. Namun nampak terlihat jelas seulas senyum manis dan wajah bersih berseri seolah tampak cahaya yang memancar dari wajah sosok yang ditangisi ratusan orang yang datang hari itu. Tidak ketinggalan anak-anak yatim yang selama ini mendapat santunan dari kakek pun meneteskan air matanya. Bagi mereka kakek adalah Ayah yang selama ini menggantikan peran Ayah mereka yang sejak lama meninggalkan mereka.
Kenangan dua puluh dua tahun yang lalu itu masih sangat jelas terekam di ingatan saya. Betapa saya yang saat itu juga ikut menangis, meski mungkin saya hanya merasa kehilangan seseorang yang takkan lagi mengajak saya makan roti tawar di minggu pagi, atau membelah-belah tahu cina kesukaan kakek dan kemudian ia menyuapi cucunya satu persatu, memandangi senyumnya dengan binar bahagia. Masih jelas hingga detik ini senyum indah kakek, bahkan teramat detil hingga seandainya saya mampu melukis mungkin saya akan melukiskannya dengan sangat baik.
Tahun 1992, kakek saya dari Ayah meninggal dunia. Ia adalah tokoh masyarakat yang sangat disegani, ia sangat ramah dan akrab dengan warga, dan seperti namanya, Abdul Karim, ia dianggap sebagai bapak yang mulia bagi sebagian warga. Benar, karena hampir seluruh warga mengenalnya sebagai orang baik, dermawan. Hingga kini, peninggalannya berupa wakaf tanah untuk masjid masih menjadi ingatan yang jelas akan amal baiknya. Masjidnya pun diberi nama masjid Al Karim. Seperti juga kakek saya sebelumnya, ia menutup matanya dengan indahnya senyuman.
Dari nasihat yang pernah saya dengar, Allah kerap menunjukkan kekuasaan-Nya kepada makhluk yang masih hidup melalui orang-orang yang meninggal. Apakah kebaikan yang diperlihatkan ataukah sisa-sisa perbuatan buruk seseorang yang nampak pada saat sakaratul maut dan sesudahnya. Seperti cerita Al Qomah yang sulit meninggal karena perlakuannya terhadap ibunya, mungkin akan jadi pelajaran bagi orang-orang yang melihatnya. Dan senyuman yang menghiasi orang-orang yang meninggal, juga merupakan kekuasaan Allah yang hendak memperlihatkan akhir dari orang-orang yang senantiasa menjaga dirinya dengan amal shalih.
Sungguh, saat ini saya sering menangis jika menghitung-hitung betapa miskinnya diri ini akan amal shalih. Selaut air mata siap tumpah tatkala mengingat segunung khilaf dan dosa yang kerap tercipta bahkan hingga detik ini. Jika demikian, adakah kemungkinan diri ini mengakhiri perjalanan ini dengan senyuman? Mungkinkah saya menutup mata dengan indah? Adakah orang-orang kan membincangkan kebaikan atau keburukan saya sepeninggal saya?
Ya Allah, izinkan hamba menutup mata dengan senyuman.
Bayu Gautama
Subscribe to:
Posts (Atom)