Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, March 15, 2005

Nyalakanlah Api Cinta

Malam itu semua peserta pelatihan saya kumpulkan dan duduk melingkar dalam satu ruangan. Tanpa setitik pun penerangan dalam ruangan tersebut sehingga masing-masing peserta nyaris tak dapat melihat wajah peserta di sebelahnya. Dalam keadaan gelap seperti itu, tak banyak yang bisa dilakukan seseorang. Berjalan pun harus meraba-raba dengan langkah yang tersendat dan penuh hati-hati agar tak menabrak sesuatu atau terjerembab yang menyebabkan luka.

“Apa yang bisa Anda lakukan dengan keadaan seperti ini?,” saya membuka suara di keheningan malam yang terasa semakin pekat.

Beberapa peserta mencoba menjawab seadanya, meski sebagian mereka tak benar-benar tahu dari mana arah suara saya. Saya tak sedang mengajak peserta merasakan bagaimana rasanya tak memiliki penglihatan, juga tak sedang meminta mereka berempati kepada para tuna netra meski hal itu sangat penting untuk dilakukan.

Kemudian salah seorang peserta memecah kebekuan, “Apalah yang bisa saya lakukan tanpa cahaya, semuanya begitu sulit dan mencekam. Dalam keadaan seperti ini saya pasti membutuhkan bantuan orang lain.”

“Anda tak membutuhkan orang lain, yang Anda butuhkan adalah diri Anda sendiri,” tegas saya.

Meski tak dapat melihat dengan jelas raut wajah mereka, namun saya yakin sebagian besar mereka bertanya-tanya maksud pernyataan saya tadi. Ketika seseorang mengaku membutuhkan orang lain dalam kondisi yang pekat, justru saya katakan dia hanya membutuhkan dirinya sendiri.

Sedetik kemudian saya menyalakan sebatang lilin di tangan saya. Setitik cahaya berpendar di wajah saya, teramat kecil titik itu sehingga hanya mampu menerangi seperduapuluh dari ruangan tersebut. Sebelumnya saya juga membekali para peserta masing-masing sebatang lilin, namun saya tak menyertakan pemantik api kepada mereka.

“Yang harus Anda lakukan adalah menolong diri Anda sendiri. Api lilin ini melambangkan cinta dan saya akan membagi api cinta ini kepada Anda”

Saya dekatkan api lilin untuk menyalakan lilin di sebelah saya sambil mengatakan bahwa saya ingin memulai sebuah hubungan yang indah bersamanya dengan membagi cinta saya kepada Anda dan saya harap Anda mau menyalakan api cinta Anda. Saya pun meminta ia menggunakan lilin saya untuk menyalakan lilin rekan di sebelahnya dan seterusnya. Ketika terdapat dua lilin yang menyala di ruangan itu, tentu ruangan itu bertambah terang, terlebih ketika satu persatu dari semua lilin yang dimiliki peserta menyala. Adakah lagi kegelapan di ruang itu?

“Saat saya membagikan api lilin kepada masing-masing Anda, apakah api di lilin saya semakin kecil? Dengan memberikan cinta saya kepada semua orang yang ada di ruangan ini apakah kadar cinta saya semakin berkurang? Saat masing-masing Anda mendapatkan api cinta dari saya, apakah Anda mendapatkan api cinta yang lebih sedikit? Tentu saja tidak, Anda saksikan bahwa nyala api lilin kita sama besarnya.”

“Setelah semua lilin dinyalakan, Anda bisa melihat bahwa cahaya di ruangan ini jauh lebih terang dibanding ketika hanya lilin saya yang menyala”

Lalu saya pun mengajukan pertanyaan, “Apakah masing-masing kita mempunyai cukup api cinta untuk dibagikan kepada orang-orang di sekitar kita? Adakah yang khawatir api cinta Anda seketika mati saat Anda membaginya kepada orang lain?

Saya menutup sessi pelatihan itu dengan wajah tersenyum saat melihat wajah-wajah penuh cinta berpendar cahaya lilin. Indah nian jika semua cinta dapat dibagi, karena di luar sana teramat banyak sahabat yang membutuhkan cinta kita. Wallaahu ‘a’lam

dan kau lilin-lilin kecil, sanggupkah kau memberi seberkas cahaya… (James F Sundah)

Bayu Gautama

Monday, March 14, 2005

Carilah Tuhan yang Lain!

“brengsek…! Sialan…! Uu-uh… batu nggak tau diri, bikin sakit kaki gue aja…”

Dulu, kalimat itu sering terlontar begitu saja dari mulut saya saat kaki saya terantuk batu. Biasanya, jari kaki langsung berdarah, atau minimal lecet. Yang lebih buruk, kadang bisa sampai bengkak bahkan mungkin bernanah beberapa hari kemudian jika tak segera diobati.

Esok harinya, saya berpikir harus lebih berhati-hati saat berjalan, terutama di jalan yang berkerikil. Tapi yang namanya nasib, biar empat mata terpasang –plus dua mata kaki- lebar-lebar tetap saja kalau sedang tidak beruntung ya terantuk lagi. Hingga hari ini, entah sudah kali ke berapa kaki ini terantuk batu. Tak pernah saya menghitungnya.

Manusia memang perlu belajar dari kesalahan masa lalu agar tak mengulanginya di masa yang akan datang. Konon salah satu ciri orang bodoh adalah mengulangi kesalahan yang sama akibat tak mengambil pelajaran dari kesalahan sebelumnya. Tapi bicara takdir, ciri bodoh yang satu ini mesti dikesampingkan dulu. Seperti jempol saya yang berulang kali harus berdarah beradu keras dengan batu. Saya tak ingin menyalahkan batu itu yang sering saya anggap menghalangi jalan saya, padahal batu itu sudah ada di tempatnya sejak kemarin sebelum saya melewati jalan itu. Atau bahkan ia sudah di situ jauh sebelum saya lahir dan pernah juga memakan korban jutaan jempol kaki yang lain.

Jika saya sudah berhati-hati namun masih tetap terantuk juga, itu namanya takdir. Allah sudah mencatat jauh sebelum saya diciptakan bahwa yang namanya Bayu Gautama itu, pada hari ini, jam sekian, detik sekian, akan terantuk batu, di jalan ini, beberapa meter dari bangunan anu. Selesai? Belum!

Tinggal kemudian bagaimana saya mensikapi setiap keputusan Allah terhadap saya tersebut. Bersyukur kah atau mengeluh?

Ini bukan soal bahwa kemudian saya akan menerima begitu saja setiap keputusan Allah. Misalnya ketika saya sakit, maka saya tak perlu berobat karena saya pikir ini takdir Allah, dan saya yakin Allah pula yang akan mengangkat penyakit saya kelak karena Allah yang memberinya. Sebagai orang beriman, tentu saja saya harus melakukan satu ikhtiar, yakni berobat sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh seorangb manusia. Sembuhkah atau bertambah parahkah saya setelah berobat, itu diluar kekuasaan manusia. Manusia hanya bisa berbuat dan berdoa, soal hasil tunggu lah tangan Allah yang bermain.

Sekarang kita mulai logikanya.

Anak sekolah yang hendak naik tingkat selalu harus melewati beberapa rangkaian ujian. Begitu juga seorang karyawan, ia harus lulus test dan ujian tertentu untuk bisa naik posisi yang lebih tinggi dengan pendapatan yang lebih baik. Artinya, untuk menjadi lebih baik seseorang senantiasa ‘wajib’ melewati berbagai ujian. Dan bisa dikatakan, setuju atau tidak setuju, setiap orang baik dan yang akan menjadi baik akan selalu menerima bermacam cobaan untuk menguji kualitas kebaikannya. Kalau ada anak yang tidak ikut ujian, alternatifnya hanya dua; dia tidak sekolah atau dia tidak mau naik kelas. Kalau ada karyawan yang tidak disertakan dalam test kenaikan pangkat, bisa jadi dia memang dipandang belum layak untuk menduduki posisi lebih baik sehingga kemudian dinilai belum mampu melewati rangkaian test, atau mungkin karyawan tersebut memang sudah berniat untuk terus menjadi bawahan. Saya rasa yang kedua ini agak unik, kalau boleh dibilang mustahil.

Jangan dulu bicara soal hasil. Di sini kita hanya bicara soal ujian, ujian dan ujian yang mesti dilewati seseorang untuk mencapai derajat kebaikannya. Semestinya, setiap anak sekolah yang akan melewati ujian kenaikan kelas senantiasa semangat dan senang menghadapinya. Demikian juga dengan karyawan yang mendapat kesempatan melewati test kenaikan pangkat. Semakin sering mereka mendapatkan kesempatan itu, semakin besar peluang mereka memperoleh tingkat yang lebih tinggi.

Sekarang kembali kepada saya yang terantuk batu. Saya tak lagi mengeluh atau bahkan mengumpat dengan makian yang sarkas. Toh, seberapa banyak pun kalimat sarkas yang keluar dari mulut saya, ini sudah terjadi dan jempol kaki saya tetap berdarah. Syukuri saja, karena bisa jadi ini juga ujian dari Allah. Saat saya terbaring sakit dan sudah menghabiskan jutaan rupiah, namun jika akhirnya saya harus menghadap Allah, isteri dan anak-anak saya harus bersyukur karena mereka mendapatkan ujian ini dari Allah. Saya tentu tak ingin mereka marah, kecewa atau bahkan membenci Allah, karena semua itu takkan pernah bisa mengembalikan saya kepada mereka.

Allah dalam sebuah hadits qudsi mengatakan; Setiap ujian, musibah dan malapetaka yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku sudah tercatat sebelumnya. Jika ada yang tak berkenan dengan semua itu, silahkan cari tuhan yang lain selain Aku. Silahkan cari bumi tempat berpijak selain bumi-Ku.

Memang tidak terlalu persis bunyinya seperti itu, tapi intinya saya ingin mengatakan, itu bukan marahnya Allah, justru itu Rahman (kasih sayang)nya Allah agar kita termasuk orang-orang yang baik, dan terus menjadi lebih baik karena senantiasa bersyukur atas cobaan, ujian dan musibah yang kita terima dengan ikhlas. Wallaahu’a’lam

Bayu Gautama

Wednesday, March 09, 2005

Rumah Baru

Sabtu siang (5/3) akhirnya kami tiba di rumah baru. Sebuah rumah sederhana yang akan menjadi persinggahan selanjutnya. Butuh waktu dua setengah jam dari Bogor menuju ke Tangerang, karena tiga mobil kami harus berjalan beriringan. Dua mobil untuk mengangkut rombongan keluarga, sementara hanya satu mobil box kecil untuk mengangkut barang-barang kami.

Cuma satu box kecil? Ya, karena kami memang belum punya apa-apa. Rumah (kontrakan) kami sebelumnya di Bogor terbilang kecil, bahkan bisa dibilang teramat kecil. Sehingga ketika kami menempati rumah baru (juga kontrakan) yang sedikit lebih besar, semakin bertambah terasa lah bahwa kami memang tidak memiliki apa pun.

Mau tahu barang apa yang paling berat yang kami bawa? Satu dus besar yang berisi buku! Ya, semua isinya buku dan itu adalah barang yang paling berat yang kami miliki. Tidak ada tempat tidur, tidak ada sofa, tidak ada lemari besar, tidak ada lemari es. Buku-buku yang sudah saya kumpulkan sejak saya masih bujangan itu terus setia mengikuti kemana pun kami berpindah kontrakan.

Perlu Anda ketahui, buku-buku itu pula yang membuat isteri saya sempat terbengong-bengong pada hari-hari pertama pernikahan kami. Saya hanya membawa satu tas kecil pakaian, sementara satu dus berukuran sedang dan satu tas traveling penuh terisi dengan buku. “Inilah harta paling berharga yang saya miliki, dan hanya ini yang saya bawa,” ujar saya waktu itu.

Kini, di rumah baru anak-anak saya bisa lebih leluasa bermain, berlari kesana kemari tanpa harus khawatir menabrak tembok. Rumah yang lapang memang merupakan bagian dari empat kebahagiaan yang disebutkan Rasulullah, yakni; rumah yang lapang, isteri shalihah, kendaraan yang baik dan tetangga yang baik. Alhamdulillah, setidaknya saya sudah mendapatkan tiga dari empat hal tersebut. Walaupun statusnya masih mengontrak. Kedua, soal tetangga yang baik, saya akan memulainya dengan menjadi tetangga yang baik buat para tetangga saya.

Tentang rumah yang lapang, saya pesankan kepada isteri saya. Ini semua tidaklah penting, jika hati kita tidak lapang. Apa yang ada di dalam dada ini, semestinya harus jauh lebih lapang dari kelapangan rumah. Selapang apa pun tempat tinggal kita, takkan pernah terasa damai dan lapang jika hati kita begitu sempit. Seyogyanya, kita bisa menciptakan hati kita senantiasa terbuka seluas-luasnya agar kita tetap merasa lapang meski tempat tinggal kita tidak lapang, agar orang-orang yang berada di sekitar kita pun terimbas kelapangan hati yang terpancar dari kita.

Jauh lebih penting dari semua itu, satu doa yang terus saya ucapkan bersama dengan isteri dan anak-anak saya, agar kelak Allah memberikan kelapangan ketika kami menempati rumah abadi kami, alam kubur dan alam akhirat. Jika Allah mengabulkan, tentu saja ini jauh lebih membahagiakan kami. Semoga.

Bayu Gautama