Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Saturday, September 18, 2004

Dan Anak-Anak Kami pun Bingung

Semalam sebelum tidur ummi berpesan agar Hufha tidak boleh nakal sama teman. Meskipun teman itu memukul, ummi bilang, lebih baik memaafkan daripada membalas. Tapi Hufha bingung, kakak-kakak, juga om dan tante di tayangan TV mengajarkan berbeda. Mereka kok boleh memukul temannya sendiri, mereka juga nggak dilarang oleh ibunya menjahati temannya sendiri bahkan dengan bentuk kejahatan yang tidak pernah Hufha lihat di lingkungan tempat tinggal Hufha.

Sore hari sebelum malam itu, Hufha ditegur ummi karena membentak Iqna (adik Hufha) gara-gara Iqna merebut mainan Hufha. Iqna langsung nangis dan lari ke pelukan ummi. Kata ummi, “Teteh, kalau ngomong nggak boleh keras-keras gitu, apalagi membentak. Rasulullah tidak pernah mengajarkan ummatnya seperti itu.” Hufha tidak tahu mana yang harus didengar, karena sinetron dan film-film di TV justru penuh dengan kata-kata kasar, keras, kotor, seronok dan kata-kata yang tidak pernah Hufha dengar sekalipun di rumah.

Pagi hari sesaat sebelum mandi, lagi-lagi ummi menasihati Hufha sewaktu Hufha berlari ke luar rumah dengan hanya mengenakan baju tidur dan bagian bawah hanya tinggal (maaf) celana dalam saja. “Nggak boleh keluar rumah dengan pakaian seperti itu, malu tuh auratnya kemana-mana”. Aneh juga omongan ummi itu, kok tante-tante di TV nggak pernah ada yang ngomelin meski puser dan auratnya ditonton banyak orang?

Abi Hufha pernah kaget waktu Hufha menunjukkan kebolehan Hufha bergoyang seperti tante-tante penyanyi dangdut. Abi bilang, “Hufha, Abi nggak mau lihat Hufha seperti itu lagi”. Hufha balik bilang ke Abi, kalau Hufha nggak boleh, kenapa tante di TV itu boleh?

Gara-gara banyak tayangan misteri, sampai sekarang Hufha masih takut kalau ke kamar mandi sendirian malam-malam. Setiap malam kalau mau pipis, Hufha pasti minta antar sama ummi. Bahkan kalau lagi ‘e‘e pun Abi harus nungguin di depan pintu kamar mandi sampai Hufha selesai. Abi bilang, makhluk gaib seperti setan itu memang ada tapi Hufha nggak perlu takut. Tapi, kenapa orang-orang di TV itu banyak yang ketakutan?

Hufha sering lihat om dan tante di TV berpelukan dan ciuman. Kata Abi, ciuman dan berpelukan hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Berarti om dan tante yang di TV itu sudah menikah semuanya ya?

Selepas isya Hufha setel TV, belum apa-apa Abi sudah bilang, “Jangan tonton yang itu, itu mengajarkan kekerasan”. Pindah ke saluran yang lain, giliran ummi yang bersuara, “ Ganti yang lain nak, yang itu mengajarkan permusuhan”. Begitu banyak saluran TV, dan begitu banyak pula acara yang ditayangkan, herannya, sebegitu banyak juga yang tidak boleh Hufha tonton. Jadi, tontonan yang mana yang boleh buat Hufha?

Ah kasihan anakku...

Bayu Gautama

Friday, September 17, 2004

Tak Semahal Conello

Anak saya, Hufha, makin semangat mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al Qur'an) Masjid dekat rumah kami. Pasalnya, ia memiliki teman yang setia menjemputnya setiap sore. Ia tampak senang berangkat bersama Sita, yang usianya hanya tiga bulan lebih tua darinya. Mereka berdua belum bersekolah, untungnya, TPA tersebut membuka kelas untuk anak-anak seusia Hufha dan Sita. Namun ada yang membuatnya kelihatan tak bersemangat beberapa hari ini, dan setelah saya selidiki, penyebabnya adalah karena Sita, tak bisa mengaji lagi.

Sudah hampir satu pekan Sita tak mengaji, saya mencoba menghibur Hufha untuk tetap semangat mengaji walaupun temannya tak lagi mengaji, "Yang pinter nanti juga kan kamu nak, sebaiknya kamu tetap mengaji meski teman yang lain tidak mengaji," bujuk saya suatu kali. Tak seperti dugaanku, ternyata ia tetap tak bersemangat, meski ia tetap berangkat ke TPA.

Sita, anak tetangga rumah kami itu merupakan teman bermain Hufha. Hampir tak ada hari yang terlewatkan oleh mereka berdua untuk bermain bersama. Saya cukup senang, karena kami yang merupakan warga baru di wilayah tersebut nampaknya diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar, termasuk Hufha yang cepat mendapatkan teman, Sita salah satunya. Tak banyak yang saya ketahui tentang anak tersebut kecuali ia adalah anak yatim. Ayahnya meninggal saat ia masih berumur satu tahun akibat sebuah kecelakaan. menurut cerita para tetangga, Pak Sahid, ayah Sita yang sehari-harinya bekerja sebagai tenaga angkut sayuran di pasar, tertabrak sebuah angkutan umum selepas subuh saat ia tengah menuju pasar tempatnya mengais rezeki. Kasihan Sita, anak seusianya sudah harus kehilangan ayah sekaligus lelaki pencari nafkah keluarganya.

Untuk menghidupi Sita dan dua kakaknya, Ibu Sahid mendapatkan upah dari mencuci pakaian para tetangganya. Itupun tak seberapa, sehingga ia masih harus melakukan beberapa pekerjaan lainnya, antara lain menjadi pembantu paruh waktu di salah satu rumah tak jauh dari tempat mereka tinggal.

Sepengetahuan saya juga, keluarga mereka termasuk keluarga yang taat beribadah, sehingga agak mengherankan bagi saya kalau ibunya membiarkan Sita tak lagi mengaji di TPA. Jelas bukan soal uang infaq TPA yang menjadi penyebabnya, karena TPA tersebut justru membebaskan anak-anak yatim seperti Sita dari infaq atau dana apapun.

Malam itu, Hufha buka suara. Sambil mengemas dua pasang sandalnya yang tak pernah lagi disentuhnya, ia mengatakan bahwa Sita masih sangat ingin mengaji. Yang menjadi masalah adalah, Sita malu kalau harus pergi mengaji tak menggunakan alas kaki. Sandalnya hilang beberapa waktu yang lalu sepulang mengaji, dan Sita tak berani meminta kepada ibunya untuk membelikan sepasang sandal baru.

Mendengar cerita anakku, tubuhku langsung lemas. Bagaimana mungkin saya bisa lalai untuk hal sepele seperti itu. Mungkin yang dibutuhkan Sita bukanlah sandal cantik berhias bunga melati diatasnya, atau selop merah muda berpita halus seperti yang dipunyai Hufha. Untuk bisa berangkat ke TPA -bersama anak saya- mungkin Sita hanya butuh sandal jepit yang harganya tak separuh harga Ice Cream Conello yang biasa dimakan Hufha.

Bayu Gautama

Thursday, September 16, 2004

Kado Istimewa

Bisa jadi saya anak yang paling malang di antara anak-anak lain di kampung. Bukan hanya karena ibu jarang memberi uang untuk jajan di sekolah, sehingga saya sering menghabiskan waktu istirahat sekolah untuk mereka-reka berapa uang jajan si Adi, apa yang selalu dibeli Rena, atau memperhatikan nikmatnya es doger di tangan Sukma. Bahkan untuk merayakan hari ulang tahunku yang setahun sekali pun ibu tak melakukannya.

Tidak ada tepuk meriah teman-teman, tidak juga tiupan lilin di atas kue tart yang selalu saya saksikan di setiap perayaan ulang tahun Rommy, Hilda, juga Siska. Tidak ada balon, hiasan khas ulang tahun, dan yang pasti, tidak mungkin saya berharap ada kado ulang tahun. Siapa yang mau ngasih? Tak ada pesta, ya tak ada kado.

"Ibu yang akan kasih kamu kado..." sapa ibu mengagetkan lamunanku. Sejenak kemudian saya masih terdiam membayangkan gerangan kado apa yang akan diberikan ibu. Sampai akhirnya, sebuah doa terajut dari mulutnya disertai kecupan hangat di kening dan pipiku.

Seketika, sebalut kehangatan terasa menelusup ke setiap aliran darahku. Doa ibu, jauh lebih indah dari hiruk pikuk tepuk tangan, tak bisa dibandingkan dengan kue tart termahal sekalipun. Lilin merah dengan api menyala, balon dan hiasan ulang tahun jelas tak seindah doa ibu. Untaian kalimat pinta yang dirajut ibu, bahkan lebih sempurna dari gaun ulang tahun milik siapapun.

Kehangatan kecupan ibu jelas lebih sejuk dari jutaan ucapan selamat dari siapapun. Tak ada satupun bingkisan ulang tahun yang mampu menandinginya, kecupan ibu adalah kado termahal yang pernah kuterima.

Kemarin, saya terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda. Saya menangis karena dua sebab, kaki saya memar dan sedikit berdarah tepat di lutut kanan, dan kemudi sepeda saya bengkok. Bapak segera mengangkat sepeda sementara ibu langsung mendekapku. Tak ragu, ibu mengusap air mataku dan memberikan satu kecupan pada luka di kakiku.

Kecupan ibu juga yang mengantarku masuk ke ruang kelas saat hari pertama sekolah. Mulanya saya takut, mungkin ini juga yang dirasakan setiap anak yang baru pertama kali masuk sekolah. Dalam pandanganku, bangku-bangku sekolah dasar, papan tulis, juga meja belajar itu lebih mirip makhluk aneh yang siap menerkamku. Guru dan teman-teman baru itu, lebih terlihat seperti monster menyeramkan bagiku. Tapi, dengan sekali kecupan di ubun-ubunku, ibu berkata, "Masuklah, anak ibu kan jagoan..."

Selang sepekan hari sekolah, tepat di pekan kedua, seharusnya saya kembali masuk sekolah. Tapi demam yang menyerangku sejak malam tak kunjung reda di pagi harinya. Saya sedih tidak bisa sekolah hari itu, sedih juga karena tak bertemu teman-teman baik di kelas, dan yang paling menyedihkan tentu saja saya harus tertinggal pelajaran di kelas. Namun ternyata bukan hanya saya yang sedih saat itu, tepat di pinggir tempat tidurku sesosok anggun terlelap lelah setelah semalaman terjaga menungguku, memberiku obat, mendengarkan setiap keluhanku, membetulkan selimutku dan mendekapku erat saat tubuh ini menggigil kedinginan. Di sudut matanya, masih tersisa bekas air mata semalam.

Kini, saya sadari, doa dan kecupan ibu lah kado yang paling kuharapkan di setiap hari ulang tahunku. Dan tentu saja, kehadiran ibu senantiasa lebih kuinginkan dari sekadar ratusan undangan lengkap dengan ratusan kadonya.

Bagi saya, ibu adalah kado terindah di setiap ulang tahunku. Terima kasih Allah yang masih memberikan kesempatan saya untuk bersama ibu di hari terindah ini. Dan saya selalu berharap, di tahun depan ibu masih tetap menjadi kado istimewa.

Ibu, Semakin kumengerti hadirmu

Bayu Gautama

Sepenggal kisah tersisa di hari jadi ke enam