Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, November 30, 2004

Meneruskan Virus Berbagi...

Saya punya satu keinginan, kelak jika memiliki anak lelaki akan memberinya nama "Tullus Berbaggi". Tentu Anda mengerti maksud saya memberinya nama demikian, karena saya sangat komitmen untuk terus menerus menyebarkan virus berbagi, sebuah virus yang tidak mematikan, tetapi justru yang -meski sedikit- mampu menambah semangat hidup orang lain. Gerakan inilah yang kemudian oleh beberapa teman -dan juga saya- disebut sebagai gerakan "Pay It Forward", membalas kebaikan yang kita peroleh dengan cara meneruskan kebaikan itu kepada orang lain yang membutuhkan.

Tentu Anda pernah menonton film "Pay It Forward", jadi saya tak perlu menceritakan panjang lebar tentang film Hollywood tersebut. Intinya film itu mengajarkan kita untuk melakukan banyak kebaikan terhadap orang lain karena sebelumnya kita pun -secara sadar atau pun tidak- pernah dan sering mendapatkan berbagai kebaikan dari orang lain. Siapa pun dia.

Kembali ke virus berbagi. Karena saat ini yang ada adalah dua putri cantik saya, Hufha dan Iqna, maka saya berkewajiban meneruskan virus berbagi tersebut kepada dua malaikat cantik saya itu.

Dalam berbagai kesempatan, saya dan juga istri saya yang memang se-ide dengan saya soal virus berbagi ini, mencoba untuk menyisipkan virus ini. Misalnya, kalau memasak sayur atau lauk untuk makan, istri saya sering melebihkan porsinya sehingga ada yang bisa dibagikan kepada tetangga terdekat. Dan anak saya Hufha, diantar adiknya Iqna yang bertugas mengantar makanan tersebut. Kecuali kalau itu berupa sayur panas, istri saya langsung yang mengantarnya, tentu dibuntuti dua malaikat cantik sebagai pengiringnya. Kami lakukan ini bukan berarti kami dalam kondisi berlebih, siapa pun yang pernah mengenal keluarga saya, tentu mengerti.

Di kesempatan lain, Hufha mulai akrab dengan pengemis, dia biasanya akan berlari ke dalam rumah meminta 'receh' untuk kemudian diberikannya ke pengemis tersebut. Saya amat senang memperhatikan dua peri cantik itu berlomba "berbagi", karena biasanya Iqna tidak mau kalah meminta 'receh'.

Tapi ada yang unik, beberapa waktu lalu saat kami menggunakan KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta. Seorang pengemis melintas di depan kami, segera istri saya menyodorkan receh ke anak kami. Hufha sigap memberikannya kepada pengemis itu. Ada yang kami lupa, bahwa di KRL, pengemis, pengamen, penyapu gerbong atau apa pun lebel dan predikatnya, setiap menit selalu lewat. Sementara Hufha dan Iqna terus menerus memaksa kami mengeluarkan 'receh', sedangkan persediaan terbatas.

Bingung kan? Susah juga memang untuk komitmen. Butuh perjuangan. Kepada Hufha dan Iqna yang terus merengek minta 'receh', saya bisikkan, "Kalau semua yang lewat sepanjang Bogor-Jakarta kita kasih, besok gantian abi yang minta-minta lho..." he he ...

Bayu Gawtama

Friday, November 26, 2004

Bantu Aku Menjelang Cinta

Berhenti di tepian asa
Lelah menatap hadirnya kasih
Saat pendarmu meniti arah
Menujuku engkau kembali,

Bantu aku menjelang cinta ...

dedicated for Vita

Thursday, November 25, 2004

Aku Masih Tetap Sederhana

Sesederhana bulan mencintai malam
Sesederhana bintang nan tersenyum
Sesederhana langit memayungi bumi
Sesederhana bumi tempat kembali
Demikian jiwaku, sesederhana senja ...

Gawtama nu tetep sederhana
paska ramadhan

Wednesday, November 24, 2004

Dibalik H-1

Ribuan orang tumpah ruah di jalan-jalan kota, ribuan orang memadati pertokoan, ribuan orang menyambangi mal dan pusat perbelanjaan, dan ribuan orang menghamburkan uangnya untuk satu hal: Menyambut Idul Fitri

Ribuan anak bersuka cita sambil menenteng pakaian, sepatu dan berbagai hal baru lainnya yang baru saja dibelikan ayah mereka. Ribuan mata bersuka cita di hari terakhir ramadhan karena esok pagi fajar Id menjelang.

Ada ribuan mata juga yang menitikkan air mata, sang kekasih akan pergi meninggalkan mereka, sementara tak satu pun dari mereka bisa mengira akankah bertemu dengan ramadhan di tahun depan. Hanya doa dan asa yang tersisa, semoga Allah berkenan menambah satu kesempatan lagi.

Ribuan tubuh meringsek bersimbah peluh di gerbong-gerbong kereta, ribuan mata terlelap lelah setelah berjuang berebut tempat di bis-bis yang mengantarkan mereka ke kampung halaman. Segerbong rindu mereka bawa dari kota, sejumput harap kan bertemu sanak famili, tak peduli berapa besar ongkos yang mereka korbankan; uang, keringat, letih, kantuk, bahkan juga darah.

Ribuan suara melengking, merobek langit mengagungkan nama Allah dari ribuan corong mikropon masjid, dari kota sampai ke desa, dari masjid besar, hingga langgar-langgar dan surau di kampung. Semakin malam semakin keras takbir mereka, sesemangat malam menyongsong sang Aidil.

Andai tangan tak kuasa berjabat, saat jasad tak sempat bersua, jutaan SMS terkirim sebagai pengganti diri tanda ingatan tak layu di hati.

Tapi,
Ada yang ingin saya ceritakan di balik riuh rendah ribuan orang-orang di atas,

Bi Iyoh, pembantu rumah tetangga saya, tak pulang ke kampung. Hingga malam ia masih harus berbenah rumah majikannya, agar esok tamu yang hadir tak mendapati sedikit pun noda di lantai, kusen, buffet, dan setiap sudut ruangan. Padahal siangnya, peluhnya belum lagi mengering seiring dengan selesainya kue-kue yang dibuatnya bersama majikan. Untuk semua itu, ia rela menggadaikan rindunya pada anak-anak, suami, juga orang tua di kampung halaman.

Mas Darmo, supir pribadi tetangga saya yang rumahnya di ujung gang, hanya delapan rumah dari rumah saya, hingga malam menjelang masih mengantar majikan dan anak-anaknya mencari pakaian baru, sepatu baru. Sementara pikirannya jauh menerawang hingga ke kampung, di pelupuknya terus membayang wajah sang buah hati, terngiang celoteh lucunya, "bapak pulang ya, jangan lupa bawa baju baru"

Hari terakhir ramadhan, saya sempat bingung dengan pemandangan kota. Entah dari mana datangnya, ribuan pengemis memadati kota seperti lebah-lebah saat menyembah ratunya, seperti sekelompok semut yang berebut secuil kue di lantai.

Saya sempat dibuat jengah dengan pemandangan satu ini, pikiran saya pun mulai nakal bahwa mereka sengaja di-drop oleh orang-orang tertentu khusus di hari Raya, hari Natal, dan tahun baru. Saya juga sempat protes dalam hati ketika saat hari raya tiba, tiap lima menit satu pengemis mampir di balik pagar rumah.

Aneh, kenapa saya harus jengah, kenapa juga harus protes? Memangnya lebaran cuma milik orang-orang kaya? atau memang begitu? tapi kenapa bi Iyoh dan mas Darmo tidak ikut lebaran bersama keluarga mereka?

Wallaahu 'a'lam deh ...

Bayu Gawtama

Tuesday, November 23, 2004

satu blok di tepi masjid

kalau diminta menyebutkan satu tempat yang hingga hari ini masih membekas di hati, tentu saya akan menyebut: satu blok di bagian dalam dekat pintu masjid at tiin, taman mini.

jika ada yang meminta saya menunjukkan lokasi yang paling berkesan -setidaknya hingga detik ini-, pastilah telunjuk saya mengarah ke: satu blok di bagian dalam dekat pintu masjid at tiin, taman mini.

dan seandainya hari ini ada yang memaksaku mengantarkan ke suatu tempat yang menurutku paling menenangkan, pastilah ia akan saya ajak ke: satu blok di bagian dalam dekat pintu masjid at tiin, taman mini.

di blok itu, saya menghabiskan sepuluh malam terakhir ramadhan 1425 h. lantai keramiknya, sering menjadi saksi tapak-tapak kaki ini berdiri tegap di setiap pertengahan malam hingga waktu sahur tiba. di lantai dingin di blok bagian dalam dekat pintu masjid at tiin itu juga saya menggelar sajadah hijau yang sedikit membantu menghangatkan tubuh saat diri ini bersimpuh, bersandar, berdiri, atau berbaring sekadar mengistirahatkan mata.

di blok bagian dalam dekat pintu masuk masjid at tiin itu juga, saya meletakkan qur'an, buku-buku bacaan, botol aqua yang sebagian sudah kosong, dan pakaian-pakaian kotor yang tak tercuci hingga akhir ramadhan.

(insya Allah) bukan cuma Allah dan malaikat, tapi blok bagian dalam dekat pintu masjid itu juga merekam semua pinta yang terajut di setiap kesempatan yang ada, di setiap letih yang tersisa, di setiap tangis yang terburai, di lebam yang membekas, di setiap ketukan hati yang menghiris, di setiap malam yang membisu, di setiap fajar yang mencerahkan, di setiap siang yang terik, di setiap senja yang menawan, dan di setiap diamku yang tak mengalirkan satu kata pun.

satu harap cemas terbersit di hati, semoga Allah berkenan mendengar pintaku, agar kembali mempertemukan diri ini dengan sang kekasih, ramadhan.

Monday, November 22, 2004

SMS-SMS Lebaran Guwe...

Total ada 61 SMS yang diterima dari H-2 sampai H+7 kemarin, tapi berhubung sebagian udah terhapus, selain juga ada SMS yang isinya sama cuma beda subjeknya doank, ya yang dimuat cuma sebagian aja deh...

from Uwi (adiknya Iin):
Selepas ramadhan semoga mutiara kesabaran, keimanan dan mahabbah pada Allah selalu terpatri dalam diri, seharmoni dengan gelombang kehidupan yang tak selalu datar... maaf lahir batin

from Niar (salah satu sahabat terbaik gw yang paling jago bikin gw tersenyum):
Semoga kharisma ramadhan menjadi pencerah hati kita di hari kemenangan ini dan seterusnya. Taqobbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1425 H.

from Unang (ini rekan seperjuangan di Majalah Surga):
Taqobbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin. Semoga amal ibadah, doa dan amal kita diterima dan diijabah-Nya (sehingga) kita menjadi manusia fitri, jujur dan sabar. Amiin.

Lutfhi (yang punya perpustakaan Tegal Gundil dan Sanggar Barudak, Bogor):
Tetesan air mata melepas kepergian kekasih tercinta :) senyuman manis menyambut hari kemenangan :), Minal Aidin Wal Faidzin. Met Idul fitri 1425 H.

from 081315400xxx (gak tau, gak kasih nama, tapi ya mungkin the secret admirer kali ya?):
Bila ada kata menyelipkan dusta, ada sikap membekas lara dan ada langkah menoreh luka, semoga masih ada maaf yang tersisa. Minal Aidin wal Faidzin.

M Setiawan (Sahabat di PII, salah satu teman setia di i'tikaf 10 hari terakhir ramadhan di at tin kemarin):
Sang Cinta tlah terpisah, jiwa damai merangkai makna, berharap hati kembali suci dalam hidup penuh cinta Ilahi. Ikhlas hati 'tuk saling memaafkan. Maaf lahir batin.

Faisal (Bingung nih, Faisal yang mana ya?):
Pas Idul Fitri datang, pas ramadhan pergi, sebelum operator sibuk, sebelum sms pending melulu... Minal Aidin wal Faidzin.

Edi Mulyono (Sahabat PII, Teknisi Pesawat Terbang):
Untuk lisan yang tak terjaga, janji yang tak terpenuhi, hati yang kerap berprasangka, dengan penuh keikhlasan mohon maaf lahir batin.

Enur Herdiana (orang paling ganteng di kantor):
Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya idul fitri 1425 H (gitu doank?)

Nung Subarga (sahabat yang paling punya tempat di hati):
Taqobbalallahu minna wa minkum, selamat Idul Fitri, Maafkan kesalahan kami.

Indra T Ariandi (yang paling Gokil dan Jayuz di 1001buku):
Selamat hari raya Idul Fitri 1425 H, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin. (tumben normal lo ndro?)

Raudhatul Jannah (calon dokter, di UI):
Selamat Idul Fitri 1425 H, mohon maaf lahir batin

Andre (dari Penakom dan yang gawangin Milist Penulis Kreatif):
Selamat merayakan hari kemenangan, mohon maaf lahir batin

Arul dan Via (suami istri paling kompak):
Syukurlah bisa baca SMS ini... buah duku buah kedondong, maafin aku dong...

Deka Kurniawan (Sahabat yang paling bisa bikin gw menangis):
Fitrah sejati adalah meng-Akbarkan Allah dan Syariat-Nya di alam jiwa, di dunia nyata, dalam segala gerak, di sepanjang nafas dan langkah. Semoga seperti itulah diri kita di hari kemenangan ini. (betulkan Dek, ane nangis lagi nih...)

Ambar (relawan 1001buku, anak SMA Sang Timur, non muslim tapi baik banget):
Ikut ngucapin met lebaran ya, mohon maaf lahir batin juga ya

Tary (anak FLP nih, penulis yang udah mulai lupa ame abangnya nih...):
Selamat Idul Fitri 1425 H, mohon maaf lahir batin

Ali (Guru SMP Al Azhar, kocag banged orangnya):
Anda jemari tak kuasa berjabat, setidaknya kata masih dapat terungkap, tulus hati memohon maaf lahir batin ya...

Teguh Juwarno (PR Manager RCTI):
Mas Bayu, Salam dari kami, mohon maaf lahir batin

Iin (kakaknya Uwi, cantik, baik, ups...):
Firdaus yang indah lagi berseri, menjadi hiasan di Aidil Fitri, SMS dikirim pengganti diri, tanda ingatan tak layu di hati. Mohon maaf lahir batin.

Dewi Ma'rifat (yang punya Butik Rumah Kelambi, cewek paling ramah dan baik hati):
Taqobbalallahu minna wa minkum, taqobbal ya kariim, mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan ucapan dan tindakan kami.

Yesi Elsandra (Mahasiswi S3 di Unpad):
Eid Mubarak, taqobalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin. semoga kita menjadi lebih bertaqwa, lebih kreatif, inovatif, prestatif.

yang lainnya, maaf ya gak dimuat. udah kebanyakan nihh...
tapi kalo mo ngirim masih diterima kok, ketik: Lebaran nama Pesan, kirim ke 0818922655, tarif reguler.






Thursday, November 11, 2004

Apa Pantas Berharap Surga?

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah …

Bayu Gautama
di penghujung Ramadhan

Tuesday, November 09, 2004

Bersihkan Diri
Ikhlaskan Hati
Raih Jati Diri
Di Hari Yang Fitri


Bayu Gautama beserta keluarga (Ida Aryani, Hufha Alifatul Azka dan Iqna Haya Adzakya) Mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1425 H


Semoga Kemenangan Id tahun ini menghantarkan kita kepada Ramadhan tahun depan

Thursday, November 04, 2004

Yang Bersedih di Hari Raya

Meski bukan baru, tapi baju yang saya pakai masih terlihat seperti baru. Bersih dan rapi. Begitu juga yang dikenakan istri dan anak-anak saya. Tangis haru dan tawa gembira mewarnai suasana lebaran hari itu. Sepulang sholad Id, anak-anak cantik kami berlarian memburu nenek mereka untuk meminta cium. Setelah sebelumnya berhamburan di pelukkan kami, mengecup lembut tangan dan pipi kami. Saya dan istri membalasnya dengan kecup terkasih. Sebelum berlalu, tak lupa mereka meminta 'jatah' uang lebaran.

Ada air mata yang menetes saat kutatap wajah tua di hadapanku. Terlalu lemah hati ini untuk menahan rasa yang begitu dalam terhadap ibu, sesosok anggun yang selalu ingin kucium kakinya. Kurengkuh kaki letihnya, kunikmati wangi cintanya seraya berharap kelak mendapatkan surgaku dari sana. Lalu, mengalirlah doa dan kalimat penuh kasihnya untuk anak yang sering tak tahu membalas budi ini. Kemudian satu persatu adikku tersungkur di kakinya.

Aneka kue khas hari raya yang sejak subuh telah tersedia di meja ruang tamu nampaknya tak sabar menanti untuk disentuh. Saya dan istri, tentu saja takkan melewatkan hidangan khas lebaran di rumah cinta itu, Laksa Betawi. Tidak hanya anak-anak ibu yang menikmati Laksa masakan ibu, tapi juga sahabat-sahabat saya yang sengaja datang untuk dua hal; silaturahim dan Laksa!

Begitu indah dan harunya hari raya kami, hingga saya hampir terlupa akan sebuah janji jika saja tak diingatkan seorang sahabat. “Jadi kan kita ke sana?”

Berenam kami memacu kendaraan menuju tempat yang sudah kami rencanakan untuk dikunjungi. Untuk sementara, kami tangguhkan rencana silaturahim ke beberapa teman lama. Tak lebih dari lima belas menit, kami sudah sampai di depan sebuah rumah yang kami tuju.

Sebaris senyum belasan anak-anak dari halaman rumah menyambut salam kami. Seorang dari mereka yang paling besar mempersilahkan kami masuk …


Rumah kecil itu, dinding-dindingnya terlihat terkelupas di beberapa sisi. Tak ada satu pun anak yang mengenakan baju baru, sepatu baru, juga tak yang terlihat tengah menghitung-hitung uang hasil pemberian saudara-saudara mereka. Tak ada kue khas hari raya. Tak tersedia ketupat lebaran, apalagi semur daging atau rendang pelengkap sayur bumbu kuning. Air yang tersedia untuk kami pun hanya air tak berwarna, jelas, karena mereka tak punya sirup.

Di rumah panti anak yatim itu, hanya ada mata-mata kosong menanti uluran tangan para dermawan. Mereka tak pernah lagi menikmati saat-saat indah di hari raya dengan aneka hidangan, pakaian bagus, cium dan peluk hangat dari orang-orang terkasih. Tak lagi mereka dapatkan punggung tangan dan pipi untuk dikecup sepulang sholat Id, juga kaki-kaki mulia tempat mereka bersimpuh, bahkan sebagian besar mereka pun tak pernah tahu wajah orang yang pernah melahirkannya.

Sebagian mereka mengaku terus bertanya, kenapa Allah membiarkan mereka hidup tanpa orang tua? “Apakah Allah tak ingin melihat saya bermanja dengan ibu?” tanya Ardi, salah seorang penghuni panti berusia delapan tahun. Tidak sedikit dari mereka terus berharap Allah mengembalikan orang tua mereka agar mereka bisa merasakan menjadi anak, yang mendapatkan kasih sayang orang tua, agar ada tangan yang dikecup saat berangkat dan pulang sekolah, agar ada satu kesempatan bagi mereka untuk menikmati manisnya berbakti.

Mereka seolah tak peduli dengan aneka makanan dan hadiah yang kami bawa. Bukan itu yang mereka rindui. Mereka mengaku sudah terbiasa hidup tanpa berlimpah makanan. Bersekolah tanpa uang jajan pun sudah keseharian mereka. Ada yang lebih mereka rindui di sepanjang hari, terlebih di hari raya ini.

Akbar, lelaki kecil berusia enam tahun menghampiri dan berbisik di telinga saya, “Kak, gimana rasanya tidur ditemani mama?”

Gagal saya menahan air mata ini ...

Bayu Gautama

Monday, November 01, 2004

Multilevel Kebaikan

Ada teman yang pernah bertanya, “apa sih yang membuat kamu senang membantu orang lain?”

Saya berikan dia dua jawaban, pertama, karena Allah senang dengan orang-orang yang suka membantu saudaranya. Allah akan memberikan kemudahan bagi orang yang memudahkan orang lain. Kedua, saya berjanji kepada seseorang untuk terus berbuat baik membantu orang lain.

“Seseorang …?” teman saya makin bingung.

Baiklah, saya akan perjelas.

Beberapa tahun lalu saya pernah berada dalam kesulitan keuangan. Kuliah saya terancam berantakan karena saya tak mampu mengumpulkan uang kuliah dari sisa-sisa gaji saya yang memang kecil. Saya nyaris putus asa dan berpikir akan mengakhiri kuliah saya hanya sampai di tingkat dua saja. Biarlah tinggal mimpi, pikir saya.

Disaat kebingungan dan putus asa melanda itulah, ada seorang sahabat yang datang menanyakan kabar saya dan juga studi saya. Karena kami biasa berterus terang tentang segala hal, saya katakan kondisi saya baik-baik saja. Tapi kuliah saya yang terancam gagal. Mendengar pengakuan saya, sahabat tersebut kemudian menawarkan bantuan sejumlah uang untuk membayar uang kuliah saya yang tertunggak.

Tanpa basa-basi, saya langsung menerima tawaran tersebut tanpa berpikir terlebih dulu bagaimana nanti menggantinya.

Di akhir semester empat, saya sempat bertanya kepadanya perihal bantuan yang diberikan kepada saya. Ada yang membuat saya heran dengan jawabannya, “Saya hanya berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain”

Kemudian ia memperjelas,

Ia pernah mendapati ibunya yang sakit keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Namun tak sepeser pun uang yang ia dan anggota keluarga lain miliki saat itu. demi kesembuhan ibunya, ia nekat menghubungi satu persatu orang yang dikenalnya yang mungkin bisa membantu biaya pengobatan. Hingga akhirnya, ada seorang sahabat lamanya yang dengan cuma-cuma membiayai seluruh biaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan sang ibu.

Terheran sahabat itu bertanya, “Kenapa kamu mau membantu saya?”

Jawabnya, “Karena saya telah berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain”

Menurut cerita sahabat saya, sahabat lamanya itu pernah pula mendapati kesulitan dalam hidupnya. Ia hampir tak tahu kemana lagi meminta bantuan hingga ia bertemu dengan seseorang yang tak dikenal sebelumnya. Setelah berterus terang, orang tak dikenal itu pun memberikan apa yang dibutuhkan sahabat lama itu. kepada orang itu ia bertanya, “Anda sebelumnya tidak mengenal saya, kenapa Anda mau membantu saya?”

Anda sudah bisa menduga jawabnya bukan? Tapi ada pertanyaan kedua dari sahabat lama sahabat saya itu, “Bagaimana saya mengganti kebaikan Anda ini?”

Orang tak dikenal itu menjawab, “Berjanjilah untuk melakukan banyak hal untuk membantu kesulitan orang lain. Itu lebih baik nilainya daripada mengganti apa yang telah saya berikan”

Begitulah seterusnya hingga saya tak pernah tahu siapa yang pertama kali menyulam jaringan amal kebaikan ini. Sungguh, saya tak pernah tahu. Hanya saja yang pasti akan saya lakukan setiap kali memberikan bantuan kepada orang lain, saya akan berkata, “Berjanjilah untuk melakukan kebaikan yang sama terhadap orang lain yang membutuhkan”

Bayu Gautama