Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, April 12, 2005

My daughter's request

Image hosted by Photobucket.com

Sudah beberapa hari ini ada satu permintaan Hufha yang selalu diucapkannya setiap malam sebelum tidur. Biasanya, selesai mendongeng untuk anak-anak saya selalu bilang, "bobo ya, mimpiin abi...". Hufha menjawabnya dengan satu permintaan, "Besok abi jangan berangkat sebelum Hufha bangun ya..."

Duh, sungguh ini permintaan yang agak sulit untuk dikabulkan. Bayangkan, saya berangkat pukul 06.00 WIB, sementara Hufha baru bangun paling cepat pukul 07.30 WIB. Jelas saja, saya agak sering kecewa dengan terus memandanginya dari pintu kamar sebelum berangkat.

Image hosted by Photobucket.com

Lain lagi dengan Iqna, anak abi yang satu ini lebih mudah dipenuhi permintaannya. "Sebelum ke kantor, cium Iqna ya bi...". Wuah, gampang banget, dia nggak minta sarat harus nungguin dia bangun dulu. Berarti biar lagi tidur tetap aja saya cium, walau umminya selalu mewanti-wanti, "lembut aja bi ciumnya, ntar dia bangun. Ummi masih banyak kerjaan..." he he he...

Meski sudah diingetin begitu, tetap saja saya menciumnya dengan gemas. Lihat deh pipinya, gemesin banget sih, maap ya mi, kadang-kadang abi ciumnya sampe Iqna bangun.

Sekali lagi, semua karena cinta. mmmuuuaah...

Bayu Gautama

Wednesday, April 06, 2005

Kasih yang Terlupa

Saya masih ingat pernah memberinya sebuah baju merah sebagai hadiah ulang tahunnya sebelas tahun yang lalu. Itu juga merupakan hadiah pertama yang mampu saya berikan setelah empat bulan bekerja di pabrik. Ibu begitu senang menerimanya hingga selautan doa tak pelit tercurah untuk anaknya ini agar Allah senantiasa melimpahkan rezeki. Meski hadiah itu sudah tak lagi terpakai dan entah dimana, entah kenapa saya masih selalu ingat pemberian itu sampai hari jadi ibu yang ke 56 dua hari lalu. Tapi disaat yang sama saya tak pernah mampu mengingat apa-apa yang pernah ia berikan kepada saya.

Empat tahun yang lalu, saya pernah membopong ibu saat sakit keras menuju mobil kemudian membawanya ke rumah sakit. Seolah, beban berat tubuh ibu masih terasa hingga kini dan saya teramat sering menceritakan pengorbanan saya itu kepada isteri dan anak-anak saya. Namun, entah di bagian otak saya yang mana terdapat kesalahan sehingga saat ini tak pernah mampu menghitung berapa kali sehari wanita mulia itu pernah menggendongku semenjak kecil. Bahkan sudah pasti saya tak pernah ingat sembilan bulan lebih ia tak pernah meninggalkan saya.

Pernah saya menangis saat ia sakit keras dan beberapa hari tak sembuh. Rasanya habis sudah air mata ini waktu itu membuat saya merasa menjadi anak yang paling cinta terhadapnya. Tentu, masih terlintas jelas dalam ingatan ini kejadian itu karena berhari-hari saya rela tak tidur untuk menemani ibu. Tapi pernahkan saya tahu berapa banyak air mata yang pernah keluar dari sudut matanya untuk diri ini? Kadang ia juga ikut menangis saat saya meringis kesakitan ketika terjatuh dari sepeda.

Sejak kecil saya diajarkan untuk senantiasa mendoakan orang tua. Meski kadang saya terlupa dan lebih mendahulukan menyebut nama isteri dan anak-anak saya. Padahal saya teramat tahu ia tak pernah absen menyebut nama saya dalam setiap doa panjangnya. Selalu saja terdengar nama saya disebut dalam isak tangisnya di hadapan Allah.

Sore menjelang maghrib saya pernah menunggunya tak lebih dari setengah jam untuk menjemputnya sepulang mengajar. Hujan sore itu memaksa saya menunggunya untuk menghantarkan payung agar ia tak kehujanan. Anehnya, saya tak pernah tahu seberapa sering ia kepanasan dan kehujanan di jalan demi mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya. Satu yang masih kuingat, ia pernah melindungi saya dari guyuran hujan dengan wajah dan tubuhnya. Entah sudah kali keberapa ia pernah lakukan itu, saya tak pernah menghitungnya.

Pada hari jadinya dua hari lalu, saya dan anak-anak ibu yang lain berkumpul dan itu membuatnya bahagia. Saya tak pernah tahu sesering apa saya pernah membuatnya bahagia. Saya jauh lebih ingat sebegitu sering membuatnya bersedih dan kecewa dengan sikap dan kenakalan saya. Sementara, disaat yang sama saya benar-benar tak pernah, dan takkan pernah bisa menjumlah kebahagiaan yang pernah ia ciptakan untuk saya.

Sungguh, betapa banyak kasih yang terlupakan. Begitu luas cinta yang tak pernah terbalas, dan teramat sedikit yang mampu terekam dengan baik oleh saya. Sehingga hari ini saya tetap tak pernah mampu memutar lintasan-lintasan cintanya, mungkin tak kan cukup memori yang saya miliki yang jelas-jelas tak sebanding dengan semua yang pernah ia tuluskan untuk saya.

Selamat ulang tahun, ibu.

Bayu Gautama
4 April 2005

Tuesday, April 05, 2005

Alhamdulillah Ia Isteriku...

Minggu sore, saya mengantar rombongan orang tua dan adik-adik yang hendak pulang ke Bogor. Sebuah angkot berpenumpang dua orang berhenti di depan kami dan menawarkan untuk mengantarkan sampai ke tempat tujuan. Setelah menghitung jumlah orang dan melihat tempat yang tersedia, saya isyaratkan kepada sopir angkot bahwa kita tak jadi menaiki kendaraannya karena tak cukup. Dan kami akan menunggu angkot berikutnya.

Tetapi angkot tersebut tetap tak mau jalan dan lagi-lagi sopirnya memaksa agar kami tetap menumpang kenadaraannya dengan meminta penumpang yang ada untuk turun mencari angkot berikutnya. Saya lantas marah dan meminta sopir itu tidak melakukan tindakan yang merugikan penumpang itu. Saya juga meminta kepada penumpang yang ada untuk tidak turun dan biarlah kami yang menunggu angkot berikutnya. Entah kenapa tiba-tiba penumpang yang di dalam angkot itu turun sambil menggendong anaknya dan mempersilahkan kami masuk. Karuan saja saya tambah marah kepada sopir angkot itu dan meminta penumpang sebelumnya naik kembali. Walau akhirnya, kami pun terpaksa naik angkot tersebut setelah sebelumnya bapak yang menggendong anak itu langsung naik angkot yang tiba berikutnya. Sepanjang perjalanan saya hanya diam dan jujur saja, hati ini masih 'panas' oleh sikap sopir itu. Sementara isteri saya memandangi sikap saya dengan senyum.

Sepulang dari terminal mengantar rombongan naik bis ke Bogor, saya ditemani isteri mengendarai motor menuju ATM. Malam itu sedikit gerimis dan jalanan mulai becek sehingga saya mengendarai motor sedikit hati-hati. Tapi tiba-tiba sebuah angkot melaju kencang dekat perempatan yang baru saja saya lewati dan nyaris menyerempet motor saya seandainya saya tidak segera benting stir ke bahu jalan. Saya marah dan saya kejar angkot tersebut. Kebetulan ia sedang menurunkan penumpang sehingga tak sulit bagi saya mengejarnya. Yang membuat saya kesal, sopir itu tak menunjukkan rasa bersalahnya dan juga tak minta maaf. Saya tak sempat memakinya dengan kata-kata kasar karena isteri saya segera berbisik, “sudah lah, bang”

Sesampainya di rumah, saya tanyakan kepada isteri saya kenapa satu hari ini saya tidak seperti biasanya. Tidak sabar. Biasanya saya tak pernah ambil pusing dengan sikap sopir angkot yang seenaknya menurunkan penumpang demi mendapatkan penumpang yang lebih banyak. Saya juga selalu menurut kalau kebetulan metromini yang saya tumpangi memindahkan saya dan beberapa penumpang lainnya ke metromini di belakangnya dengan berbagai alasan. Saya kadang hanya berpikir, inilah cara mereka mencari rezeki dan saya harus memakluminya.

Dahulu saya teramat mudah memaafkan sopir angkot yang menyebabkan kecelakaan atas diri saya. Motor saya hancur dan saya harus masuk UGD gara-gara sopir angkot yang berhenti mendadak persis sepersekian detik di depan motor saya yang melaju dengan kecepatan tinggi. Saya menabrak bagian belakang mobil hingga kaca mobil itu pecah. Motor saya hancur dan saya pun terbang hingga jatuh ke selokan. Anehnya, setelah sembuh saya tak dendam terhadap sopir angkot tersebut, saya luluh dengan permintaan maafnya yang tulus.

Mendengar pertanyaan saya tersebut, isteri saya berujar singkat, “ibadahnya kurang kali…” Astaghfirullaah…

Inilah yang selalu membuat saya semakin cinta kepadanya. Kadang saya acapkali terlupa bahwa penasihat terbaik sekaligus terbijak itu ada dan selama ini berdiri mendampingi di samping. Terima kasih ya Allah, alhamdulillah ia isteriku.

Bayu Gautama

buat redaksi eramuslim, kalo mau dimuat buat artikel keluarga, judulnya diganti: Penasihat Terbijak